Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2009

Sajak-Sajak Ahmad David Kholilurrahman

http://www.infoanda.com/
Malam Tahun Baru di Gaza

1/
Tengok, di langit malam negeri-negeri Barat,
Orang ramai menyala kembang api
Dentuman pesta semalam suntuk tepi perapian

Diplasa kota, taman dan jalan bermandi cahaya
Pekik-pekak terompet bersahutan,
Tugu, patung-patung tua kusam tegak bisu

Serakan jurai kertas, sampah bertumpukan

2/
Di Gaza, langit murup-terang
Pesawat tempur menyala kembang api
Mulut-mulut tank baja menabur percon

Gugur mesiu diseling desing peluru,
Dan terompet ambulans meraung-raung,
Serpih tulang-daging berkecai, seusai
Tumpah darah, isak-tangis, sedu-sedan sansai

“Malam ini, kami pesta pora”, racau serdadu Zionis
Siang-malam membantai si tua bangka Palestina

3/
Aku menyeberangi sempadan Rafah,
Wahai Anisah Filistiniyah, tunggu daku dipintu
Kafiyeh hadiah ulang tahun darimu terselempang dileherku
Cakap pada Haniyeh;”Jangan pernah terbetik takluk!”.

Abaikan Tuan-tuan besar sibuk debat dimeja diplomasi
Beribu-ribu kali berunding, berjuta kali digunting;
Oslo, Wye River, Madrid dan Camp Dav…

Sajak-Sajak Esha Tegar Putra

http://www.pikiran-rakyat.com/
Duri dalam Kopi

masokhis. sebut aku duri dan kau akan menemukanku
sebagai lelaki tanpa mata hati, lelaki di gulungan ombak
lelaki yang berseluncur lewat matamu. sebab hari telah
lain, sayang, rinai telah membenamkan pulau-pulau kita
dan kau berdayung dalam diri yang amuk. tetap aku duri
menusuk waktu dengan lirikan yang runcing.

sadistik. menemukan lurah berbatu, kita. matamu yang lain
menelan jejak di sepanjang jalan. dedaun itu remuk dan
sisa kopi dalam plastik tinggal dedak, juga bayangan silam.
lurah telah mengubahku jadi maut, sayang, dan percakapan
akan kutelan sebagai lengah yang tertinggal.

Kandangpadati. 2007



Cerita Pinangan
--Iyut Fitra & Zarni Jamila

kupinang kau seumpama puisi, lekat di hati
kupinang kau yang menari, bersentuhlah jemari
: mari bertarian di puisi!

penari itu telah menghapus catatan silamnya
untuk dirimu berpuisi di lembaran barunya,
sepanjang dirinya sanggup melentikkan jemari.
dan desember, kubayangkan kertas-kertas merah jambu
berloncatan dari…

Sajak-Sajak Indrian Koto

http://www.pikiran-rakyat.com/
Hujan yang Tersesat

aku menggenggam tanganmu lagi
sebentuk usaha terakhir mempertahankan
diri dari kesakitan yang panjang. sebab hujan
akan turun dari tubuh kita, mula-mula.

mestinya hujan tak turun di sini
di musim kemarau yang terlambat pulang.
tapi dunia bukan hanya milik
kita yang hanya bisa berkata-kata.

juni, bantalku basah, sapardi.
aku terapung di ranjang yang menjelma
kolam renang. langit mendung, barusan
hujan istirah, barangkali ia capek
melarikan diri dari kerja main-main ini.

aku menggenggam tanganmu lagi,
serupa masa kanak yang tidak
memerlukan lambang dan tanda-tanda.
dunia hanyalah kepingan-kepingan lukakata
yang merapatkan diri sukarela.
malam serupa permainan kecil
memaksa kita masuk ke ranjang, ke bibir
rahim. usia melaju begitu jauh. tak ada
stasiun di sini. segalanya
melewati rel panjang menuju langit yang barangkali
segera runtuh. seperti tubuhku yang tenggelam
kian dalam. terbenam ke dasar hatimu.

"sukma, tubuh ini milikmu," teriak seorang penyair
y…

Sajak-Sajak Indra Tjahyadi

http://www.suarapembaruan.com/
Jalan Menuju Masa Lalu

Bulan pipih tugur di langit suntuk. Di likut senyap kabut
tubuh yang ringkih hanya menyisakan batuk. Selalu
kubaca wajahmu di sela sunyi dan rasa kantuk. Wajahmu
adalah sebentang jalan menuju masa lalu, tempat hujan dan rasa
sakit menciptakan kebisingan tak berujud.
Kesunyian adalah sehelai daun yang jatuh di malam larut.
Kota makin bisu, makin sumuk. Kegelapan menyerap
segala pengetahuanku yang cuma seteguk.
Ingatan nafasmu adalah pisau, mengoyak habis
segala harapan dan gerak batinku. Bulan pipih tugur di langit suntuk.
Derita membawaku sampai pada kekelaman tak berbentuk.
Hanya nyala lilin yang kecil yang tertangkap oleh tatapanku.
Seonggok makam batu meretak di bumi jauh. Sesosok
hantu terus gentayangan dari kampung ke kampung,
makin jauh dari sorga, makin jauh dari peluk.
"Tebing begitu tinggi, kasihku, hati begitu sepi
begitu perih begitu pedih merindu!" Sebab kita tak
lagi bertemu, kini kulupakan segala percakapan. Dan bulan
pipih tug…

Sajak-Sajak Oka Rusmini

http://www2.kompas.com/
Gestural
(bersama AH)

"aku mencium daging tumbuh. inikah judi? ketika perempuan berebut membuka pintu, melepas pakaian. membuang tubuh di kain hitam atau putih. melebarkan paha, mencari lubang, lalu menusukkan besi. perempuan berwajah pucat itu melambaikan tangan. tanpa senyum, tanpa perasaan, menyumpahi kami dengan kata-kata kasar. meludahi kami dengan kutukan"

"masuk! timbang dagingmu!"

"keping awan di dagingmu, telah membunuh calon anak-anakmu"

2001



Ritus

"aku tak lagi memiliki tubuh, apalagi hati. Apa kau masih mengenalku? Seorang laki-laki tanpa detak jam di tubuhnya. Bahkan tak mampu kumiliki tubuhmu. Aku takut warnamu, aku takut wujudku sendiri!"

"usiamu singkat. Carilah tubuh yang lain, kau tanami daging, gumpalan darah, dan air mataku. Kelak kau temukan ladang puisiku, mungkin dia rapuh dan penuh penyakit. Kau tak akan mengenalku"

2001

Sajak-Sajak Esha Tegar Putra

http://pr.qiandra.net.id/
Sepatutnya Ini Perkabungan 1

di padang, antara batu-batu banyak ia selipkan
sedahan kopi
yang semalam baru ia patah dari ladangnya

maka bersabarlah sebelum tumbuh, dagang bakal dihanyutkan
melewati pantai yang tak lagi mengekalkan kebersuaan
badan-badan dermaga kian tipis.
digerus tajam garam
setajam rindumu, setajam cintamu, pergumulan kian menjauh.

duh sekian panjang jalan dipepat, setiap jejak dituahkan
"aku menyamun malammu, merompak tidurmu.
di sudut mana pun kau bersembunyi,
aku akan tetap menyauhmu!"
di padang, di antara batang-batang kopi
yang tumbuh merbak (dan sekian dahannya tentu telah dipatah orang lewat)

kau tak ingat
bahwa apa dikebat di tiap uratnya telah menjadi kelupaanmu?

2008



Sepatutnya Ini Perkabungan 2

telah diendapkan kau ke rimbanya
ke sarang kunang-kunang yang gatal cahayanya
kau telah dipasangkan sayap,
sehabis belajar bunuh kupu-kupu
(sayap mengkilat, sayap penghormatan)
maka kini, kau jadi induk dari kunang-kunang
induk yang bersayap lebar dan men…

Sajak-Sajak Sapardi Djoko Damono

http://www2.kompas.com/
(Den Sastro meninggal juga, akhirnya. Di sebuah laci di lemari kamar tidurnya ditemukan berkas-berkas kertas yang bertulisan tangan, sejumlah sajak yang semuanya tanpa judul. Mungkin-kata mereka-sajak-sajak itu ada kaitannya dengan seorang perempuan yang bernama Rahayu, tokoh rekaan yang ada dalam benak lelaki tua itu.)

Sajak Tujuh

Cinta itu sebilah pisau
yang baru selesai diasah,
sekaligus sebutir limau
yang di atas pinggan terbelah.



Sajak Delapan

"Apa yang memantul di permukaan air itu?" tanyamu, pelahan.
Sisa siang, sisa genangan sehabis hujan,
sisa langit di antara daunan basah dan selembar awan -
sisa percakapan yang melelahkan tentang harapan.
Kau menghindar dari genangan itu, memegang erat-erat
tanganku, "Ada yang memantul di air kotor itu," katamu;
waktu itu sisa matahari sudah susut ke arah barat,
menawarkan warna kemerahan, "Cahaya itu," kataku.
Di perempatan kau menunjuk ke papan reklame itu,
aku tak begitu paham apa maksudmu,
tak tahu hu…

Sajak-Sajak Toni Lesmana

http://www.pikiran-rakyat.com/
Kalakay

Kuring kalakay
Pulas asak tambaga. Layung nu agung
Nitipkeun kekecapan sapanjang urat

Kuring kalakay
Muntang kana pituduh angin
Tepung ogé jeung taneuh kadeudeuh

Masrahkeun geugeut
Mulangkeun raga
Apan sukma geus dipetik imut waktu



Di Kawali

Aya sajak jojorélatan
Ngaracaan tunggul purnama tunggul waktu
Kuring ngalungsar dina tapak dampal suku

Aya sajak sasar
Midangdam akar cahaya akar mangsa
Kuring kumarayap dina tapak dampal leungeun

Aya sajak katalimbeng
Sasab ti batu ka batu ti gurat ka aksara
Kuring leyur ngamalir dina garis-garis simpé

Aya sajak nu salawasna néangan raga



Rohang Rusiah

Lar sup ka rohang anjeun
Can kungsi kasampak
Ukur seungit kasturi
Naratas balébat

Hayang tepung jeung anjeun
Jempling émpang
Ngaliwatan sarébu lawang
Sajak dibebekel

Geus lagedu
Pulang anting saban janari
Sakadar hayang nepikeun simpé
Bet kadungsang-dungsang dina dada sorangan

Boa enya anjeun leuwih betah dina urat beuheung
Boa enya anjeun simpé



Heubeul Isuk

Urang néangan panonpoé dina bacacar kal…

Sajak-Sajak Baban Banita

http://pr.qiandra.net.id/
Almanak

ibu selalu melarangku
menyobek almanak
padahal ingin sekali
aku membuat topi pesta
dan perahu
bagi pacar manjaku

--bahkan almanak 10 tahun lampau
yang ada catatan burungku disunat 22 Desember--
ibu memang rajin
sejak aku lahir almanak
tersimpan rapi di lemari

kini ibu sudah pulang
berpisah waktu dan tak memerlukan almanak lagi
almanak-almanak itu kulebur jadi kertas daur ulang
dan kubuat almanak baru

di almanak baru ada catatan ibu yang tak mau hilang
yaitu saat burungku disunat 22 Desember

maka jadilah almanak baru itu
semua bergambar burungku
yang pucat meneteskan darah
di tangan ibu

2005



Daun Yang Gugur

"daun itu gugur karena dipukul angin," ucapmu
"bukan. Itu karena jarum waktu," kilahku

dan sepanjang siang itu kita bertengkar kata
tentang daun yang kita jadikan perahu
dalam pelayaran menuju laut
kita tak pernah berebut tempat
hanya kadang-kadang kau memelukku
di setiap kelokan yang menganga ular

"hai, daun itu gugur karena kita ingin
menjadikannya perahu.…

Sajak-Sajak Fitra Yanti

http://pr.qiandra.net.id/
Pelampung Keramba

kukira, angin hanya kabar biasa
menemani angguk cemara
ragu
kala pagi jatuh di laman gigil
penuh lunau

"bangun, kau mesti meraih subuh di mata pukat, sayang"

lantunan ungu serupa cambuk
tiap sebentar berkesiur
menggoyang pelampung keramba
sesekali mengkuncindani mata pancing
orang-orang berbaju dingin
dengan lesung pipi merona apel
riang menghadang rindu
pada sekawanan kulari

dibawa bergelut ke bibir
bila ia kesepian amis

begitulah aku,
melewati langit
tiap pintu waktu berderit

namun, senja selalu patah
di ujung dayung
terus menepi
ke sebuah dermaga latah
dan, aku
terus di belah risau
tentang esok yang tak terjual

"biarlah, sayang meski sisik-sisik
bertumbuhan di sebatang badanmu
besok tetaplah kayuh sang subuh dengan semangat fajar"

Kampung Gigil, Desember 2007



Sepi Itu, Belum Juga Padam

semua sepi padam sendiri*)
tapi tidak padaku
aku mengeja ngilu
sajak-sajak
terlulur
di gurik waktu
selalu saja tega
melubangi aku

bayangan kabut terus memisau
di ujung mata
dan t…

Sajak-Sajak Pandapotan M.T. Siallagan

http://www.lampungpost.com/
Sajak Nikah
: hanna p

jika kita menikah, aku ingin anak-anak kita lahir jadi burung
dan membangun sarang di rambutmu. hidup pasti tak pernah sepi
akan selalu kutemukan engkau dengan sanggul yang penuh cericit
seperti memasuki lagi masa kanak-kanakku di dusun terpencil
selalu kutiup seruling di situ, mengiringi burung-burung bernyanyi
bukankah kita bertemu dalam melodi hidup yang melengking-lengking?
jika kita menikah, aku ingin anak-anak kita lahir jadi burung
dan membangun sarang di rambutmu. hidup pasti selalu sejuk
senantiasa akan kutemukan engkau dengan sanggul beraroma hutan,
ilalang, juga rumput-rumput yang dirajut jadi sarang itu
dan akupun akan selalu ingat sejarahku: lelaki gunung
bukankah kita telah berjanji seteguh bukit-bukit?

Kamarpilu, Pekanbaru, 2004



Ingin Mati

lewat lengang yang mengaliri kamar
derita mengirim bayangmu ke lorong tidurku
wajahmu mengapung di atas gelap
matamu merangkai lengang jadi kepingan usia
dan mimpiku saling berkejaran dengan rasa takut
seba…

Sajak-Sajak Skylashtar Maryam

http://kompas.co.id/
SEBUAH PERCAKAPAN TENTANG CINTA

"Ibu tak suka puisi cinta yang kamu tulis. Gantilah!" kata guruku
Aku heran lalu mengambil carikan kertas yang ia berikan. "Kenapa?" tanyaku penasaran
"Suram," gumamnya. "Tak cocok untuk gadis seumuranmu."
"Tapi cinta memang pekat, legam, dan gelap, Ibu."
"Tidak, anakku. Cinta itu merah muda."
"Lalu sejak kapan cinta memiliki warna?"
Ibu guru tercenung
"Tapi Ibu tidak suka dengan apa yang kau tulis."
"Karena apa?"
"Cinta legam tak cocok untuk gadis seusiamu."
"Memangnya cinta bertanya dahulu'berapa umurmu?' sebelum ia mengoyak hatiku?"
"Dengarlah, cinta itu indah. Kamu saja yang tak tahu."
"Apa yang Ibu tahu tentang cinta? Katakan padaku!"
"Mmm...cinta membuat hati kita serasa lapang."
Ia pasti bohong, elak pikiranku. "Rindu yang beranak pinak di dada membuatku sesak, Bu. Bahkan tak ada lagi tempat…

Sajak-Sajak Agus R. Sarjono

http://www.pikiran-rakyat.com/
The Rock of Sadness

Aku pun bagai kibaran bendera dari negeri-negeri
yang gugup untuk merdeka. Perempuanku, dengan nanar
kupandangi wajahmu, keabadian yang terkoyak
oleh lenganku yang lancung. Gemetar nadiku
menghitung tahun-tahun bersamamu. Hari-hari bunga
hari-hari air mata, hari-hari kesenduan dan gelak tawa
yang memutihkan rambut kita berdua. Betapa aku tahu
tak ada rumah rindu selain ringkih tubuhmu. Tak ada
tempat pulang selain lapang senyummu.
Dari gelisah hutan dan debu jalanan; bising klakson
metropolitan dan pasar-pasar, keringatku menjelma
asap yang mengotori udara dari pengembaraanku
yang gamang karena saat senyummu menjadi air mata
aku tahu pintu dan jendela menujumu telah tiada.
Aku pun mengerti, jika saat itu tiba, meski kugali-gali peta
dalam diri, kucari-cari pintu dalam kalbu, sesungguhnya
tak bakal kutemui lagi namaku di semua alamat semesta.



Tea on the Rock

Kenangan padamu bagai butiran es
mengambang dalam segelas teh tawar.
Dan rambut malam tergerai menye…

Sajak-Sajak Doel CP Allisah

http://m.infoanda.com/
BULAN SERIBU BULAN

akan datang doa-doa yang mengalir kerelaan tanpa batas tinggal di dalamnya adalah impian dan kerinduan terdalam dari harapanku kepadamu

masa cemerlang itu adalah udara yang kuhirup senantiasa dan anugrah keindahan itu adalah titik terang dalam langkahku yang payah

merindukanmu kekasih, adalah nikmat terindah dalam beku malam yang melelapkan dan kesempurnaan lega adalah, kembali ke dalam dekapmu yang hangat melayang-layang dalam harum doa-doa serta shalawat sepanjang malam

membayangkan senyummu kekasih, tinggallah segala beban di luar dan aku melambung ke dalam sunyi dalam kidung surgawi paling tinggi biar tak terpisahkan lagi!



NYANYIAN MIRIS

dalam riuh gerimis, engkau pulang kesenyapan abadi dan rentangan kabut airmata seribu dewa melelehkan genangan darah pada langit terbuka aku nyanyikan puji-pujian laut lengkung daratan jauh pada batas tatapan yang menenggelamkan isak tangismu semalam

pada kekosongan yang menyesakkan seribu hari sia-sia kita persia…

Sajak-Sajak Mochtar Pabottingi

http://kompas-cetak/
Selalu Aku Menjelma dalam Hujan

Pada mulanya adalah panah-panah air
yang menari berloncatan di atas genang
di tabuh tambur daunan pohon-pohon pisang
Pada mulanya adalah mandi telanjang
di deras hujan di pancuran rumah berjenjang
di tingkah jingkrak kaki-kaki kencur
di kitar deru liuk batang-batang nyiur
Dari desa. Aku menjelma
Dan tumbuh. Dalam hujan
Di kota aku hadir pada lengkung kanopi kaca
waktu di atasnya awan berguguran
Aku hadir pada tetes-tetes gerimis saat menjelma sungai-sungai kecil
yang saling berpacu di kaca jendela
saat pesawat meluncur lepas landas
Aku hadir pada rintik di alismu yang kuseka dengan jemari
sebelum ciuman tak terlerai
Aku hadir pada siut angin baur hujan deru jalanan. Sebelum kasih pupus
Diringkus desau
Di suatu mesin waktu. Siapakah membuka bendungan raksasa
di angkasa. Sehingga rindu kembali menyiram
Siapakah melepas partikel-partikel masa kecil. Sehingga menyerbu
berseliweran. Menyatu dalam limbubu
dalam deru angin daunan bayang-bayang
Siapakah di sana it…

Sajak-Sajak Ahmad Nurullah

http://kompas-cetak/
Pada Sebuah Resepsi: Pengantin Purba

1

Ia datang dari sebuah dunia yang jauh
dari ubun-ubunku: "Ketika ayah dan ibumu berpengantin
di mana kau ada?"
Ruang pecah. Waktu berhambur
dan melengkung jadi sungai
Detik-detik mengucur deras
Berlari dari muara
Di tepinya aku menyusur
menyisir jejak yang tenggelam:
pada batu-batu
pada moyang rumputan
pada jam yang berlumut
detik-detik yang karatan.


2

Masa silam bagai kawanan serangga
merayap bangkit dari punggung jam:
Bukit-bukit cair
menciut lagi jadi puting
jalanan kelupas
berseruak belukar:
kadal, cengkerik, ular, dan belalang
mengerut lagi jadi telur
Pohonan surut
pulang lagi pada bijinya
Kotoran sapi melayang
ditelan lagi lubang anusnya
Kerut-kerut wajah luntur
Dunia kembali jadi muda.


3

Kampung-kampung tajam oleh bau dengkul dan garam
Dan kernyit pikulan para pedagang
dan celoteh ringan para petani
berhambur dari celah-celah waktu
dari detik-detik yang tersimpan
pada tabung ingatan. Atau semacam ingatan.


4

Sore terbit. Orang-orang baru pulang dari…

Sajak-Sajak Fitrah Anugrah

http://www.sinarharapan.co.id/
Bulan Kawin

Bayangkan aku menuju kotamu, masuki rumahmu, melamarmu berijab-qabul
depan penghulu,baca sahadat, disaksikan orangtua, serahkan mas kawin
sejumlah uang, lalu pegang tanganmu pasang cincin emas di jari dan
kucium lembut hmhmhm...kubimbing ke pelaminan, melihat para tamu beri
amplop, jabat tangan mereka, akhirnya kita kawin, kuajak kau ke kamar
penuh bunga dan kado.

Bayangkan aku hadir ke pesta nikahmu, melihat engkau bersanding di
kursi pengantin bersama dia, kau bersedia tapi dia tersenyum, dia
pegang tanganmu-kau genggam kembali tangannya, suapin engkau dan kau
suapin dia, kau+dia hampiri aku bersalaman, aku pulang ucapkan
“selamat” sedang kau+dia masuk kamar, tutup pintu, tak ada suara lagi.

Bayangkan aku menulis puisi di sepi malam dalam kamar sempit, rokok
tinggal sebatang, tak cukup uang buat beli, tinggal selembar buat
sarapan, lalu kurangkai kata cinta buatmu yang jauh, tiba-tiba dewi
bulan hampiri, ajak aku bercumbu dalam istana miliknya, habiskan ma…

Sajak-Sajak Ahmad David Kholilurrahman

http://batampos.co.id/
Dalam Perkekalan Rindu (3)

Sadarlah dirinya, dipandang musafir fakir;
Berlain bangsa, berbeda bahasa
Terasing jauh dari tanah kelahiran,

"Alamak, dizaman kini menyisa kisah cinta ala istana".
Patuh tunduk pada duli kuasa kaum bangsawan.

Sadarlah dirinya, ditidakkan digelanggang mata ramai;
Siang-malam duduk termenung, menanggung jatuh rindu
Pada gadis perawan kota tua bersejarah.

Seujung kuku pun, tak gentar jiwanya,
Ingin menyatakan kemerdekaan asasi hatinya

Sadarlah dirinya, selama ini menempuh rintangan;
Tingkahnya dipandang salah,
Menjatuhkan airmuka Tuan terhormat

Mencampak harga diri kalangan atas
Dituduh mengacau jalan pikiran bangsa feodal

Sadarlah dirinya, sengaja disisik-siang;
Setelah ditimbang dacing bendawi,
Nasibnya tak ubah pesakitan terpasung

Loyang tercampak dari emas,
Benang tersisih dari sutera

Heliopolis, Cairo, 15 Maret 2008



Dalam Perkekalan Rindu (4)

Belum lagi runtuh gunung harapanku,
Menanggung gemetar cinta tersunyi
Seperti gelegas rindu yang tak kutahu…

Sajak-Sajak Sindu Putra

http://kompas-cetak/
Namaku Rama-rama

mengenakan topeng rama
para penari yang mengelilingi api itu
menangkapku:
"aku namakan kau rama-rama"
maka namaku rama-rama
nama yang mengingatkan pada cinta
jembatan api, taman buah terlarang dan
mata rama
yang mengawasi bayang-bayang
dan menandai tubuhku
dengan sentuhan tangannya
"aku sentuhkan tanganku
agar tubuhmu basah
lantas terbakar"
dan seperti pahlawan
ia pun menghilang ke dalam api
tinggallah aku
namaku rama-rama
mata rama mengawasi
dari tempat yang tak pernah aku tempuh



Dongeng Anjing Api

anjing itu datang. -mengenakan tubuhnya
seperti yang dikenal kini: binatang malam
bersayap air. bertaring bunga. berkelamin api
dongeng pun tumbuh
perahu kupu-kupu.hewan geladag
bah dan gunung pasir
mengikuti cahaya. -sehitam malam, bayangannya
mengintai. serupa cahaya, meraih warna
tapi bebunga yang mewangi dari telapak tangan
hanya mekar hitam-putih
anjing itu mendengus
mengendus daging terbakar
anjing api itu tak pernah tua
tak pernah kehilangan lapar
dikenakannya …

Sajak-Sajak Zeffry J Alkatiri

http://www.infoanda.com/
SUDAH SEJAK LAMA MEREKA KALAH

Pada saat anak-anak Yahudi
berebut masuk Yale, Berkley, dan MIT,
anak-anak Syek dan Emir Kuwait, Oman, Bahrain,
dan Arab Saudi berebut masuk hotel di London,
New York, Paris, Pattaya, dan Jakarta.
Sementara anak muda Yahudi sibuk main saham di WTC,
anak-anak Syekh dan Emir itu menghabiskan duit
Moyangnya di meja judi.
Sementara para istri diplomat Yahudi ikut bekerja,
para istri Syekh itu rajin berbelanja.
Sementara pengusaha Yahudi kasak-kusuk melobi,
para Syekh dan Emir itu asyik berendam di bak mandi.
Sementara masyarakat Yahudi rajin mengumpulkan dana,
para Syekh dan Emir itu berpesta dengan para harimnya.
Sementara orang Yahudi berjuang meluaskan wilayah
di jalur Gaza, para Syekh dan Emir itu
membuka pintu bagi Cowboy Amerika.

Jelas, sudah lama mereka kalah.
Saat wilayahnya belum ditemukan minyak mentah,
predator Anglo-Saxon sudah menguasai Timur Tengah.
Apa mereka menyangka sudah bebas dan kaya?
Padahal, sampai sekarang nasib mereka
tidak pernah be…

Sajak-Sajak Sunaryono Basuki Ks

http://www.suarakarya-online.com/
DI PUNCAK EIFFEL

tak terdengar deru angin
di lingkaran tertutup ini
hanya peta jarak
tergambar di dinding
antara Eiffel dan San Francisco
sampai Jakarta
24.000 km terbentang
antara dua titik
yang bergoyang-goyang di puncak ini
tak terdengar deru angin
hanya isak
akan masa yang lepas
dari tangkap
haruskah kita melangkah terus
seperti ini
dari satu titik ke titik lain
dalam peta bumi
yang tercantyum di puncak Eiffel
siapakah dapat menjawab
teka-teki?



DI ATAS SAJADAHKU

Tidakkah kau begitu kasih padaku
di atas sajadah ini
kau deraskan terangMu
kau dendangkan merduMu
kau riwayatkan sukacita

Aku telah menemukan hamparanMu
dalam kasihMu
yang mempertumukan tenang dan gelap
yang mendekatkan timur dan barat
telah kuedari bumi
dan melihat senyumMu
yang selalu membimbingku
telah kulangkahkan hidup
dan kutadahkan tanganku
menerima riwayat
yang Kau kisahkan padaku
tentang Ophelia
alangkah kokoh tanganMu
menggumpal-gumpalkan pasir
yang merupa wajahku

Jakarta. Subuh



DI ATAS KLM LEONARDO DA VINCI

di bawah langi…

Sajak-Sajak Dina Oktaviani

http://cetak.kompas.com/
Trinitas (3)

aku menghadap ke luar jendela, ke dahan dan rumputan
yang baru tumbuh, menumbuhkan kerinduan yang sengit
: aku menghadap kepadamu, tak bisa menjerit
udara adalah satu-satunya yang sebanding denganmu sore ini
yang menjadi nafasku meski ia diam atau menghambur
dan memperlihatkan dirinya pada pucuk-pucuk daun
betapa perasaan ini adalah tangan yang meremas hatiku keras-keras
sampai remuk dan berjatuhan di tubuh impian
yang selalu kupungut lagi, nyaris seperti daun-daun jatuh di pagi hari



Trinitas (7)

bangun, cintaku, bangun dan bukalah jendela kamarmu
bangun dan lihatlah matahari yang berjalan lambat dan hati-hati
bangun dan berjalanlah dengannya ke sebuah pintu gudang setengah terbuka
berdirilah di sana dan temukan seorang anak nakal dalam kegelapan
yang tersesat dan terhukum dan menangis karena matanya dibutakan
yang kecerobohannya menebarkan di mana-mana cinta yang gelap
bangun, cahayaku, bangun dan bukalah pintu itu lebar-lebar
angkat dan bawalah anak nakal itu di p…

Sajak-Sajak Teguh Ranusastra Asmara

http://sastrakarta.multiply.com/
Sajak Akhir Tahun

ketika rindu lepas di ujung senja
angin melecut pada rahim puisi
ada bayangan yang mengaca
menatap sisa-sisa usiaku
begitu sepi

(tidurlah, dengan silang mautmu
yang ditinggalkan di ruji-ruji almanak
dan sementara Tuhan mengejangkan impian)

sepanjang jalan kecil ini
bulan telah mengasingkan ketakutan, di balik arloji
maka lahir bendera penyair
tanpa genderang kerajaan
hanya kelam dan duka
membalut wajahku

(tak usah tersedu
air matamu adalah pembrontakan
yang memberangkatkan siul-siul kebebasan)

Yogya, 1970



T a m a n

kuhitung langkah-langkah kaki dalam sepi taman
ketika hari tanpa suara, tegak kembali
jadi barisan waktu yang terlepas

angin tiba-tiba merendahkan lagu-lagu rindu
dan terbukalah nada fales pada angka
rahasia yang memberat, di ruangka
: belum bernama

Yogya, 1969



Malam Satu Suro

bergegas melintas gelombang, kabarpun sampai
di sini masih tersimpan warisan di batu
dupa dan kemenyan jadilah ceritera
mengundang mitos penuh berkah

doapun dilepas lewat kembang stam…

Sajak-Sajak Hamdy Salad

http://m.infoanda.com/
BIDADARI BUMI

Akulah bidadari yang turun ke bumi membawa satu panji: cahaya matahari!

Kugali makam tirani sepanjang zaman dan kusulam selendang sutra dari kafannya lalu kalungkan pada leher mahkota manusia, bukan lelaki atau perempuan bukan budak atau tuan

Kukobarkan api dan panas bumi membakar istana dan kerajaan sampai hangus jiwa-jiwa tak berperi jadi berlian, cinta segala yang dihidupi sebab bumi bukanlah asal kematian bukan juga panah besi yang ditancapkan ke dalam dada cucu adam dan hawa

Akulah bidadari yang turun ke bumi membawa satu janji: muka-muka berseri!

2006



SEPASANG CERMIN LUKA

buku takdir terbuka semua kata kan terlahir dan kembali ke halaman muka

Bayang-bayang menggambar dunia melihat wajah sendiri penuh debu segumpal darah mencair dan merembes ke dalam tanah tanpa akhir nama-nama berpaling dari kartu menilap cahaya sekeping waktu tak ada genderang bisa ditabuh kecuali mimpi dan guling terjatuh

Para pendaki tertambat ombak para pelaut tersambar kabut perca…

Sajak-Sajak TS Pinang

http://m.kompas.com/
Mabuk

kami tumbuh dari kelopak bunga kamboja di tanggul kolam koi. kami besar di kelopak teratai
yang berenang di tengah kolam. kami dewasa di kelopak mata, tempat kami mula-mula
belajar dusta.
setelah cukup usia, kami mulai belajar menyelam. merunut sulur akar dan sisik-sisik ikan
yang rontok. kami menghanyut bersama arus sungai. menghilir. berkelok. kami mulai
menghafal batu-batu yang kami jumpai. ada yang ramah. ada yang garang.
kami berenang. kadang kami mengayuh dengan jujur. kadang curang. kami sedang mencari
rahasia kecantikan rembulan. keelokan yang membuat kembang berebut mekar, membuat
birahi ombak lautan. keelokan yang membuat kami mabuk cemburu.
di danau, kami bertamu pada kelopak-kelopak narsisus, kembang yang tenggelam dalam air
matanya sendiri akibat tak habis sesalnya mencuri rahasia rembulan. ia mengutuk dirinya
sendiri. terlalu cintanya pada wajah sendiri, tak sudi ia mengutuk yang lain.
tiba-tiba kami mual. memuntahkan purnama yang kami telan malam tadi.



Berse…

Sajak-Sajak Nirwan Dewanto

http://kompas-cetak/
Gong

Tengah kami cerna hamparan abu yang meluas hingga ke Prabalingga ketika kau datang tiba-tiba. Menyuapkan sebilah anak kunci ke mulutku kau berkata, “Aku pandai membuka semua pintu. Jangan lagi lari dariku.” Waktu kaulepaskan gaunmu tahulah kami bahwa tubuhmu masih setengah-matang. Tapi aku tak lagi bisa tertawa sebab baru saja kami kuburkan sang panakawan di antara batang-batang pisang.

Malam ini sungguh terlalu panjang. Maka menarilah, Adinda. Tak akan kami pulang sebab kami mahir bertepuk sebelah tangan. Menarilah. Inilah lingkaran yang akan kami berikan esok hari kepada ki lurah Baradah. Namun sekarang ambillah. Sebab tubuhmu kian merona merah.

Baiklah, bahkan lingkaran seluas padang ara-ara pun tak cukup bagimu. Telah kunyalakan segala suluh agar hutan pring dan rotan ini menjauh darimu. Dan kami tanam pokok-pokok pinang kencana di sekitarmu agar tanganmu gemas meninggi melupakan leluka para leluhur di bumi. Tapi kau ingin bergerak seperti lautan seperti aw…

Sajak-Sajak Gus tf Sakai

http://www2.kompas.com/
Materi Dingin

Dada yang kosong, baiklah. “Di bilikmu
mungkin memang bukan gelap. Tapi ketiadaan cahaya.
Berapa ratus tahun lagikah cahaya itu bakal sampai
ke ronggamu?” Raga cuma ilusi, materi dingin
yang sehari-hari bisa hilang.
Cahaya terus merambat. Memang. “Tapi engkau
tak mungkin hanya diam dalam gagasan kekal
bentangan
kosmos. Engkau tidur, Sayang. Hanya tidur. Dan bagianmu
bukanlah memang pantas kalau cuma mimpi?”
Lebih tinggi sedikit dari tanah, dari air, dari batu:
Materi dingin yang terus luput dari jiwa kosmik.

Payakumbuh 1997



Peniup Suling

Sekarang, mari kita keluar dari waktu. Waktu kita tak sama.
Malam bagimu, mungkin pagi bagiku. Tidakkah matahari selalu
datang pada orang-orang yang mengungkapkan diri dengan cara
berbeda?
Waktu kita tak sama. Kau meniup suling - entah kapan
dan di mana, tapi aku mendengarnya. Mungkin seseorang
membawa sejarah, dan ia tak hidup di zaman kita. Seperti engkau,
seperti aku, mungkin akan datang kembali: melampaui
dunia materi. Waktuku, mungk…