Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Sunlie Thomas Alexander

http://www.lampungpost.com/
Kota Kelahiran

lupakanlah namaku, maka aku
dengan sedih akan mengingat namamu
yang berserbuk
di lengang jalan-jalanmu, perlahan
kuhapus jejakku, lantaran
berdesakan kota-kota rantau di dadaku,
pun yang tak tersebut namanya
dalam mimpimu
di langitmu, kulihat bulan tak ada
selain legam yang mempersiangi kita
: dingin itu, dingin itu!
serupa legion asing, setiap akhir musim
yang basah, aku menjengukmu
dengan impian yang latah
sembari membayangkan,
barangkali sebuah kota imaji
dalam kisah-kisah liar
yang tumbuh di sembarang tempat
dan waktu
tapi aku telah kehilangan
malaikat karib di masa kecilku
yang bergantungan di tiang tiang dermaga tua,
dan karena itu tahu, kita semakin kaku bersapa
lupakanlah namaku, maka aku
dengan sedih akan mengenang namamu
yang berdebu
sebelum kapal kembali bertolak,
sebelum waktu berteriak,
dan teluk bergolak…
: atau kita mulai terang berseteru!

Belinyu-Yogyakarta, Agustus 2007



Kygrma
: bagi p.d., pelacur para dewa

ajari aku batas surga dan dosa, kau berkata
antara langit yang genting
dan waktu meruncing
tapi seperti peziarah abu-abu,
aku melintasi abad-abad yang nyeri
menyamar di tengah pesta dewa,
dan melihat tubuhmu
sebagaimana altar batu yang purba;
tempat para dewa memuja cintanya!
hingga angkasa pun lebur di bumi
karena wewangi dupa, sesajen dan bunga bunga
karena doa doa luruh serupa dedaunan basah
sedang pada gaib ceruk matamu,
puisi puisi meronta
seperti mabuk para dewa
menyihir kota-kota jadi lautan asmara
menyulap jalan-jalan jadi cahaya
seperti asinnya mantra swargaloka
pada sebuah hari yang keramat di dada
oh, di matamu, bunga-bunga bertaburan
mirip sebuah musim yang entah
dan kesangsian menyeringai
bagai kata-kata menjamu luka,
jalang menantang segala yang celaka!
ajari aku batas antara surga dan dosa, kau meminta
antara langit yang tua
dan waktu yang tergesa
tapi sebagai peziarah abu abu,
aku melintasi abad-abad yang ragu
menyelinap ke tengah pesta dewa
dan melihat tubuhmu
serupa altar batu yang retak;
di mana para dewa menangisi cintanya!
sementara puisi puisi masih meronta,
masih meronta
sampai akhirnya bergolak
bersama birahi dewa-dewa
: di kesunyian pure!

Yogyakarta, 2007



Litani Kecemasan

Tuhan muncul dan lenyap
seperti merayap dalam gelap
dan tiba tiba kau merasa
malam menjadi lebih pekat
di balkon ini, kota karam dalam pengap
dan kau pun mengeluh,

kenapa udara seperti bau mesiu?
ah, mestinya kulupakan kesedihan ini,
juga doa-doa yang tak juga sunyi
seperti Tuhan
dan rasa dingin
baiknya kita bercerita tentang vampire
atau makhluk apa pun yang lebih ganjil,
yang mengancam imajimu
atau bayangkan kita di sebuah rawa
yang terkepung para zombie
di mana mungkin kecemasan akan berharakiri…
tapi malam semakin pekat,
paru-parumu semakin pengap
dan Tuhan terus saja muncul dan lenyap
seperti ular, seperti ular, ia terus merayap
di balkon ini, kita bagaikan orang dungu
yang menunggu waktu pecah di batu
sedangkan dingin tak juga berlalu
atau membeku
karena itu, berangkatlah!
kata perempuan itu
sebelum cuaca rusuh mengulitimu!

Belinyu, Agustus 2007



Tragedi

sebuah rahasia malam yang asing:
akhir Juli, bangku kayu, jalan yang basah
menjadi hantu bagi percintaan kita!
kadang-kadang,
Tuhan memang menghilang
dan ketakutan tumbuh
sebagaimana cendawan
begitulah kau menangisi musim yang jauh
ah, betapa aku merindukan
bau tubuhmu,
juga senyum yang pias itu:
berulang ulang menusuk dada,
hingga waktu berceruk luka
tapi bukan waktu semena,
bukan batu semata
seperti selongsong peluru pemburu
bersarang dalam ingatan kita
di sebuah simpang kenangan,
di tikung jalan, sia-sia
aku meluputkan sangsi
yang bertumbuh pada cinta yang purba,
pada raut wajahmu yang melankolia
hingga seseorang melengkingkan terompet
seperti sebuah tanda perang
bagi masa silam
lalu namamu, namaku, beralih
bagai bintang di dini hari
tapi itu bulan Juli, Tuhan sedang pergi
dan kita sama takutnya menyangkal diri

Yogyakarta, 2007



Sebuah Ruangan
: in memoriam,
thong sit jung (1917-1997)

sebuah ruangan
merawat kenanganmu
dalam haru
seperti bandul jam di pojoknya
yang urung berdentang itu
seekor cecak
merayap di dinding kayu kelabu,
menghilang ke balik lusuh kalender
yang senantiasa bisu
angka-angka abadi
atau mati
kita mungkin tak sempat tahu
aku hanya menebak
kalau di luar, hari telah malam
dari ampas kopimu:
masa kanakku yang sarat ragu!
seperti apakah waktu?
bakal menyimpan sisa
percakapan kita
atau menjelma hantu
yang bangkit dari abu
barangkali, di ruangan itu pun
tak ada lagi yang kita kenali
selain masa lalu
dan melulu ditakdirkan
berwajah sendu
rumah berdinding rapuh,
kenangan batu,
masa kecil yang ragu
adakah yang lebih bengal
daripada rindu?
ah, betapa pilu, betapa pilu…
segalanya yang mengabu
juga dari keluh!

Yogyakarta, 2007

*) Lahir di Belinyu, Pulau Bangka, 7 Juni 1977. Belajar Disain Komunikasi Visual di Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia dan Teologi-Filsafat di Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta sembari bergiat di Komunitas Rumahlebah dan Komunitas Ladang.

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com