Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Ahmad David Kholilurrahman

http://batampos.co.id/
Dalam Perkekalan Rindu (3)

Sadarlah dirinya, dipandang musafir fakir;
Berlain bangsa, berbeda bahasa
Terasing jauh dari tanah kelahiran,

"Alamak, dizaman kini menyisa kisah cinta ala istana".
Patuh tunduk pada duli kuasa kaum bangsawan.

Sadarlah dirinya, ditidakkan digelanggang mata ramai;
Siang-malam duduk termenung, menanggung jatuh rindu
Pada gadis perawan kota tua bersejarah.

Seujung kuku pun, tak gentar jiwanya,
Ingin menyatakan kemerdekaan asasi hatinya

Sadarlah dirinya, selama ini menempuh rintangan;
Tingkahnya dipandang salah,
Menjatuhkan airmuka Tuan terhormat

Mencampak harga diri kalangan atas
Dituduh mengacau jalan pikiran bangsa feodal

Sadarlah dirinya, sengaja disisik-siang;
Setelah ditimbang dacing bendawi,
Nasibnya tak ubah pesakitan terpasung

Loyang tercampak dari emas,
Benang tersisih dari sutera

Heliopolis, Cairo, 15 Maret 2008



Dalam Perkekalan Rindu (4)

Belum lagi runtuh gunung harapanku,
Menanggung gemetar cinta tersunyi
Seperti gelegas rindu yang tak kutahu berpangkal?

Kota tua bergedung coklat pudar, terkepung rapat
Gerbang beratap melengkung, tertutup erat
Matahari musim dingin merebah ke ufuk barat

Sekawanan pasukan berkuda, menembus batas langit
Gumpalan debu beterbangan, memupus tersedan jerit
Memercik kilat pedang, gemerincing zirah terberandang

Dari tingkap Istana bercat coklat tua,
Sepasang mata hijau zaitun melabuh senja,
Pandang jauh, berbisik pada angin musim kering;
“Hai Musafirku, tak pernah kulupa kebaikan hatimu!”.

Kenapa menabur bibit sajak sepanjang pengembaraan?

Biar kutahu kuncup rindu bertunas seri,
Mekar bunga ditaman-taman hangat musim semi
Meruah semerbak wangi, menunggu dipetik tangan halus kekasih
Sebelum embun menumpuk, mendahulu kumbang hirup mahkota sari

Heliopolis, Cairo, 22 Maret 2008



Dalam Perkekalan Rindu (5)

Menghirup semerbak ranggi rindu
dihantar sejuk-hangat angin musim semi
Kuncup kembang melontar kumbang
Mengecup serbuk putik sari, jatuh berderai

Taman teduh menebar harum rerumputan
Burung-burung kecil terbang bertempiaran,
Riang mematuk ulat-serangga, reranting dahan berjuluran

Dibawah rerimbun pokok kayu,
Musafir duduk rehat menenang pikir
Menyandar pundak, dibangku besi bertuang tersimpai rapi

Gurat-gurat cerah terlukis diroman wajah lelah,
Bercakap hanya menambah beban marah

Pengembara bukan wazir raja, pembisik setia lingkar Istana
Bukan mulut pendongeng pasar malam
Memintal liur berbenang bual hikayat
Bermalam-malam merebut mata pendengar

Sungguh, menulis sajak pilihan bijak
Kelak mengorak jejak, gelegak tapak pemberontak

Heliopolis, Cairo, 3 April 2008

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…