Tampilkan postingan dengan label Nurel Javissyarqi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nurel Javissyarqi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 September 2017

BALADA SUMINTEN ‘KEDANAN’

Nurel Javissyarqi

I
Raden Mas Subroto bersemedi
menghadap Sang Hyang Widhi;
Dia lama bertapa brata asmara
demi Suminten jadi kekasihnya,
hingga akhir hayatnya.

Kamis, 15 September 2011

UNTUK KEPULANGAN WS RENDRA

Nurel Javissyarqi
http://sastra-indonesia.com/

”jika sang penyair benar-benar meninggal
tak sia-sialah segala perjuangannya
maka damailah di sisi-Nya”

Meski pun tidak pernah bertemu
tapi kurasakan degup jantungmu

dari balada orang-orang tercinta
kau kenalkan tari-tarian jiwamu

aku merambah masuki nalurimu
yang senantiasa girang perkasa
tampan penuh dinaya pesona,

sedari bulir-bulir air matamu
membanjirlah cahaya rasa

oh…
aku merinding menulis ini
diserang demam menggigil
entah dari mana datangnya

kau seakan menghampiriku
berwajah tegar lantas buyar, tapi
masih menungguiku sedari dekat
saat aku menuliskan catatan ini

aku melihat kau tersenyum
lalu mengelus-elus rambutku
atau ini hanya perasaanku saja

atau semua para penulis sajak
di tanah air ini merasakan pula

aku digetarkan sentuhan aneh
lebih ganjil dari sebelumnya
lebih gaib dari yang terbayangkan,
aku merasa, dan turut merasakan

sebab jikalau suatu negara
tanpa seorang pun penyair
yang mampu bersuara lantang
bukanlah negeri yang adiluhung

kau tidak sekadar penyair, pujangga
yang dikarunai daya dinaya melimpah

dari kata-katamu mengalir deras
menerjang lahar halilintar tumpah
seolah kutak mampu berkata-kata
tanpa kehadiranmu

rasa kehilangan itu luar biasa
tanda-tandanya telah hadir
ikut keseluruh getaran jiwa
memasuki rerongga sukma

dan seperti terbayangkan
kau selalu tersenyum ramah

kaulah tonggak perjuangan
lambang tiada menyepadani

nafasmu-nafasku, oh…
bau kembang itu kau hantarkan kepadaku
kau kabarkan serindang daun ditiup bayu

malam ini kau begitu khusyuk
membuatku tiada sanggup
mengatur jalannya kalimah

sayap-sayapmu
terus mengepak ke segenap cakrawala
membuyarkan awan gemawan bimbang,
bulan malam ini ialah saksi kepurnaanmu

Rendra,
bulan malam ini hadir hanya bagimu
oh… tubuhku teresapi daya entah

aku tak tahu lagi apakah ini sugesti,
kau benar-benar mengendap kemari

damailah di sisi-Nya
seperti embun berpeluk daun-daun
cahaya di bayangan pohon-pohon,

cukuplah bulan saksimu malam ini
sedari sekiankali perjuanganmu

dan apa yang kau torehkan
lebih nyata dikemudian hari
lebih segar dari bebauan kembang
lebih harum dari bunga ketinggian
lebih santun dari tubuh rerumputan

dan maafkanlah
selama usiaku tak menjengukmu
namun kuyakin kau tahu akan itu

aku bukanlah siapa-siapa
hanya pengelana semata

oh Rendra
semakin jauh kau tinggalkan bumi ini
semoga wasiatmu senantiasa hidup
berdegup jadi pusaka dan warisan
bagi generasi-generasi selanjutnya

kaulah sang pemangku itu
entah siapa lagi setelah kau,

jiwamu besar tapi kau tutupi
dengan kerendahan kalbu

aku menjadi malu,
seperti kau tampar mukaku
serupa tidak sudi melihatku

tapi sungguh tamparanmu sangat terasa
bekasnya mengenai mengembaraanku

aku kembali digetarkan kesaksian
lebih merinding sedari berdenyut
ada sejenis puncak yang entah

bukan ketinggian karang
bukan tajamnya tombak
bukan pula kilatan petir

sesuatu yang sulit dikatakan
entah dari mana datangnya

aku tertunduk saat itu
bersimpuh di hadapanmu

lalu kau angkat tubuh ini
bersatu nafas kembali,

kau berkata;
marilah kita kembara
marilah bersentuhan mesra

dan enegimu semakin tinggi
ketika kau terus berkata;
marilah… marilah…

Rendra,
aku turuti kehendak Syah
aku tak berdaya digetarkan
gemeretak tak ingin limbung

lantas angin itu mengupas halus
bagai sentuhan malaikat maut
sampai kemari,
sampai padaku

namun kau yakinkan diriku
tangan ini harus terkepal
padat dan semakin kuat

aku tak tahu
siapa yang menyelami
; apakah kau atau aku
antara jiwa dan raga
sukma segenap aura

aku tak sanggup membedakan
getaran rasa gemeretak logika

aku diserang kau, ataukah jiwaku
sedang berduyun-duyun padamu

dan terlihat kau tersenyum
persilakan semuanya datang
menghadirimu terakhirkalinya

setiap kali kuhadirkan titik
nadi menggemakan suara
huruf-huruf kau lalui pun
jadi saksimu juga mereka

Rendra,
apakah sebelumnya kita berjumpa?
sampai aku merasakan keganjilan ini
tidakakah kita tak pernah bertemu?

kau selalu hadir murni bagiku,
dan diriku dibuyarkan teka-teki

hanyutlah segala detak nadimu
atas muaramu yang lantang itu
kepada segenap kepala
mereka tahu sebenarnya

; kata-kata tanpa suara
seperti penjara
kata-kata tanpa logika
seperti perawan tua

dirimu
memasuki segala ranah kesatria

Rendra, malam ini kita berdua
meski banyak yang datang menghampiri
bagai awan lembut meneteskan gerimis
tubuh kita sama-sama terbuka
bercakap seperti teman akrab

kita lebih jauh lagi
dalam dan dingin

kau hantarkan sajak-sajakmu
kapuk-kapuk randu beterbangan
disusul angin pilu sedari seorang
yang ditinggal ke negeri sebrang

di sini
kepulan asap rokokku benar-benar lain
seperti para penyair, namun negeri ini
tak butuhkan kata-kata tidak bersuara

aku kembali menundukkan muka
menyelam jauh ke sajak-sajakmu
disamping balada-baladaku sendiri

dan kau terkekeh
diriku tersenyum lebar
lantas kita saling merangkul
lenyap dari pusaran taupan

bukan awan yang kita kenal
lebih halus memupus semua

kita meresapi maknawi kesungguhan
hidup lebih berarti dari sebuah hidup
yakni perjuangan

jika kutulis ini di lembar-lembar kertas
tentu mewangi atas tinta penuh cinta

lantas kucium kau dalam akhir kalimah
; selamat jalan Rendra
kelak kita berjumpa.

2009 Surabaya.
http://sastra-indonesia.com/2009/08/untuk-kepulanganmu-ws-rendra/

Senin, 10 Januari 2011

Sajak-Sajak Nurel Javissyarqi

http://pustakapujangga.com/2011/01/poetry-of-nurel-javissyarqi-4/
[PERNIKAHAN MATA]
Untuk K’tut Tantri

Jiwa-jiwa muksa bertarian sukma
ruh berbangkit di tengah gerimis.

Gemerincing binggel kaki penari
kisahkan tarian di tanah pertiwi.

Mata anak-anak berkulit coklat
tangan menyatukan fajar laut.

Menyentakkan bambu runcing
menyobek leher para penjajah.

Daya-dinaya muncratkan darah
seharum melati sepanas mawar,
kain merah putih membalut luka.

Jika petang gerilyawan mengintai
di balik lintang bukit karang nurani
menggelegak jantung menghujam.

Penciuman angin di langit kemboja
belai uban-ubun ditempa purnama.

Sewarna perak pernikahan mataku
di tengah wengi penuh cahaya tinta.



[KEMBANG GAPURA]
Untuk Samira Makhmalbaf

Dari gapura negeri Iran
kepak putri sayap elang.

Kekuatan jiwanya risau
melintasi pusaran awan.

Ketinggian ombak kebisuan
serupa kekupu sebrangi teratai.

Katupan sayap buku di pangkuan
mata mungilnya menggoda insan.

Pangeran melirik dari singgasana
dinaungi cahaya ketenangan senja.

Selaguan seruling lembah gembala
menarik mahabbah jejanur kurma.

Diajaknya menjelma matahari
kibaskan gemuruh angin, pada
debu-debu memusari bara rindu.

Menggelinding gosongkan usia,
keringat mendidih gelora pecah
karang terlempar jelma purnama.

Malam harum kembang kanthil
sekuat stupa candi tegak kukuh
sepohon bergetah takkan runtuh.

Kembarai mimpi tempaan empu
sewaktu asah keris berkelok tujuh
kegigihan menerima takdir waktu.

Awan sejarah sederu jiwa semesta.
Entah di manakah dirinya sekarang?
Semoga tetap mencintai tlatah Iran.



[RAJA PELAMUN]
Untuk Kahlil Gibran

Menuang keganjilan bertemu genap
diikuti arus deras,
gemerincing anggur ke batu-batu
busanya meluap,
menelenjangi tubuh sungai malam
mendenyutkan nafas.

Jalan membentang kenangan
rerambut cemara menari-nari
sederai gerimis patahkan hati.

Ranting sayap kabut pebukitan
bergelembung embun terjatuh
dirawatnya ke tanah kelahiran.

Angkat dayung keringat lengan,
setinggi gemawan digiring angin
terpenggal lecutan dahan cahaya.

Bebuah terdampar menuju fajar
melamun di bencah batas desa
ke tangga pesawahan lembah.

Dicecapnya bulan yang dingin
terpahat tetembangan lama,
dicukupkan bersarang setia.



[DI YOGYA SUATU MALAM]
Untuk Pantomimer Enderiza

Melewati ribuan lampu
terbalut putih tubuhnya
: ia bermandikan cahaya
wajah berbedak purnama.

Jiwanya remuk dipukuli waktu
mata berkeping-keping berita:
ia lebih waras dari yang berlalu
sadarnya kaki-kaki melangkah
lentur menggapai muasal kata.

Terangnya serpihan kalimah
selembut lembaran malam
meleburkan tarian ragawi
merasuki sukma berlaksa.

Kaki-kakinya terus berjalan
hingga membatu tegak tugu
di tengah-tengah kota Yogya:
sekuat tabah setua zamannya.



[SAYAP SELENDANGMU]
Untuk Penari Saraswati

Waktu sayap selendangmu hilang ditelan panggung
bayangannya sampai ke mari, diantar cahaya pagi.

Matahari melukis cakrawala mengepak arus sungai
olehnya lupakanlah khilafku, lantas maafkan diriku.

Wahai siur rambut kelapa janur-janur hijau embun
menuju ombak angkasa jiwaku bersalam padamu:

Hukum langit memberi kasih serupa sayang ampun
darimu, selalu memberkati tapak-tapak langkahku.

Selasa, 04 Januari 2011

KESUNYIAN SANG PUJANGGA

Kepada almarhum Suryanto Sastroatmodjo
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=662

Pujangga itu
mendiami lembah pekabutan kemanusiaan
gema suaranya memantul
ke dinding-dinding karang peradaban.

Ia tak kehabisan kehendak, tapi di sanalah telempapnya
kala kita tak sanggup menjangkau kelembutan sukma.

Ia telanjang bagaikan batu-batu diguyur deras hujan
juga sengatan matahari kesadaran.

Yang melihat lelangkahnya di tengah kota sekadar wujud,
kita tiada daya bercakap, manakala anggukan membuyar.

Waktu selalu merawat dirinya beserta alam kelembutan
isyarat angin serupa ibunda mengamatinya penuh takjub
kala ia melantunkan kata-kata menyayat-nyayat bathin
bebatuan kerikil berserak, deru hiruk-pikuk keramaian.

Ia mendamba mendayung alam ke muara sentausa
sedekahnya bersandar pada gundukan batu besar,
kepala berbaring itu, mengisi nyanyian renungan
saat berdiri, bencah moyang beri restu kerelaan.

Tampak kepanditaan hadir tidak butuhkan apa-apa
hanya yang tercurah sedari langit dirinya tengadah
kuasa-Nya dijangkau kalbu terdekat, kasih insani.

Kerinduan merengkuh sesyairan lelaku nasibnya
kangen bermelodi kesegaran air mengucur. Oh…
gemerincing alunan jiwa tak henti lafalkan mantra.

Tetumbuhan memberi petuah
bagi ruh-ruh kepekaan
menceburkan diri
dalam belahan dada ranum menampung rahmah.

Jalan dilalui, dedaun menyapa bebulu sayap mengepak
membisikkan kalimah yang terdapati tak terekam indra.

Dan tiap denyutan darahnya bersimpan peristiwa
aliran-alirannya tampak jernih sebening hatinya.

Pandangannya menembus jauh tak hilang kendali,
persaksiannya menggedor tanjung-tanjung sukma
pribadinya terkandung unsur-unsur kelembutan
ulet seserat-serat pohon mewangi kehidupan.

Rambutnya tergerai memantulkan sinar mahkota
tiadalah terlihat mewah, tampak segar sederhana
benda serta makna, fitroh teremban hikayat-hayat.

Ia terima, mendapati kulit tubuhnya langsat
sentuhan halus bayu pertiwi
senafas bayi-bayi menghidupi rumput
tiupan terisi nikmat
di kedalaman jiwamu tak tersentuh.

Di sanalah kita temukan diri, arah-arah terpampang
perlihatkan pribadi, kala kita mencipta kasih sayang.

Kala berjalan tiada dapati bayangan, dirinya tersembunyi
tertunduk santun mematung merasai cahaya rasa malu,
kekhusyukkan menyendiri dalam selubung keduniawian
terpisah sedari bebauan asap dupa pujaan.

Ia bergegas saat orang-orang berbondong meminta
ialah bukan berlari tanggung jawab, tetapi sungguh
sungkan memantul balik dalam diri masing-masing
mendiami sunyi petuah.

Pantulannya seolah angkuh saat melihat penuh iri
tetapi, lagi-lagi nalar buruk terpatahkan
menyelai lelapisan persoalan.

Ia terbiasa mengupas jiwa-jiwa menjelma pancaran hayat
dengus suara kaki-kaki melangkah pada gumam panjang,
bathin bernafas sesama, siuman dari kemabukan bayang.

Yang melihatnya dimaknai menerus, ia tegur pelahan.
Oh… tubuh telanjang lebur dalam hawa sedap malam
burung-burung melihatnya terbalut sutra kehormatan
:yang tampak ialah penipuan-penipuan.

Tidakkah niatan jernih takkan terbodohi
merawat kebeningan sampai ujung di balik pandang.

Bergetarlah jiwa-jiwa jujur mendaki cahaya kesadaran
gerak terdalam berkaki pusaran, jenjang ditentukan
pekabutan tak menyilaukan mata memberi kelegaan.

Yang diidamkan ikhlas menerima manis-getir dilalui,
ia tak menyangkal ada memberi tempat tak berkenan.

Sungguh lembut memasuki lubang jarum merajut artian
tak bakal miliki sukma pendendam, nyala bukan ambisi
namun menaklukkan air mata menjelma batu permata.

Butiran garam diterjang ombak bathin bergelora
karang terbesar menampung ruang-ruang mungkin
hikmah tinggi cakrawakla tabah berlatih kesungguhan.

Huruf-huruf terdiam mengeluarkan daya
sedari sarang langit mewujud pengajaran
lintang-gemintang cerlangkan mata angin.

Kesemangatan tentram berlabuh pengetahuan,
bukan dalam batok kepala menyimpan kekayaan,
perbendaharaan tersembunyi dalam kalbu insan.

Nurani terbimbing pada keheningan kasih menghujam
kesungguhan tekad ketetapan niat cemerlangkan akal,
menilik setiap pijakan hati berkaca dibawa jernih fikiran
di balik tanda terdapat ruang-ruang menanggung makna.

Bukan hendak mengisi semua penuh bobot
yang berharga tergali serupa ricik-gemericik
siapa melewatinya mendapati petikan hikmah
bebuah ranum hasil kekangan musim-musim
menyuguhkan pribadi diterima lapang dada.

Mungkin alunan-alunan ini dikau bilang menjemukan
saat penalaran menjangkau tak berkendara kesucian
atau pencarian sungguh, namun tak didasari niatan.

Malam hadir, meliuk bertarian unggun penciptaan;
ia bakar kesepian, alam rindu gagasan-gagasannya.

Bersiaplah menempa anak-anak di kesenyapan kangen,
kadang malam larut jauhkan nyala api rindu penciptaan
diajaknya dahaga dalam kebisuan pencarian keyakinan.

Perenungan lelangkah hening tempaan pelaku hayati
membawanya ke selubung sunyi mewarta kelembutan,
bibir-bibir kabut mengatup dalam rongga-rongga nafas.

Bathin petapa mengombak di lautan kata-kata mewaktu
ia meringkuk di tepi jalan, sering di luar pintu tertutup.
Ia tak menunggu siapa-siapa, jiwanya tidak tergopoh,
hangat pencariannya menceburkan diri di telaga kasih.

Oh yang berendam di sendang, minumlah seteguk
mengingatkan usiamu dalam perimbangan jiwamu
kesaksian hayat, terbuhul wewarna pelita rahmat.

Ia tak bermaksud melukis kesenyapan nan gaib,
tapi mengangkat bertangan lembut tak tersentuh.

Lamur mengembun di kulit lenganmu bukan kelalaian,
keterjagaan santun antara tak pedulikan malam berbagi
kekuncup abadi, tawarkan rindumu ke peraduan hangat.

Sesekali menghisap batang rokok penuh tarikan dalam
nafas-nafas ingatkan masa lalu, menggali ikhwal terlewat.

Pagi terbuka kekayaan, kau bertamu di kediamannya
paling muskil mencipta sunyi memberat serasa ringan,
melantunkan mungkin di kepalamu nan selalu bertaya
akan gaib kehidupan.

Ini percakapan meleburkan setia, yang merindu
mengajak jiwamu terbang ke tlatah ditaksirkan
batas kebekuan memancar, tenggelamkan kenang
menggugah dakian penciptaan.

Lelapisan itu menggubah kesabaran ingatan
kekisah mempercayai mimpi mengajak teridam
kepurnaan waktu lahirnya derajad kehendak sesama,
malam-siang melarut jiwamu mengikuti nafas kehadiran.

Ini sepantun hening memaklumatkan pergumulan,
penyatuan ruh batas alam mengangkat keluputan
menjelma sayap membimbing nafas ke peraduan.

Senjakala melangkahi lika-liku kesuburan, mata bathin
mengenyam gending kepada lereng pesawahan Dwipa.
Berilah kesaksian jasad kalimah-kalimah ini,
menderas sealunan ditabuh waktu-waktu lalu.

Patahan terberi, bukan pemaksaan bathin serampang.
Sejak keteringatan wajah-wajah hampir menyerupaimu,
ketampanan santun bersahabat, maha guru paling bijak.

Jiwaku ini tertambat lelangkah paling akrab,
tekat melumurkan wewaktu di masa-masa intim
teruskan limpahan berkah tak habis ditelan lelah.

Keringat dingin menambah puncak kesaksianmu
langit-laut hadirkan birunya gelombang ke pantai
berbulir-bulirnya garam menuju ceruk perenungan.

Pedesaan menanti kita, lebur pada kesaksian syahdu
gemintang di cakrawala menandaskan hayat dimaknai,
selendang menari di lengan kasihmu menarik sahabat
bagaikan sesyairan sampur para penari waktu.

Di kemanakan batas biru memberi keabadian tarian
jiwa-tubuh bergetar, bebulu sayap terangkat sukma
tengadah nafas berhembus menggebu menuruti lagu.

Bukan keinginan semua terhampar, dilewati perjanjian
melumuri tarian tinta mata pena setajam malam terjaga.

Ini titah pujangga, melambari kasihmu berkeyakinan
memandangi lekuk perjalanan terawat setiap penanda
terangkat pemaknaan wewaktu dipersiapkan bagimu.

Usiamu tertelan semangat kata menembus kebisuan
merangsek naluri pada saksi semula, kerinduan kasih.

Tarikan nafasmu perjelas perbedaan mengenyam ragu
merawat kesunyian berabad-abad memperbesarmu.

Keterpisahan tak, masa-masa dilalui tempaan abadi
manakala kegusaran merenggut perjuangan kembali,
kehendak dicitakan itu, dilakoninya bermakna titisan.

Wewaktu mematangkan kulit keriput pepohon Jati
tegak mengeras menerobos musim dedaun rontok
kemuncul lestari menandaskan tubuh matang jiwa
serat-serat pohon Waru dengan otot-otot terjaga
berbagi pergantian jaman menghujami makna.

Hujan deras menggigit, kebangkitan berulang
bayu tuah berhembus jiwamu meloloskan diri
kepada semburat jingga senjakala
yang memawarkan rindumu
dalam pelukan cakrawala.

Perjumpaan penalaran, mewartakan tekadmu
ditandaskan malam purnama ditarik pelayarnya
menyeberangi wengi pelik lewati nyanyian pesisir.

Antara nafas langgeng, kesantausaan irama imbang
melingkupi yang dihendaki kepada gagasan gemilang.

Mata membaca kalimah berita merasai jiwa
mengeja kehausan kehendak hadir tiba-tiba
kerelaan tersiar-terkembang di pedalaman.

Ketika arungi kesyahduan, keayuan alam bercahaya
keteguhan mengawal jiwamu; para prajurut menjaga
kala sang raja berpelesiran ke negeri jauh tanpa kuasa.

Ia hentikan derap kudanya, menyusuri jalan sendiri
oleh semua penglihatan buyar menjelma kepasrahan.

Kemiskinan itu tangga tingkatan tertinggi kehidupan,
serupa rasa demam mencapai kesaksian tak terbantah.

Ini peleburan kenang, terbakar sajak di tungku setia
memperbaharui wujud abu dalam tumbukan sesal,
sengaja mencari-cari butiran halus kelembutan hati.

Kalimah bukan penampung rupa bejana, air tak terukur
saat tak secangkir pengharapan, tapi niatmu manunggal
kata-kata lebur menguap, butirannya di dedaun kalbu
tersuling sedari keraguan ditandaskan sakit berulang.

Kesaksian hadir membaca alamat-alamat berkelebat
raut-raut bertengger di dedahan menanti panggilan
merunduk penuh santun berdedaun Salam gugur.

Kembang kemuncul ketabahan,
kiranya bebuah ranum mewangi
semua tidak kuasa tidak tengadah,
memetiknya bagi lambung kembara.

Keyakinan perbaharui jiwamu pada pagi kebugaran
menelusupi pori-porimu, perjalanan berulang dinilai.

Ditata laiknya bebatuan candi di pegunungan puja
letak peribadatan bergumul seirama para penyaksi.

Dan keterbatasan membetulkan lelangkahmu memilih
agar tak terbebani di persimpang bathin teridam hayat
memakmurkan sesama.

Manakala demam berkurang persaksianmu yakin
bergumul kalbu rindu dalam gelayutan mesra,
semisal purnama di tengah pencarian wengi.

Malam menjamah gurun pada kulit getarkan jiwamu
terpesona jagad hatimu oleh kesantunan sang resi
dalam menapaki tangga kekabutan menanjak
membebaskan bayang sedari tubuh keraguan.

Yang pantas bertengger di ubun-ubun kesenyapan abadi
tahap dilalui beserta unsur pribadi berkeagungan rasa
kepurnaan gagasan membeletat sesama, tiada terlupa
kaki-kaki tersandung batu, rerumputan terinjak menghijau.

17 Februari 2008, Lamongan, Jawa.

Jumat, 31 Desember 2010

Sajak-Sajak Nurel Javissyarqi

http://pustakapujangga.com/2010/12/poetry-of-nurel-javissyarqi-2/
[PENGUMBAR]
Untuk Johann Christian Günther

Ruhmu melayang-layang
mencari titik-titik keabadian.

Melepaskan tubuh mendesir
bergema di rerongga nafas.

Adakah dirimu terus gelisah
di alam keabadian masa?

Memburu cahaya
memahat senjakala.



[PINTU WAKTU]
Untuk Konstantin Dimitriwitsj Balmont

Dengan bulan putih menggantung
pelapar kenyang dalam lamunan.

Menembus batas pintu gerbang
menakar awan dan gemintang
:
ditaksirnya hati merenda kekal.



[NAFAS SEKAM]
Untuk Alexander Blok

Abu hitam paling purba
luruh padam hatimu.

Ranting kayu hutan
sekelam arang tidak menjalar.

Namun, desir angin membangkit
selentik biji api menyalakan jiwa.



[WAKTU BEKU]
Untuk Jalaluddin Rumi

Aku menjenguk dirimu di sekapan waktu
tiada murung walau terkuliti dingin beku.

Jiwa khusyuk menyendiri di alam semedi
terbasuh embun kembang kesucian hati.

Sebening sungai menggelinjaki batu-batu
menyeruak ilalang kala pekabutan subuh.

Kenang tertampung di kelopakan malam
dipandang purnama menemui kediaman.

Membimbing pengorbanan kasih hening
ribuan gemintang menerangi rumputan.

Rongga pernafasan petir ditempa angin
menyambar kesadaran bulu-bulu mata.

Berabad lambaian wangimu pengekang,
aku pasir pesisir ditiup ombak berulang.



[SEBUTIR JAGUNG]
Untuk Thales

Kau sebar butiran jagung ke tengah laut,
digulung ombak memukul batuan karang.

Terhempas ke pantai-pantai, didorongnya
seperti sampan menyaksikan pedalaman
:
disapu bayu-bayu terpendam masa silam.

Bertahun-tahun sedenyut air serasi jiwa,
awan-gemawan selimuti bumi makin tua.

Membangkitkan hantu-hantu, petir murka
membelah langit lempengkan air samudra
:
sejauh-jauh matahari terlempar senjakala.

Hukum waktu menemukan belahan benua
kaktus-kaktus meliar menjebak ikan-ikan
:
lengking tanah merah di negeri balik bulan.

Kau tinggalkan aku sebatang di ujung waktu
bibir merayu putuskan sepuluh jemari meragu
:
menyisiri anak-anakan rambut panjang usia.

Aku dipersunting takdir, hamil keyakinanmu,
aku bijian jagung, rindu sejarah lemparanmu.

Jumat, 18 September 2009

MITOS PERKUTUT DI TANAH JAWA*

Nurel Javissyarqi
http://id-id.facebook.com/nurelj

(I)
Beribu tahun silam-semilam
tlatah Jawa bersinambungan
kepulauan Sumatera, Madura,
Bali, subur bencah tanahnya
hewan-gemewan, tumbuhan
berjuta-juta ragam jenisnya.

Namun suasana angker menyelimuti
tidak seorang pun berani bersinggah
siapa yang menginjakkan kakinya
berselimut kabut dijemput maut
hanya setan-dedemit menghuni.

(II)
Sampailah babak Raja Rum dapat perintah
dari Hyang Suksma lewat bertapa
wangsitnya mengutus Patih Amirulsyamsu
menyeberangi lautan
mengarungi gelombang demi gelombang.

Ombak mengombak menuju kaki Dwipa
bersama Raja Pandhita Utsman Aji
membuat tumbal demi kelestarian nanti
lima ekor burung perkutut diasmak
atas guyuran air rajah.

(III)
Terbang sudah kelima burung perkutut
atas perintah Raja Pandhita
mengusir setan-dedemit dari lemah Dwipa.

Perkutut pertama terbang ke arah wetan
mengobrak-abrik setan-dedemit
ke pojok wetan pulau Jawa.

Perkutut kedua mengepak beterbangan
mengusir setan-dedemit sampai segara kidul.

Perkutut ketiga menembus kabut pepohonan
melabrak setan-dedemit ketakutan
pada pinggir dataran Jawa kulon.

Perkutut keempat mengapungkan kibasan sayap
setan-dedemit tunggang-langgang ke pantai utara.

Dan perkutut kelima berputar melayang-layang
menyapu setan-dedemit di pusaran tanah Jawa.

(IV)
Setan-dedemit bersembunyi ke dasar laut
ke jurang-jurang cadas ke goa-goa kelam
bersamaan pula terdengar gemuruh guruh
dari timur selatan utara barat bersahut-sahutan.

Gempa bumi mengamuk mengguncang angin taupan
menumbangkan pohon menancapkan dahan pedang
pegunungan hancur berkeping.

(V)
Gunung Merapi terpenggal dan potongannya terlempar
jadilah gunung Kelud, demikian pula nasib gunung Wilis
tanah longsor air meluap, pepohonan lebur terbakar.

Dan setelah berselang masa-masa angkasa gelap
berubah terang-benderang segemintang membiak.

(VI)
Kelima burung perkutut tetap hidup turun-temurun
menjelma raja-raja dalam perkampungan keramat.

Dan mungkin di antara perkutut yang kita pelihara
anak turun raja-raja perkutut pemiliki tenaga gaib
pemberian Raja pandhita.

*) Lirik cerita dari ramalan Jangka Jayabaya Gancaran.
1997 Yogyakarta.

HIKAYAT CAHAYA RASA ARDHANA

Nurel Javissyarqi
www.facebook.com/nurelj

(I)
Rambut memanjang arang menawan
kelopak mata sendu elang lautan
alisnya pepohonan bukit barisan
hidung mancung menikam jantung.

(II)
Dua gegaris pedang ke bawah jurang
bibir kawah simpul memawar merah
aroma melati lati sukma sejati rasa.

(III)
Dewi Ardhanareswari tersenyum madu sutra
kepala sedikit menantang bagaikan kepodang.

(IV)
Leher panjang ke kawah candradimuka
pemujaan api di tungku menjilati udara
menari tarikan tarikh asmara
abunya melayang ke angkasa.

(V)
Tubuh bersih batuan marmer singgasana
tangan lentik memetik bintang kemukus
setinggi pohon jati menggayuh langit
terpetiklah kalbu memendam rindu.

(VI)
Selurus tongkat emas kaki jejakkan tanah
selembut kayu putih tertanam di pebukitan
gemulai langkah bambu ditarik angin senja
kaki rumputan tangan rembulan dewi Ardha.

(VII)
Awan berarak pulang ke pantai utara
menempuh bulan purnama memancar
menembangkan ketentraman malam:
hangat nyala unggun menyingkapnya
menghidupkan seluruh galaksi cinta.

(VIII)
Tak ada sumber tenaga selain darinya
tiada sumbu kecuali kobarkan apinya
segala raja ditenggelamkan
para pangeran dia rajakan.

(IX)
Dewi Ardhana seputri tanjung karang
lidah mengombak menjilat menerjang
gelombangnya menggulung masa-masa.

(X)
Bunga karang dalam jambangan
nuraninya terbuai rindu menderu
memandang langit lekas bertemu
kembang angin beraroma syahdu
tebar wangi kesungguhan rahayu.

(XI)
Sukmanya menyerupai dewi Parwati
lakunya separas Tribuanatunggadewi
sayapnya mengepak seelok Sembrani.

(XII)
Siapa teriris merana, terpikat laksanya
semua tokoh wayang agungkan dirinya
pangeran sunyi terbuai pekabutan asmara
dan selendang putri membalut luka hatinya.

(XIII)
Di pucuk-pucuk daunan hijau
menikam langit temu mentari
yang padam nyalakan semangat juang
acungkan keris melabrak kepalan tuan.

(XIV)
Kesumat bertemu muka membara
keris tertancap ke ulu hati sudah
darah muncrat nyawa melayang
telah ditimbangnya segala jalan.

(XV)
Cemara tujuh saksi bisu
kabut pagi bahasa syahdu
hujan gerimis pelukan bumi
seharum kembang kanthil
ke pelosok negeri jauh.

(XVI)
Siapa lagi jikalau bukan Dewi Parwati
pangeran muda terhanyut mengagumi
segala kerinduan menjelma pujaan
bunga-bunga meruh kasih sayang
tekatnya mereronceng kepulauan.

(XVII)
Nusantara bebijian mutiara mahkota raja
garis katulistiwa awan berarak ke persada
di tanah Jawa memendam cerita
Dewa-dewi menalikan sejarah
dengan udara bersentuh rasa
atas guratan pena tergarislah.

1999 Yogyakarta.

Sabtu, 08 November 2008

SAHABAT SANG SUFI ADALAH DIRI

untuk Ahmad Syauqillah
Nurel Javissyarqi

MUWAFIQAT

Wahai sahabat
bukalah sejarah Ibrahim
yang menenteng kapak
memenggal berhala
menjadikan lebur
tak hanya berserak

karna suatu masa nanti
orang-orang bodoh pasti melewati
mengumpulkan puing-puingnya
lalu ditatanya kembali

jangan tanggung menghancurkan
hingga debu-debunya berbahagia
ketika sujud di hadapan cahaya
oleh tanpa beban bentuk
atas ulah tangan jahilia.

Bila kau melihat pegunungan
menyerupai batuan berhala
yang sampai disembah puja,

dakilah gunung tersebut
katakan lewat angin
dan mata airnya
bahwa pengadaan itu
pengisian masa tak bermakna.

Sahabat
ingatkah kau tentang Nabi Yusuf
berlari dari cabikan rayu wanita
itulah selemahnya perlawanan
dan kau kuharapkan lebih
dari semua yang terkisah
dari tanjung suatu masa musnah
dari gelombang ada saat berpisah
dari matahari senantiasa tenggelam.

Jadilah kau, anak halal dibanggakan.



MAYL

Kosongkan hatimu
selain kepada-Nya,
Ia Kekasih Abadi
yang harus kau cari

apakah tak malu
dengan Rabiah
yang cintanya menggebu
hingga hilang kesadaran
yang tinggal dalam diri
hanyalah Kekasih.

Sahabat, temuilah al-Hallaj
maupun Rumi di makamnya,
sesungguhnya tidaklah mati
ia tinggal di alam tak terabah,
ciumilah tangannya bersholawat
karna segala restu ada padanya.



MUWANISAT

Tinggalkan sayap-sayapmu
bila ingin terbang
melebihi kenyataan,
sebab bulu-bulunya
memberatkan timbangan

itari bumi tetapi janganlah lupa
bersowan kepada yang diberkati
silaturrahmi panjangkan masamu
menuntut ilmu.

Jangan ada tertinggal di hatimu
rasa hawatir tentang perbendaan
ketika hendak pergi kembara

dan lepaskan sanak saudara
ibu ayahmu,
hanya doa restu patut diberi

harta menjadikanmu was-was,
tidak khusyuk saat mengarungi
apa yang kau cita-citakan.

Putuskan pacarmu
bila kau sudah terlanjur,
hal itu seperti bayangan
suatu waktu akan hilang
jika kau sudah terbang

kau diayomi cahaya
kaulah milik Cahaya.



MUWADDAT

Tenggaklah ayat-ayat-Nya
ikuti sabda-sabda utusan-Nya
hingga merasuk ke tulang iga

baru kau akan tahu
di mana letaknya patuh
taat, tunduk dan sesal

serta di mana tempatnya
menumpahkan sayang
dalam luapan harapan

juga gelisah besar
bila tak dirindu
melebihi patah tulang.



HAWA

Sahabat
tekunlah belajar menerima cobaan
karna di dalamnya setan merayu,
membelenggu, menjegal
memfitnah dan mengadu

di sini ada satu jalan
keikhlasanmu dituntut
lalu hikmah bermunculan
selaksa laut bergelombang,

sambutlah rerintangan
dengan muka benderang
bersenyum kebahagiaan
seair telaga yang kalem
yang selalu didapatkan
dalam pengembaraan.

Di sini jangan mencoba
seperti layaknya si kecil,
gunakan nalar dewasamu
sebelum memilih sesuatu,
dan ingatlah bahwa nurani
berdekatan dengan nafsu.



KHULLAT

Ingatlah sahabat,
semua ada padamu
adalah milik-Nya;

tangan, kaki,
mata, hidung,
telinga, otak, hati,
dan seluruh tak tersebut,

bersaksilah anggota tubuhmu
tak luput kuku serta rambutmu

bahwa tuhan Allah patut disebut
Nabi Muhammad pantas diikut,

lalu semuanya hening
larut ke dasar lautan ilmu
; henang, hening, henung.



ULFAT

Kosongkan fikiranmu sahabat
dari ajaran-ajaran digali hantu
sedari bisik-bisik para perayu,

jangan membuka pintu jendela
pada lolongan anjing, srigala
karna sekali membukanya
dombamu di pekarangan
akan dilahapnya.

Dengarkan kata-kata ini sahabat:
“Jinakkan api
bila rumahmu tak ingin dilalapnya.”

Maka seringlah
perbaharui syahadat berwudhu
karena setiap tetesan airnya
menjelma para malaikat
yang selalu melindungimu

hawa dinginnya laksana rembulan
atas pancaran surya Kasih Sayang.



SYAGHF

Tutup lelintasan setan di kalbu
ganti dengan jembatan layang
yang menghubungkan
kepada Kekasih Abadi,

kuaklah satu-persatu gaunnya
tersebab itu hasratmu;
tangan yang tak tangan
seperti kau saksikan,
mata yang tak mata
seperti yang kau lihat,
singgasana-Nya tak terbayang.

Impikan Ia
tapi jangan sampai masuk dalam mimpimu;
Ia di luar batas yang melingkupi batas-batas
Ia dalam isi yang memaknai isi, tapi bukan isi,
Ia pusat percakapan, Punjer perhitungan
yang tak siapa pun sanggup merekanya

pantaslah Ia tempat berlindung
letak bergantung segala tujuan
dan muasal semua kesenangan.



TAYM

Budak Kekasih
sungguhlah nikmat
lupa masa, lupa abad
dan hakmu melebur,

kau menjadi tak direpotkan hak
tapi selalu haus akan kewajiban
yang kau maknai bukan kewajiban,
karena kau dalam luapan kelezatan,

melahirkan rerindu
kangen dan kangen,
maka berlomba-lombalah
bersama pesaing-pesaingmu,

jangan naik tangga berjalan
berpasralah sepenuh pasrah
setelah menanam benih-Nya,
maka tiadalah kata lemah,
pegal apalagi membosan

olahlah tanah amanah
dan lapangkan dadamu
bila hanya panen sebiji,
atau tak sekalipun rumput
sebab dibalik ketentuan
Ia lebih faham.



TAJRID

Tenggelamkan dirimu
sepenuh keyakinan
dalam samudra-Nya,

jangan takut tak muncul-terapung
karna terangkat atau terbenamnya,
kau dalam ketentuan-Nya,

tiada pengaruh upaya
maupun panjatan doa
karna doa juga
dalam lingkaran takdir-Nya,

olehnya jangan ragu,
tenggelamkan dirimu.



TAFRID

Setelah tenggelam atau berlayar
kau bawa kesendirian bathinmu
kepada-Nya,
sebagai pertangjawaban
nafasmu atas nafas-Nya,

bukannya sebagai hadiah
sebab Ia tak butuh pemberian
dan bukan teruntuk pengabdian
karna Ia tak membutuhkan abdi

Ia hanya inginkan ketulusanmu
atas menjalankan amanat-Nya.



WALSY

Nikmatilah keagungan
yang diperlihatkan-Nya
itu melunakkan hatimu

bercerminlah pada perigi
belajarlah pada burung-burung
mengaji goyangan daun-daun
diberi kearifan melebihi singa

menjadi mabuklah kau
akan ilmu-ilmu hikmah
dari bangsa-bangsa di dunia
sedari ayat-ayat kau telaah
kau nikmat mengenyamnya;

lambungmu kini terisi
nyanyian cinta sesama.



ISYQ

Jagalah lidahmu sahabat
karna lidah ialah tombak,
parang juga senapan

aku tak ingin kau dipenggal
karna dosa latimu
tapi aku begitu bangga
bila kau dipaksa meminum racun
di atas kebenaran kau sampaikan

ingatlah sahabat
akan keberanian ibunda Masyitho
yang membawa keimanannya
di atas penggorengan si kafir.



FIKR

Jadikan hatimu keimanan
tempat berfikir
sebab itu ladang subur
yang ditaburi hafalan

namun ingatlah sahabat
orang berilmu akan celaka
kecuali yang mengamalkannya,
yang mengamalkan juga celaka
kecuali orang-orang yang ikhlas

maka berusahalah masuk sahabat
dalam golongan orang-orang sabar.



MUSYAHADAH

Dengan menatap keagungan-Nya
ruhmu segera terpelihara,
maka muwajahalah senantiasa
dan menyadari kefanahan dunia

lebih kecil sedari atom di alam semesta,
kita tak berdaya seperti bayi atau mayat.

Semoga kita tak melupakan Kekasih Abadi
walau sebersit dalam angan
untuk itu marilah berusaha
mendapati ridho-Nya

semoga para malaikat mengamini
orang-orang utama memberkahi
serta doa kita dikabulkan-Nya
atas kepatuhan kepada orang tua.

_________________
Oktober 2003
Pengambilan definisinya dari kitab Awarif al-ma’arif, karya Syaikh Syihabuddin Umar Suhrawardi.

Label

Sajak-Sajak Pertiwi Nurel Javissyarqi Fikri. MS Imamuddin SA Mardi Luhung Denny Mizhar Isbedy Stiawan ZS Raudal Tanjung Banua Sunlie Thomas Alexander Beni Setia Budhi Setyawan Dahta Gautama Dimas Arika Mihardja Dody Kristianto Esha Tegar Putra Heri Latief Imron Tohari Indrian Koto Inggit Putria Marga M. Aan Mansyur Oky Sanjaya W.S. Rendra Zawawi Se Acep Zamzam Noor Afrizal Malna Agit Yogi Subandi Ahmad David Kholilurrahman Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Akhmad Muhaimin Azzet Alex R. Nainggolan Alfiyan Harfi Amien Wangsitalaja Anis Ceha Anton Kurniawan Benny Arnas Binhad Nurrohmat Dina Oktaviani Endang Supriadi Fajar Alayubi Fitri Yani Gampang Prawoto Heri Listianto Hudan Nur Indra Tjahyadi Javed Paul Syatha Jibna Sudiryo Jimmy Maruli Alfian Joko Pinurbo Kurniawan Yunianto Liza Wahyuninto Mashuri Matroni el-Moezany Mega Vristian Mujtahidin Billah Mutia Sukma Restoe Prawironegoro Ibrahim Rukmi Wisnu Wardani S Yoga Salman Rusydie Anwar Sapardi Djoko Damono Saut Situmorang Sihar Ramses Simatupang Sri Wintala Achmad Suryanto Sastroatmodjo Syaifuddin Gani Syifa Aulia TS Pinang Taufiq Wr. Hidayat Tengsoe Tjahjono Tjahjono Widijanto Usman Arrumy W Haryanto Y. Wibowo A. Mustofa Bisri A. Muttaqin Abdul Wachid B.S. Abi N. Bayan Abidah el Khalieqy Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musabbih Ahmad Nurullah Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Akhiriyati Sundari Akhmad Sekhu Alunk Estohank Alya Salaisha-Sinta Amir Hamzah Arif Junianto Ariffin Noor Hasby Arina Habaidillah Arsyad Indradi Arther Panther Olii Asa Jatmiko Asrina Novianti Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Baban Banita Badruddin Emce Bakdi Sumanto Bambang Kempling Beno Siang Pamungkas Bernando J. Sujibto Budi Palopo Chavchay Syaifullah D. Zawawi Imron Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Dian Hardiana Dian Hartati Djoko Saryono Doel CP Allisah Dwi S. Wibowo Edi Purwanto Eimond Esya Emha Ainun Nadjib Enung Nur Laila Evi Idawati F Aziz Manna F. Moses Fahmi Faqih Faisal Kamandobat Faisal Syahreza Fatah Yasin Noor Firman Nugraha Firman Venayaksa Firman Wally Fitra Yanti Fitrah Anugrah Galih M. Rosyadi Gde Artawan Goenawan Mohamad Gus tf Sakai Hamdy Salad Hang Kafrawi Haris del Hakim Hasan Aspahani Hasnan Bachtiar Herasani Heri Kurniawan Heri Maja Kelana Herry Lamongan Husnul Khuluqi Idrus F Shihab Ira Puspitaningsih Irwan Syahputra Iwan Nurdaya-Djafar Iyut FItra Jafar Fakhrurozi Johan Khoirul Zaman Juan Kromen Jun Noenggara Kafiyatun Hasya Kazzaini Ks Kedung Darma Romansha Kika Syafii Kirana Kejora Krisandi Dewi Kurniawan Junaedhie Laela Awalia Lailatul Kiptiyah Leon Agusta Leonowens SP M. Harya Ramdhoni M. Raudah Jambakm Mahmud Jauhari Ali Maman S Mahayana Marhalim Zaini Misbahus Surur Mochtar Pabottingi Mugya Syahreza Santosa Muhajir Arifin Muhammad Ali Fakih Muhammad Amin Muhammad Aris Muhammad Yasir Nana Riskhi Susanti Nanang Suryadi Nirwan Dewanto Nunung S. Sutrisno Nur Wahida Idris Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Oka Rusmini Pandapotan M.T. Siallagan Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga Petrus Nandi Pranita Dewi Pringadi AS Pringgo HR Putri Sarinande Putu Fajar Arcana Raedu Basha Remmy Novaris D.M. Rey Baliate Ria Octaviansari Ridwan Rachid Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Robin Dos Santos Soares Rozi Kembara Sahaya Santayana Saiful Bakri Samsudin Adlawi Satmoko Budi Santoso Sindu Putra Sitok Srengenge Skylashtar Maryam Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sunaryono Basuki Ks Sungging Raga Susi Susanti Sutan Iwan Soekri Munaf Suyadi San Syukur A. Mirhan Tan Lioe Ie Tarpin A. Nasri Taufik Hidayat Taufik Ikram Jamil Teguh Ranusastra Asmara Thoib Soebhanto Tia Setiadi Timur Sinar Suprabana Tita Tjindarbumi Tjahjono Widarmanto Toni Lesmana Tosa Poetra Triyanto Triwikromo Udo Z. Karzi Ulfatin Ch Umar Fauzi Ballah Wahyu Heriyadi Wahyu Prasetya Wayan Sunarta Widya Karima Wiji Thukul Wing Kardjo Y. Thendra BP Yopi Setia Umbara Yusuf Susilo Hartono Yuswan Taufiq Zeffry J Alkatiri Zehan Zareez Zen Hae