Langsung ke konten utama

HIKAYAT CAHAYA RASA ARDHANA

Nurel Javissyarqi
www.facebook.com/nurelj

(I)
Rambut memanjang arang menawan
kelopak mata sendu elang lautan
alisnya pepohonan bukit barisan
hidung mancung menikam jantung.

(II)
Dua gegaris pedang ke bawah jurang
bibir kawah simpul memawar merah
aroma melati lati sukma sejati rasa.

(III)
Dewi Ardhanareswari tersenyum madu sutra
kepala sedikit menantang bagaikan kepodang.

(IV)
Leher panjang ke kawah candradimuka
pemujaan api di tungku menjilati udara
menari tarikan tarikh asmara
abunya melayang ke angkasa.

(V)
Tubuh bersih batuan marmer singgasana
tangan lentik memetik bintang kemukus
setinggi pohon jati menggayuh langit
terpetiklah kalbu memendam rindu.

(VI)
Selurus tongkat emas kaki jejakkan tanah
selembut kayu putih tertanam di pebukitan
gemulai langkah bambu ditarik angin senja
kaki rumputan tangan rembulan dewi Ardha.

(VII)
Awan berarak pulang ke pantai utara
menempuh bulan purnama memancar
menembangkan ketentraman malam:
hangat nyala unggun menyingkapnya
menghidupkan seluruh galaksi cinta.

(VIII)
Tak ada sumber tenaga selain darinya
tiada sumbu kecuali kobarkan apinya
segala raja ditenggelamkan
para pangeran dia rajakan.

(IX)
Dewi Ardhana seputri tanjung karang
lidah mengombak menjilat menerjang
gelombangnya menggulung masa-masa.

(X)
Bunga karang dalam jambangan
nuraninya terbuai rindu menderu
memandang langit lekas bertemu
kembang angin beraroma syahdu
tebar wangi kesungguhan rahayu.

(XI)
Sukmanya menyerupai dewi Parwati
lakunya separas Tribuanatunggadewi
sayapnya mengepak seelok Sembrani.

(XII)
Siapa teriris merana, terpikat laksanya
semua tokoh wayang agungkan dirinya
pangeran sunyi terbuai pekabutan asmara
dan selendang putri membalut luka hatinya.

(XIII)
Di pucuk-pucuk daunan hijau
menikam langit temu mentari
yang padam nyalakan semangat juang
acungkan keris melabrak kepalan tuan.

(XIV)
Kesumat bertemu muka membara
keris tertancap ke ulu hati sudah
darah muncrat nyawa melayang
telah ditimbangnya segala jalan.

(XV)
Cemara tujuh saksi bisu
kabut pagi bahasa syahdu
hujan gerimis pelukan bumi
seharum kembang kanthil
ke pelosok negeri jauh.

(XVI)
Siapa lagi jikalau bukan Dewi Parwati
pangeran muda terhanyut mengagumi
segala kerinduan menjelma pujaan
bunga-bunga meruh kasih sayang
tekatnya mereronceng kepulauan.

(XVII)
Nusantara bebijian mutiara mahkota raja
garis katulistiwa awan berarak ke persada
di tanah Jawa memendam cerita
Dewa-dewi menalikan sejarah
dengan udara bersentuh rasa
atas guratan pena tergarislah.

1999 Yogyakarta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…