Sajak-Sajak Pertiwi

Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)

Jumat, 18 September 2009

Sajak-Sajak Afrizal Malna

http://www2.kompas.com/
Kamar yang Terbuat dari Laut

Masa kanak-kanakmu terbuat dari sebuah pulau, Ram, di Tomia, Buton. Setiap malam, di antara suara batukku, demam yang tinggi, aku mendengar nafas laut. Laut yang tak punya listrik. Laut yang menyimpan masa kanak-kanakmu. Sebuah kamar yang dihuni orang-orang Bajau. Mereka, laut, kamar dan orang-orang Bajau itu, bercerita tentang …

Lidahku jatuh dekat ujung sepatuku. Laut memiliki sebuah kamar di atas bukit Kahiyanga. Ikan-ikan dan batu karang juga punya sebuah kamar di situ. Aku harus menggunakan lidahku sendiri untuk membukanya. Dan suara batuk, dan demam. Dan pulau yang bising oleh pengendara-pengendara ojek. Kamarmu itu, tempat bahasa melompat-lompat seperti ada api yang terus membakarnya.

Setiap malam, aku seperti mendengar nafas laut, ikan lumba-lumba yang sedang menidurkan anaknya … wa ina wandiu diu … malam tak pernah memukuli anak-anaknya di dasar laut. Malam tak pernah membuat dirimu terus menangis setelah bangun tidur. Lalu pulaumu itu, Tomia, mengambil batuk dan demamku dengan jari-jarinya yang terbuat dari tulang-tulang ikan, dengan jari-jarinya yang terbuat dari darah ikan. Laut tempat waktu melukis seluruh warna di permukaannya. Laut yang membuat kerudung ibumu seperti lempengan emas di senja hari. Sebuah hempasan waktu yang telah menelan seluruh leherku.

Kamar yang terbuat dari laut itu kemudian bercerita … kau telah menjadi seorang ibu, Ram, untuk masa kanak- kanakmu sendiri.



Ketukan-ketukan Kecil di Atas Dengkulku

Aku mengetuk-ngetuk dengkulku, ada tanah yang berjatuhan. Dengar. Tanah itu seperti sebuah malam minggu yang mati. Seperti sungai yang berjalan di atas jembatan. Dengkul tidak seperti kota yang kau bangun di mulut knalpot. Bukan sebuah kebahagiaan yang berisik seperti kantong plastik, tempat orang membuang malam dengan bercakap-cakap, dan mencari sedikit pelukan dari kesepian yang biasa. Pelukan yang biasa. Keparat. Seperti piring yang pecah dan meninggalkan lubang hitam di dalamnya. Lalu aku bangkit, dengkulku sudah tak ada. Dengkulku telah pergi dari tubuhku. Tubuh tanpa dengkul itu pun aku buang. Aku buang dekat jendela. Aku terkejut. Aku berada di mana kini? Di luar jendela atau di luar jendela. Siapa yang telah dibuang? Aku yang telah membuang tubuhku ke luar jendela, atau jendela itu yang telah membuangku? Bagaimana aku menentukan arah tanpa bersama tubuhku? Lalu kucing berpesta di malam minggu. Membuat negara dari piring-piring pecah. Aku lihat piring pecah di malam minggu. Aku lihat malam minggu pecah di lubang hitam yang mulai berotot itu. Aku dengar dengkulku menyembunyikan semuanya. Tentang tanah yang berjatuhan di atas bantal tidurmu. Tentang korek api dalam tubuhmu.



Guru dan Murid Dilarang Masuk ke Dalam Sekolah yang Terbakar

Sebuah truk mengangkut bayangan, lebih banyak lagi bayangan dari sebuah jalan dari sebuah truk. Bayangan itu seperti mengenalmu dan berusaha mengenalmu, seperti ada tulisan yang tak bisa dihapus pada keningmu yang demam.

Manusia dilarang masuk dilarang berdiri di situ, dilarang memberi rantai di leher anjing dan memasang perangkap tikus. Dan kau mulai mengerti kenapa harus mengucapkan assalamualaikum untuk masuk ke negeri ini. Sebuah truk seperti anakmu masuk sebagai pegawai Bank Dunia, dan seorang tentara keningnya seperti stempel pada punggung sapi yang memasuki ruang jagal.

Aku tak percaya pada tanganku sendiri yang pagi ini telah membakar ratusan sekolah di kotaku sendiri, sekolah untuk anak-anakku sendiri. Aku tak percaya pada tanganku yang telah menyalakan api, aku tak percaya pada api yang telah membakar sekolah itu, aku tak percaya pada sekolah yang terbakar itu, aku tak percaya pada peristiwa yang telah membakar pikiranku, pergi dan tak mau melihatmu lagi yang penuh dengan kawat berduri di wajahmu. Aku tak percaya berita yang datang dari botol-botol kecap di warung soto dekat rumahmu.

Guru dan murid-murid dilarang masuk ke dalam sekolah yang terbakar. Membiarkan lidah sendiri menjadi ular di depan cermin. Aku tak percaya pada negeri di mana kata-kata telah dibakar. Tetapi guru dan murid-murid tetap memasuki sekolah yang terbakar itu sambil membawa segenggam tanah untuk menyelamatkan kapur tulis, dan tetap menulis bayangan sebuah kebebasan, punggung dan kakinya dan lehernya. Dan papan tulis dari punggung api. Dan api ingin melihat wajahmu, ingin melihat air mukamu, ingin melihat tatapan matamu.

Dan api ingin membuat sebuah kampung, seperti kampung yang telah melahirkanmu. Dan api menuliskan kembali semua kalimat-kalimat ini dalam rahim ibumu, sebelum anak-anak pergi ke jalan, melihat bayangan truk melintas pergi dan bekas air mata di telapak tangan.



Aku Baru Saja Mengepel Lantai

Aku baru saja mengepel lantai. Aku berjalan dengan ujung jari-jari kakiku, agar lantai yang baru dipel tidak kotor lagi oleh telapak kakiku. Di dalam kamar, aku lihat tubuhmu telah menjadi genangan air yang dasarnya tak bisa kulihat lagi. Bagaimana aku bisa memelukmu kalau tubuhmu telah menjadi air? Bagaimana aku bisa menciummu kalau keningmu telah menjadi air? Aku pikir aku harus menjadi ikan agar bisa berenang di dalamnya. Tapi aku bukan ikan. Ikan juga berpikir dirinya bukan diriku. Ikan tidak bisa mengepel lantai dan berjalan dengan ujung jari-jari kakinya. Aku juga berpikir aku tidak bisa dipancing seperti ikan lalu dijual di pasar lalu digoreng. Ikan juga berpikir tidak terbayang ada yang mengepel dan suara tangisan di dasar laut. Aku juga berpikir tidak mungkin ada kehidupan ikan di dalam pikiranku.

Aku bukan laut. Aku yakin aku bukan laut. Ikan juga tak akan pernah percaya bahwa akhir hidupnya ada dalam tubuhku. Tetapi aku tetap memelukmu. Lalu aku memelukmu. Dan aku memelukmu pagi itu. Lalu aku tenggelam. Dan aku tenggelam. Hati-hati, biarkan aku tenggelam. Biarkan aku menjadi air untuk memanggilmu.



Korek Api di Atas Bayanganmu

Ada masa kanak-kanak yang masih mengenalmu, datang di suatu sore, dan menuliskan sesuatu di atas bayang-bayangmu. Sebuah korek api bekas membersihkan gigi. Masa kanak-kanak itu menulismu, rasanya perih. Seperti belahan pada telur asin. Sore itu, aku masih memeluk lehermu: Sebuah kota di masa liburan sekolah. Anak-anak belajar memelihara orang tua, memandikannya, memberinya makan, dan menguburkannya bila mati aku menulisnya. Anak-anak belajar membeli beras dan minyak goreng, dan menjadi orang tua dengan bayangan yang terbuat dari korek api. Anak-anak melahirkan, aku menulisnya sore itu ketika ombak datang membasahi lehermu. Anak-anak dari bayangan korek api. Anak-anak sekolah, sekolah dari bayangan korek api. Anak-anak mencari kerja, lapangan pekerjaan dari bayangan korek api. Lehermu kemudian mengeras, seperti masa liburan sekolah yang telah berakhir. Seperti kemarahan korek api terhadap kotamu. Seperti perjalanan korek api kembali ke hutan, kembali ke batang-batang pinus, tempat api melahirkan ibumu. Tempat api melahirkan sebuah sore. Dan aku menulis bayanganmu dengan tangan-tangan api.



Sebutir Telur di Belakang Punggungku

Kau telah menjadi air ketika melihat semua kejadian yang berlangsung di belakang punggungmu. Kita menginap di sebuah hotel murah, dekat bandara. Hari ini kau berulang tahun. Aku bergegas membersihkan kamar. Kau sibuk membeli coklat, roti, jeruk dan minuman kaleng. Kau bilang kau sedang ngobrol dengan ayahmu tentang seorang perempuan yang matanya terbuat dari sebuah pantai. Tapi ayahmu bilang kau sedang tak di rumah.

Di kotamu aku seperti bisa melihat mataku sendiri dengan mataku. Hati-hati berjalan di situ. Ada kepiting yang sedang menggali lubang di dalam pasir. Pantai itu, seperti sepasang kelopak mata yang tak pernah terpejam. Karena orang terus berdatangan, karena pesta belum berakhir. Kepiting dalam lubang itu terus menggali, dan menemukan laut yang lain di punggungku. Menurutku bukan laut, itu sebutir telur. Sebutir telur tempat ibuku dikuburkan. Tapi kukira itu juga bukan sebutir telur, itu buah semangka yang tumbuh di lapangan bola. Aku tak pernah tahu, siapa saja yang telah membakar diriku dalam pesta itu.

Lalu aku buat sebuah bantal, sebuah bantal dari waktu-waktu yang berjatuhan untuk tidurmu. Pesta belum berakhir, hingga punggungku berwarna putih. Putih seperti musim dingin.



Bau Air Mata di Bantal Tidurmu

Pagi-pagi sekali hutan telah bangun dan berjalan ke kamar hotelmu. Hutan yang berjalan, bayangannya seperti jubah matahari. Disel telah mati. TV telah mati. Ada musang mengambil kepala ayam. Anak-anak babi berebut tetek ibunya. Aku menari, tubuhku terbuat dari oli dan obat tidur. Pagi-pagi sekali. Pagi-pagi sekali batang-batang pohon berjatuhan dari perutku. Gelondongan-gelondongan kayu, pagi-pagi sekali, gelondongan-gelondongan kayu mengapung di sungai Mahakam, diseret oleh ribuan kapal yang seperti menyeret tubuh ibumu pagi-pagi sekali. Ibu yang dilahirkan dari rahim Dayak Bahau. Namaku Lung Ding Lung Intan. Aku juga dipanggil Daleq Devung dan Joan Ping. Bapak dan hinangku adalah sepasang burung elang yang terbuat dari karung plastik. Malam ini aku sedang berhudoq, menari hingga perahu-perahu melaju di permukaan pagi. Pagi yang membuat pusaran- pusaran air di Tering Seberang.

Tarian yang mengajariku tentang sebuah goa di Matalibaq, tempat hutan membuat keluarga. Matahari terbuat dari butiran-butiran jagung, kata mereka. Dan malam baru datang, kalau batang-batang kayu besi telah mengucapkan mantra-mantranya. Burung-burung bangaulah yang telah membuat bulan, kata mereka, ketika permukaan sungai masih bisa membaca kesedihan-kesedihanmu. Lalu ibuku menari kenyah. Burung-burung berhinggapan di jari-jari tangannya.

Pagi-pagi sekali, ribuan bangkai hutan diseret di atas sungai Mahakam. Kau setubuhi juga anak-anak gadis kami dengan penismu yang terbuat dari gergaji. Kau curi hati anak-anak muda kami lewat perahu bermotor. Lalu bayangan hutan jatuh di atas permukaan sungai, seperti jatuhnya sebuah mahkota. Sejak itu ibuku tak pernah menari lagi.

Pagi-pagi sekali aku ambil kembali sungai Mahakam, seperti mengambil selimut tidur ibuku dan aku kembalikan ke dalam goa itu. Sejak itu, kau tak akan pernah lagi menemukan hutan di mana pun, kau tak akan melihat lagi sungai di mana pun. Tetapi burung-burung terus bernyanyi tentang hutan dan sungai agar ibuku kembali menari. Tarian yang membuat seluruh isi rumahmu bergerak seperti kaki-kaki hutan. Daun yang tiba-tiba tumbuh di seluruh dinding rumahmu. Bau air mata yang masih tercium dari bantal tidurmu.

Read More......

Sajak-Sajak Beni Setia

http://www.surabayapost.co.id/
OUT OF DREAM

di antara punya uang dan punya
utang terhampar padang impian:
pengharapan empat varian angka
dari empat belas kali pacuan kuda

menjelang subuh terbayang
di kabut pagi, tengah hari
terpampang: ”yang sejati itu dari gua,
pohon krowak atau pelupuk mimpi?”

”mana yang mungkin?” katamu. primbon
dan empat belas tafsir impen menyatakan:
mesjid itu pertanda kemakmuran. aula bagi
jama’ah yang senantiasa kenyang sendawa

petang hari aku melihat kamu pasang
jerat di cabang lurus pohon durian,
di surut matahari kamu menenggak portas
: menantang kereta tanpa talqin dan takbir

[katamu, ”sajak ini ditulis saat utang menggila
dan di luar: debt collector geram menunggu”]

1988/2008



OUT OF PHYSICS

karena yang tampak itu yang menampakkan
diri dan yang menangkap tampakan; karena
yang terdengar itu yang bersuara, suara dan
yang menangkap suara dari yang bersuara itu

maka: apa nama dari kepastianmu tentang
”harum kesturi” di tengah kelam malam
bila kenangan dan prasangkamu akan ”harum
kesturi” itu bersikukuh memastikan akannya?

: seperti pukau ada di tempat yang telah ada
yang membuatmu tak merasa diadakan dan
semua tak akan dimusnahkanYang Mengadakan
[--buang bait ini kalau membuatmu jadi pening]

karena pengetahuan itu ihwal hal yang diketahui
dan siapa yang mengetahuinya, maka aku minta
Dia yang menyelenggarakan diskusi tahu muncul
: mengharap diajari ilmu di luar besaran ilmu alam

1988/2008



OUT OF GEOLOGY
–nirwan dewanto

di kaibab trail, di antara coconino plateau di titik
7260 kaki permukaan laut dan suspensión bridge
di 2420 kaki, di atas rentangan lesu colorado river
: merenungi lapisan tanda perjalanan waktu di bumi

leluhur hualapai, leluhur havasupai, bahkan hopi
serta navayo–mungkin leluhurku juga–: bagai
elang melayang diusung udara panas, membubung
hingga bayangannya melintas pada dinding jurang,
mengeja-ngeja di lapisan tanah. bergegas di antara
tatapan dan kilat kamera pelancong berbaju katun,
yang abai pada pertanda: setelah 2 abad siapa yang
tetap perkasa pada permukaan bumi ciptaan manitou?

bumi yang carut-marut di antara rocky mountain
dan sierra nevada itu bernama colorado plateau:
bagai si kakek menidurkan grand canyon dengan
sponge, karang, kerang dan kapur. mungkin juga
mantra kebangkitan bagi dengki yang ditidurkan,
jadi granit bungkam yang lena di kedalaman dan
dihimpit pasir, jemu digencet dalam menanti tiba
kode jari waktu. bisakah ia tetap sabar dan tawakal?

di hadapan jam atomik yang abai akan fosil: manusia
hanya abstraksi. eksistensi hanyalah desir pasir-pasir
painted desert dihela angin dan sampai di reservation
–kemashuran itu hanya sisa debu di sela kuku jari kaki

1988/2008

Read More......

Sajak-Sajak Arif Junianto

http://www.surabayapost.co.id/
Berkalung Mendung

demi segala kabut di puncak laut,
aku menunggumu
kerudung yang berkalung mendung
terkibas oleh riuh yang begitu deras
sebab jejak telah demikian koyak
dan waktu begitu bisu,
mengeras keras
tepekur ini,
wujud segala kata yang mengumpar
pada palung yang tak berdasar
serupa hujan yang kutulis, memusar
pada rumput, pada lumut,
dan bangkai perahu yang ditelan dermaga
seperti peziarah yang lelah memunguti arah
dan menyetubuhi tanah-tanah
demi sungai yang berhulu di dadaku,
aku menunggumu
tibatiba rapalan doa
yang menjelma sempurna
menjadi selembar peta
ah, tetapi dunia begitu luka
bahkan dalam keriuhanmu,
kerudung yang berkalung mendung itu
begitu saja penuh duka
jarakmu, jarakku, jarak kita
adalah wujud maut
berkarib dengan pantai
yang terus susut
bagimu,
mungkin kerudung bukan sekedar
berkalung mendung,
sebab bebatu kali
jelmaan langit yang menghantam bumi
hingga membuat tubuhmu: tubuh kita
begitu tak berjarak dari segala
retak
mungkin puisi hanyalah secuil sepi
yang oleh penyair,
dilebur dalam bahasa
yang begitu getir

Surabaya, 2008



Sebuah Perkenalan

aku mengenalmu dari gumantung kabut
dari gerimis yang dibaptis
laut, adalah persinggahan terakhir
hening tebing terpelanting
mencair, dalam belukar
yang mengungsikan ingataningatan liar
dalam kamar penuh mawar
yang tak pernah terlihat mekar
ijinkan aku menyebutmu, penyairku
sebab syair tak terasa anyir, di tanganmu
takdir mengalir, limbung
sepi yang dilarung mendung
dan segala kerinduan akan kematian
(aroma keranda, jasad kamboja
dan jejak-jejak mayat yang tersayatsayat)
lalu terciptalah kabut itu,
sebagai wujud perkenalan kita, penyairku

Surabaya, 2008



Aubade

adalah matamu yang melahirkan sajaksajakku
melampaui malam,
pada dasarnya yang paling kelam
lalu tubuhku begitu saja terlempar
di sebalik kelopakmu itu, ibu
adalah kecantikanmu, yang menggigilkanku
melebihi sepinya pagi,
dimana hening adalah awalmula segala bening
embun yang singgah di ujung pintuku
tergeragap disergap senyap
dan bulan yang lengang itu,
adalah wujud aslimu, ibu
sebab hanya raung mendung yang tiba di sini
dan segala rindu yang ditahbiskan
jutaan hujaman hujan
lalu, ibu
haruskah kularungkan segala benih kerinduan
pada denyar hujan dan geletar azan
yang ditabuh surausurau
dan selalu terdengar parau
ibu, kini,
nanti, doamu menjelma pagi
sebab,
aku terlampau sunyi
dalam ingataningatan yang kering
membuatku begitu terasing
maka,
untukku,
rebahkanlah gunung itu, ibu
hanya supaya lidahku kembali mudah
mengucap dan melafal doa,
melepas lelah
segala masa lalu dan kibasan sejarah
ah, mungkin saja segala doa
kini sudah kehilangan banyak kata

Surabaya, 2008



Sebuah Kesaksian Kecil

merapal namamu
adalah ritus,
bagiku
(sebuah malam terbalut belukar)
hampa ialah lambang
bebatang kerontang
gelombang pasang
waktu laut berdentang
keremajaanmu, Magdalena
adalah jalanjalan panjang
sulursulur pematang, yang
kemudian menghilang
(pada bangkai dermaga
dan sejarah yang begitu dahaga)
mungkin sungai
lelah bercakap dengan pantai
saat matamu lamur
dan tajam sangkur
merajam doa
merajam mantra,
ucapmu:
“akulah kesaksian
akulah kesangsian”
saat kau undur selangkah
dari detik yang lelah
berkisah
sebab kesaksianmu, Magdalena
terlalu ranum buat kau rangkum
sebab katakata
: liang kubur bagi para pendosa

Surabaya, 2008



Metafora Doa

doamu, ibu
hidup
hanya sebatang kertas usang
; parau kemarau
reranting kerontang
dan geletar guguran
kambojakamboja kuburan
berkisah
tentang pelaminan
tentang goyang kembang mayang
serupa sekar mekar
—dalam pendar
dengan segala metafora, ibu
kau tahu
aku berdoa
jelma dentuman
gumam mendiam
lalu di hulu,
ruhmu menunggu
mulai menari
dengan iring desing angin
dan getar rintih
bende
: suara azan
yang ditabuh ombak
dan langit sore

maka,
hanya dengan metafora, ibu
aku berdoa

Surabaya, 2008

Read More......

Sajak-Sajak Timur Sinar Suprabana*

http://www.kompas.com/

di mata Rindu
:cerita buat eL

di mata Rindu
barangkali aku cuma mripatdadu
tapi di mata Rindu
tiada bisa Jerit menjeratku

padahal telah ia pertaruhkan
seluruh harapan
dan padahal telah ia retaskan
segala pautan

di mata Rindu
di pandang yang menempurungiku
sungguh justru
kutemu Kalbu

luar biasa biru



di mata Nestapa

di mata Nestapa
tiada kusua cinta
segala kosong menjelaga
semua hampa
meraya
kelabu tua

rimbun dan rimba
oleh derita
oleh rasa sengsara
oleh daya siasia
kerna di mata Nestapa
jiwa selalu menghunus pedangnya

terarah ke jantunghati bungabunga



di mata Gulita

tak ada jelita
membayang di mata Gulita

tak ada gerimis hari senja
meriwis di mata Gulita

tak ada warna bungabunga
merona di mata Gulita

tak ada
selain Tiada

sungguh tak ada



di mata Malu

di situ
apa yang kaulihat masih berpintu

selain syahwat memerah dadu

itulah sebab mengapa di mata Malu
tiap riwayat bercadar ragu dan bisu

selalu



di mata Kata

tiap hari
badan, tubuh dan diri
teruji Janji
sampai hijaulesi

di mata Kata
jiwa senantiasa ditempa
biar keluar kilaunya
biar berubah biru merahnya

meski bukan oleh tangantangan dewa



di mata Bunga
:dalam mimpiku
gus mus bersorban Ungu

timur tidur
mendaur umur
di tidur timur
tiada yang pejam atau mendengkur

:hening sunyi tak terkata
namun tiada kosong terpeta
kerna kangen dan cinta
mengembuni nafas tidurnya

tiap ketika timur tidur
ombak, angin dan bintangbintang berbaur
senyum, bisik dan pelukcium bertabur
beri nyala segala suar dan saur

:gema menggempita tak terkira
berjalinpilin saling menyatakan cinta
kerna yang paling dibutuhkan dunia
memang sedang hanya Cinta

ungu bersemu merahdadu



di mata Cinta

di mata Cinta
tak mukim cuma Cinta ternyata
lebih banyak cinta ketimbang Cinta
tanpa pandang mata gembira

di mata Cinta kau bisa pilih sesukasuka
mana jenis luka dan bahkan nestapa
yang semula kau sangka Cinta
ternyata tapi hanya sekadar cinta

“ikutlah aku,” bisik Kalbu
tapi engkau memilih terpedaya kilau itu
meninggalkan Ia yang berbisik kepadamu
menjadikannya bertahun menanggung Rindu

“selalu kutunggu pulangmu,” ratap Kalbu
tapi engkau menuju Pergi ke banyak pintu
meski padahal jalan tiada berbatubatu cuma satu
tapi kaupilih yang berbadaibadai itu

apakah kerna engkau muda dan jelita
apakah kerna engkau perkasa penuh nyala
apakah kerna engkau merasa diri putra angkasa
apakah kerna engkau putus asa

di mata Cinta ada yang pelahan berkata,
“aku tak mengenalmu, Kanda.”



di mata Tanya

ya
dan Ya
kau
dan Kau
meraya
berkilau
di mata Tanya

demi Masa



di mata Tidak

angin
baru saja singgah
sebentar
mengapung
termangu di depan papan nama
jejaknya tertinggal sedih
di tiap huruf

“siapa?” tanyamu. “engkaukah
yang mencongkel huruf we
di papan nama itu?”

cinta. kataku. mungkin Cinta

ia menggeleng
menghela nafas
sebelum menggumam suam
“pasti bukan Cinta
kerna sudah lama ia
tak lagi pernah menyambangi kita.”

o, betapa andai bisa
kembali kuusap airmata



tentang Debu

debu
di kalbu
luruh
terbasuh
senja
ditunggu Jiwa
malam
tak kelam

ingin yang congkak
sejenak terdepak
sebentar tunduk
merunduk
rembulan Jelita
mempesona
doa terkirim
takzim
biru
:sepenuh Rindu



tentang Kilau

o, siapa gemerlap mencahya dalam senyap
berkilau mengertab seluruh gelap
tak tergoda di gelombang coba
tak berpaling meski terpelanting

o, siapa selain Pencinta
…..
:engkau, Saudara
semoga di antara mereka

ada!



tentang Riang

ada yang bernyanyi
menari
dalam sunyi
:meminang hati

ada yang menanda usia
menakik nama
dalam cinta
:menghijaukan jiwa

malam terhampar
menggeletar
berbinar
:membirukan debar

doa, wirid dan dzikir
membulir bergulir
mengalir
:membeningkan pikir

lindap
tapi tak Senyap!



tentang Mata

mata mati, hati lahir kembali.
caci mati, negeri semi lagi.

ketika mata mati caci mati
ketika hati lahir kembali
ketika negeri semi lagi
:kita punya hari buat nyanyinari

meski dalam sunyi
walau di urat sepi
tapi telah jauh kita dari api
dari kata dan pandangmata berduri
yang bertahun bikin hidup nyeri

sekarang
di sini
selain terang
:mati



mati Sudah

di hati hari
cinta Mati

di cinta Mati kabut tak terperi
menyungkup negeri

ragu
mangu
:tiada yang tak kelabu

bahkan kalbu telah pula berdebu
dan kehidupan mulai selalu tersedu

kerna di hati, di hari
cinta Mati
2008

*) Menyair sejak lebih duapuluhtahun lalu. Sajak-sajaknya terpublikasikan melalui pelbagai media massa cetak yang terbit di Tanah Air dan terhimpun dalam 22 antologi puisi. Selain menyair, Timur juga rajin mengkomunikasikan sajak-sajaknya melalui pertunjukan seni baca puisi di berbagai kota di Indonesia. Kumpulan sajaknya, sihirCinta, terbit Februari 2008. Timur juga menulis cerita pendek, bermain drama, aktif dalam forum-forum bersusastra serta mengelola rumah budaya gubuGPenceng. Penyair ini tinggal di Semarang. Email: timursinarsuprabana@gmail.com.

Read More......

Sajak-Sajak Indrian Koto

http://www.lampungpost.com/
Lorong Ingatan
-bersama ms

melewati jalan dan keramaian ini
aku seperti dikembalikan pada masa lalu yang jauh
kenangan yang hanya ingin kuingat sebentar saja
tapi jalan dan simpangnya
keributan dan aromanya
telah membuat aku kembali remaja
bersamamu, kususuri setiap peristiwa lalu
masa lalu busuk yang sedikit melankolis
kota, bagaimanapun bekejaran dengan waktu
tapi di sini, kurasa segalanya terhenti
aku seperti dipulangkan sebagai bocah kecil
yang menyusuri jalan yang sama;
lorong, tangga, jalan becek, dan terminal
bagaimana sebuah kota hidup tanpa terminal?
aku menduganya, di sini tak ada keberangkatan
tak ada yang kembali
segalanya hidup dengan rasa
tapi tidak juga. gedung-gedung raksasa
tumbuh dari tanah
menghapus kenangan akan cericit ban, berisik calo
dan hujan perpisahan
bersamamu, kutelusuri kota yang sumpek
tak banyak yang berubah
sekaligus menumbuhkan kecemasan baru
akankah mereka, penghuni kota, kehilangan
perihal lain sehingga kota tak lagi layak di sebut kota

2008



tersebab rindu

sebab rindu tak memiliki pintu
kau boleh memasukinya dari arah mana pun
salipkan aku kekasih, di hatimu
agar tak ada lagi yang pergi
sesiang ini, di kota yang ramai ini
orang-orang hibuk dengan diri sendiri
dan enggan berbagi dingin
aku tak berani keluar rumah
tak bisa ke mana-mana
lalu jika kau pergi, aku bisa menguntit diam-diam
aku ingin melihat keramaian
tanpa terlihat siapa pun
di hatimu, di hatimu
kutemukan tempat ternyaman untuk
berbagi rindu dan rasa sepi
jangan biarkan dirimu kosong
orang-orang, dengan kesibukan yang monoton
menyembunyikan sepi di ketiaknya
sedang dingin mengepung kita dari sudut mana pun
matahari, matahari menumpangkan lemari es
di kulit kita yang gosong
garam telah diangkut laut ke muara jauh
sebab rindu tak memiliki pintu
biarkan aku sembunyi di hatimu
di luar, terlalu menakutkan
dan aku tak ingin berbagi rasa dingin dengan siapa pun
mungkin juga denganmu, sebenarnya

Yogyakarta, Juli 2



Lidah Kabut
-Raudal Tanjung Banua

Menyusuri lekuk tanjung dan palung yang lain
aku seperti melayari tubuh ibu
saat dimana duka cita menyerang malam-malam.
Hujan menduga-duga setiap ingatan
lewat lenguh cuaca yang terselip di ujung kampung.
Rumah adalah kubus-kubus sungai, kubus-kubus ingatan
tempat ibu menanam rindu.
Layar telah dipasang,
keberangkatan tak mesti melayari pulang.
Dan matahari, kedalaman yang entah di mana ujungnya
telah menyeretku dalam pusaran
yang mendamparkanku pada sajak demi sajak.
Angin melolong sedih, antara luka dan kesepian
ketika pantai tinggal segenggam ingatan.
Angkat sauhmu, uda
kita berlayar di laut ingatan.



Bagi yang cemas di Tapal batas

Aku akan pulang,
Sebelum kau sempat pamit
Duluan.



Ekstase II

mengenalmu, aku hanyalah jejak
dan kau adalah bayang
yang bersisa dari mimpi semalam
tatkala laut dipukat lupa
di sebuah malam yang hampir padam



Ada yang Tidak Biasa

ini malam yang dulu-dulu juga
dengan segala yang tampak sama
ada yang lain tumbuh di sini
menyelinap di tubuhku
getar yang tiba-tiba berlabuh
pada-Mu
——–

*) Lahir 19 Februari 1983 di Kenagarian Taratak, kampung kecil di Pesisir Selatan Sumatera Barat. Saat ini tercatat sebagai mahasiswa Sosiologi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bergiat di Rumahlebah Yogyakarta. Bersama kawan-kawan mendirikan Forum Diskusi dan Analisis (Fodka) yang intens mengkaji sosial-budaya dan filsafat. Ikut mendirikan dan aktif di Rumah Poetika. Beberapa tulisannya berupa cerpen dan puisi pernah dimuat di media nasional dan daerah. Puisinya dan cerpennya termuat dalam beberapa antologi bersama.

Read More......

Sajak-Sajak Sri Wintala Achmad

http://www.lampungpost.com/
Ikan dalam Kolam

Di permukaan kolam, ikan mengecipakkan kegelisahan
Hasratnya meraih bulan jauh dari rengkuhan
Di dalam kolam, ikan meluncurkan kehidupan kecilnya
Seperti anak panah yang melesat tanpa arah
Di dasar kolam, ikan menidurkan keputusasaan
Berbantal bayangan bulan yang pupus di pagi hari

Cilacap, 05022009



Pelajaran I

Tofan berpusar seperti naga api
Mengajarkan pada Bima
Lelaki kecil yang
Bakal menyelam ke dalam lautan rahasia
Di mana Ruci, protret diri
Tersingsal di lipatan hati

Cilacap, 01052009



Pelajaran II

Lelaki kecil menerobos badai
Bersenjata tombak warisan moyangnya
Mencuri putri pembayun yang
Terpasung di balik tembok baja
Di mana setiap pintu dijaga prajurit pilihan
Bertopeng dengan mata api
Lelaki kecil pantang pulang
Demi cinta, kematian telah dipertaruhkan

Cilacap, 01052009



Pelajaran III

Seperti kekupu terperangkap di dalam ruang
Berpintu-jendela terkunci
Aku adalah lelaki bodoh yang
Menghabiskan usia dengan pemberontakan tersia
Aku adalah cicak yang terjebak
Ke dalam gelas berampas kopi
Memertaruhkan maut demi kenikmatan sekejap
Lantas kebodohan macam apa lagi ini?
Berakhir aku seperti kau
Lelaki pengembara yang tak mengenal peta
Hingga buta jalan pulang
Selain kebodohan sebagai guru pilihan

Cilacap. 07052009

*) Lahir di Sleman, 29 Januari 1964. Pernah kuliah sebentar di Fak. Filsafat UGM Yogyakarta. Menulis dalam tiga bahasa. Karya-karya sastra dan esai seni-budayanya dipublikasikan di berbagai media massa dan tergabung dalam beberapa antologi kolektif. Sekarang tinggal di Cilacap Utara, Jawa Tengah.

Read More......

Sajak-Sajak WS Rendra

http://oase.kompas.com/
Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta

Pelacur-pelacur Kota Jakarta
Dari kelas tinggi dan kelas rendah
Telah diganyang
Telah haru-biru
Mereka kecut
Keder
Terhina dan tersipu-sipu

Sesalkan mana yang mesti kausesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kaurelakan dirimu dibikin korban

Wahai pelacur-pelacur kota Jakarta
Sekarang bangkitlah
Sanggul kembali rambutmu
Karena setelah menyesal
Datanglah kini giliranmu
Bukan untuk membela diri melulu
Tapi untuk lancarkan serangan
Karena
Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan kaurela dibikin korban

Sarinah
Katakan kepada mereka
Bagaimana kau dipanggil ke kantor menteri
Bagaimana ia bicara panjang lebar kepadamu
Tentang perjuangan nusa bangsa
Dan tiba-tiba tanpa ujung pangkal
Ia sebut kau inspirasi revolusi
Sambil ia buka kutangmu

Dan kau Dasima
Khabarkan pada rakyat
Bagaimana para pemimpin revolusi
Secara bergiliran memelukmu
Bicara tentang kemakmuran rakyat dan api revolusi
Sambil celananya basah
Dan tubuhnya lemas
Terkapai disampingmu
Ototnya keburu tak berdaya

Politisi dan pegawai tinggi
Adalah caluk yang rapi
Kongres-kongres dan konferensi
Tak pernah berjalan tanpa kalian
Kalian tak pernah bisa bilang ‘tidak’
Lantaran kelaparan yang menakutkan
Kemiskinan yang mengekang
Dan telah lama sia-sia cari kerja
Ijazah sekolah tanpa guna
Para kepala jawatan
Akan membuka kesempatan
Kalau kau membuka kesempatan
Kalau kau membuka paha
Sedang diluar pemerintahan
Perusahaan-perusahaan macet
Lapangan kerja tak ada
Revolusi para pemimpin
Adalah revolusi dewa-dewa
Mereka berjuang untuk syurga
Dan tidak untuk bumi
Revolusi dewa-dewa
Tak pernah menghasilkan
Lebih banyak lapangan kerja
Bagi rakyatnya
Kalian adalah sebahagian kaum penganggur yang mereka ciptakan
Namun
Sesalkan mana yang kau kausesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kau rela dibikin korban
Pelacur-pelacur kota Jakarta
Berhentilah tersipu-sipu
Ketika kubaca di koran
Bagaimana badut-badut mengganyang kalian
Menuduh kalian sumber bencana negara
Aku jadi murka
Kalian adalah temanku
Ini tak bisa dibiarkan
Astaga
Mulut-mulut badut
Mulut-mulut yang latah bahkan seks mereka politikkan

Saudari-saudariku
Membubarkan kalian
Tidak semudah membubarkan partai politik
Mereka harus beri kalian kerja
Mereka harus pulihkan darjat kalian
Mereka harus ikut memikul kesalahan

Saudari-saudariku. Bersatulah
Ambillah galah
Kibarkan kutang-kutangmu dihujungnya
Araklah keliling kota
Sebagai panji yang telah mereka nodai
Kinilah giliranmu menuntut
Katakanlah kepada mereka
Menganjurkan mengganyang pelacuran
Tanpa menganjurkan
Mengahwini para bekas pelacur
Adalah omong kosong

Pelacur-pelacur kota Jakarta
Saudari-saudariku
Jangan melulur keder pada lelaki
Dengan mudah
Kalian bisa telanjangi kaum palsu
Naikkan tarifmu dua kali
Dan mereka akan klabakan
Mogoklah satu bulan
Dan mereka akan puyeng
Lalu mereka akan berzina
Dengan isteri saudaranya.



Nyanyian Suto untuk Fatima

Dua puluh tiga matahari
bangkit dari pundakmu.
Tubuhmu menguapkan bau tanah
dan menyalalah sukmaku.
Langit bagai kain tetiron yang biru
terbentang
berkilat dan berkilauan
menantang jendela kalbu yang berdukacita.
Rohku dan rohmu
bagaikan proton dan elektron
bergolak
bergolak
Di bawah dua puluh tiga matahari.
Dua puluh tiga matahari
membakar dukacitaku.
Nyanyian Fatima untuk Suto

Kelambu ranjangku tersingkap
di bantal berenda tergolek nasibku.
Apabila firmanmu terucap
masuklah kalbuku ke dalam kalbumu.

Sedu-sedan mengetuk tingkapku
dari bumi di bawah rumpun mawar.
Waktu lahir kau telanjang dan tak tahu
tapi hidup bukanlah tawar-menawar.



Rajawali

Sebuah sangkar besi
tidak bisa mengubah rajawali
menjadi seekor burung nuri

Rajawali adalah pacar langit
dan di dalam sangkar besi
rajawali merasa pasti
bahwa langit akan selalu menanti

Langit tanpa rajawali
adalah keluasan dan kebebasan tanpa sukma
tujuh langit, tujuh rajawali
tujuh cakrawala, tujuh pengembara

Rajawali terbang tinggi memasuki sepi
memandang dunia
rajawali di sangkar besi
duduk bertapa
mengolah hidupnya

Hidup adalah merjan-merjan kemungkinan
yang terjadi dari keringat matahari
tanpa kemantapan hati rajawali
mata kita hanya melihat matamorgana

Rajawali terbang tinggi
membela langit dengan setia
dan ia akan mematuk kedua matamu
wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka



Doa di Jakarta

Tuhan yang Maha Esa,
alangkah tegangnya
melihat hidup yang tergadai,
fikiran yang dipabrikkan,
dan masyarakat yang diternakkan.

Malam rebah dalam udara yang kotor.
Di manakah harapan akan dikaitkan
bila tipu daya telah menjadi seni kehidupan?
Dendam diasah di kolong yang basah
siap untuk terseret dalam gelombang edan.
Perkelahian dalam hidup sehari-hari
telah menjadi kewajaran.
Pepatah dan petitih
tak akan menyelesaikan masalah
bagi hidup yang bosan,
terpenjara, tanpa jendela.

Tuhan yang Maha Faham,
alangkah tak masuk akal
jarak selangkah
yang bererti empat puluh tahun gaji seorang buruh,
yang memisahkan
sebuah halaman bertaman tanaman hias
dengan rumah-rumah tanpa sumur dan W.C.
Hati manusia telah menjadi acuh,
panser yang angkuh,
traktor yang dendam.

Tuhan yang Maha Rahman,
ketika air mata menjadi gombal,
dan kata-kata menjadi lumpur becek,
aku menoleh ke utara dan ke selatan -
di manakah Kamu?
Di manakah tabungan keramik untuk wang logam?
Di manakah catatan belanja harian?
Di manakah peradaban?
Ya, Tuhan yang Maha Hakim,
harapan kosong, optimisme hampa.
Hanya akal sihat dan daya hidup
menjadi peganganku yang nyata.



Sajak Pertemuan Mahasiswa

Matahari terbit pagi ini
mencium bau kencing orok di kaki langit
melihat kali coklat menjalar ke lautan
dan mendengar dengung di dalam hutan

lalu kini ia dua penggalah tingginya
dan ia menjadi saksi kita berkumpul disini
memeriksa keadaan

kita bertanya :
kenapa maksud baik tidak selalu berguna
kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga
orang berkata : “kami ada maksud baik”
dan kita bertanya : “maksud baik untuk siapa ?”

ya !
ada yang jaya, ada yang terhina
ada yang bersenjata, ada yang terluka
ada yang duduk, ada yang diduduki
ada yang berlimpah, ada yang terkuras
dan kita disini bertanya :
“maksud baik saudara untuk siapa ?
saudara berdiri di pihak yang mana ?”

kenapa maksud baik dilakukan
tetapi makin banyak petani kehilangan tanahnya
tanah – tanah di gunung telah dimiliki orang – orang kota
perkebunan yang luas
hanya menguntungkan segolongan kecil saja
alat – alat kemajuan yang diimpor
tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya

tentu, kita bertanya :
“lantas maksud baik saudara untuk siapa ?”
sekarang matahari semakin tinggi
lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala
dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :
kita ini dididik untuk memihak yang mana ?
ilmu – ilmu diajarkan disini
akan menjadi alat pembebasan
ataukah alat penindasan ?

sebentar lagi matahari akan tenggelam
malam akan tiba
cicak – cicak berbunyi di tembok
dan rembulan berlayar
tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda
akan hidup di dalam mimpi
akan tumbuh di kebon belakang

dan esok hari
matahari akan terbit kembali
sementara hari baru menjelma
pertanyaan – pertanyaan kita menjadi hutan
atau masuk ke sungai
menjadi ombak di samodra

di bawah matahari ini kita bertanya :
ada yang menangis, ada yang mendera
ada yang habis, ada yang mengikis
dan maksud baik kita
berdiri di pihak yang mana !



Pamflet Cinta

Ma, nyamperin matahari dari satu sisi.
Memandang wajahmu dari segenap jurusan.

Aku menyaksikan zaman berjalan kalang-kabutan.
Aku melihat waktu melaju melanda masyarakatku.
Aku merindui wajahmu.
Dan aku melihat wajah-wajah berdarah para mahasiswa.
Kampus telah diserbu mobil berlapis baja.
Kata-kata telah dilawan dengan senjata.
Aku muak dengan gaya keamanan semacam ini.
Kenapa keamanan justeru menciptakan ketakutan dan ketegangan.
Sumber keamanan seharusnya hukum dan akal sihat.
Keamanan yang berdasarkan senjata dan kekuasaan adalah penindasan.

Suatu malam aku mandi di lautan.
Sepi menjadi kaca.
Bunga-bungaan yang ajaib bertebaran di langit.
Aku inginkan kamu, tetapi kamu tidak ada.
Sepi menjadi kaca.

Apa yang bisa dilakukan oleh penyair
Bila setiap kata telah dilawan dengan kekuasaan?
Udara penuh rasa curiga.
Tegur sapa tanpa jaminan.

Air lautan berkilat-kilat.
Suara lautan adalah suara kesepian
Dan lalu muncul wajahmu.

Kamu menjadi makna.
Makna menjadi harapan.
… Sebenarnya apakah harapan?

Harapan adalah karena aku akan membelai rambutmu.
Harapan adalah karena aku akan tetap menulis sajak.
Harapan adalah karena aku akan melakukan sesuatu.
Aku tertawa, Ma!
Angin menyapu rambutku.
Aku terkenang kepada apa yang telah terjadi.

Sepuluh tahun aku berjalan tanpa tidur.
*Punggungku karatan aku seret dari warung ke warung.
Perutku sobek di jalan raya yang lenggang…
Tidak. Aku tidak sedih dan kesepian.
Aku menulis sajak di bordes kereta api.
Aku bertualang di dalam udara yang berdebu.

Dengan berteman anjing-anjing geladak dan kucing-kucing liar,
Aku bernyanyi menikmati hidup yang kelabu.

Lalu muncullah kamu,
Nongol dari perut matahari bunting,
Jam dua belas seperempat siang.
Aku terkesima.
Aku disergap kejadian tak terduga.
Rahmatku turun bagai hujan
Membuatku segar,
Tapi juga menggigil bertanya-tanya.
Aku jadi bego, Ma!

Yaaahhhh, Ma, mencintai kamu adalah bahagia dan sedih.
Bahagia karena mempunyai kamu di dalam kalbuku,
Dan sedih karena kita sering terpisah.
Ketegangan menjadi pupuk cinta kita.

Tetapi bukankah kehidupan sendiri adalah bahagia dan sedih?
Bahagia karena nafas mengalir dan jantung berdetak.
Sedih karena fikiran diliputi bayang-bayang.
Adapun harapan adalah penghayatan akan ketegangan.

Ma, nyamperin matahari dari satu sisi,
Memandang wajahmu dari segenap jurusan.

Read More......