Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak F Aziz Manna

http://cetak.kompas.com/
Penabuh

kau tampar kulit kendang seperti menampar kulit kami, kau tabuh kendang seperti menyentek hidup kami, kau buat penari itu berjingkrak seperti mendorong langkah kami, kau ramai- sepikan panggung seperti mengatur rizki kami, selama irama diizinkan, tarian hidup terus berjalan, tanganmu penentu nasib kami, tapi terkadang kami berpikir: siapa yang memulai semua mimpi buruk ini? ketukanmu atau igal tubuh kami? tapi semakin kami cari jawaban selalu ia mengelabui pikiran dengan pertanyaan tambahan, beranak pinak, membandang di pikiran dan kami yakini kebingungan sebagai sebuah awal penciptaan



Dadu

kau lempar dadu seperti melempar nasib kami, tujuanmu hanya satu: selalu lewat tangga menuju kotak terakhir permainan ular tangga itu, sedang kami selalu waswas dan harus awas: jangan masuk kotak mulut ular, hidup akan berjalan mundur, kami menunggu lemparan dadumu seperti menunggu garis takdir, sedang takdir selalu di luar dugaan kami, dan dadu menjadi ancaman tersendiri bagi kami, seperti juga tanganmu, tangan yang melempar dadu, dadu yang seperti nasib kami, kami pernah belajar mengeja kata dan mengolahnya jadi senjata tapi dunia berjalan dengan pelempar dadu ugal-ugalan, kerap melanggar aturan, kami pun hanyut dalam permainan penuh kecurangan



Laut Hitam

di laut ini kami tidurkan beragam impian tentang penghujan, musim semi dan lengkung pelangi, di laut ini kami leburkan seluruh warna jadi hitam, hanya hitam, sebab hidup kami kelam, nasib kami suram, dipinggirkan siang: kerja, kerja, kerja, upah lewat begitu saja, tak pernah menyapa, tak pernah bercengkerama, tertawa, laut jadi hitam, hanya hitam, seperti lingkar bola mata kami, kota-kota gelap, menyimpan penghuni gelap dalam rumah-rumah gelap, rumah kami, anak-anak kami, doa-doa hanya rintihan, hanya umpatan, impian tak pernah sampai, tentang penghujan, musim semi dan lengkung pelangi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…