Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak W Haryanto

http://www2.kompas.com/
Nyanyian Malam

jasad menangis dan maut tumbuh di jalan yang licin,
tapi siapakah yang telah berhianat di antara kita.
pada wajah mendung, kegairahan kita adalah hantu-
hantu
dari semua kediaman. ledakan nafas kita tergelincir,
menjadi bayangan ganjil di malam yang marah.
mungkin kita tak saling memaafkan seperti lolongan anjing
di balik bukit. menyadari hamparan tanah tandus di akhir
penglihatan. dan kenangan kita hanyalah getah gema di mulut
musim: kudengar bisikanmu di balik cahaya mati, dimana
ketandusan tanah tengah bernyawa dan kekuningan.
penglihatanku melolong dengan kekalahannya yang ajaib,
dan langit hamil derita.
benakku dipenuhi maut: ladang-ladang pekikan yang berlari,
dan pikiranku lebih lapar dari tanah tandus.

Surabaya, 1998



Dari Sebuah Pantai

melihatmu membeku; terbayangkan nyala lilin yang mati
di matamu. ngilu kecemasan yang membekas,
malam belum selesai dengan alurnya yang berkelit;
kau dicumbu ajal, dan membiarkan kulitmu menjadi angus-
gumpal malam di matamu, membersitkan makna pengelanaanku,
dan mengingatkanku pada beberapa jam usiaku yang hilang tandas.
selarik awan membentuk bayang-bayangnya di dasar kolam,
kuntum mimpi terhampar, hujan yang hidup dan menggoyangkan
daun jendela. akan membuat kulit kita lebih diam dari batu.
seakan percikan cahaya yang hendak menembus ketebalan kabut;
kita pernah berperahu untuk melawan nasib, dan menyadari bisikan
ombak pada malam: bahwa kita tak pernah sampai di akhir pergulatan ini.

Watu Prapat, 1995



Kepompong Kenangan

dari lubuk kamar, bulan runtuh untuk rasa kehilanganku.
tanah tandus akan membuat bumi tua seperti sebuah lukisan
tentang kota tua di bawah laut.
usiaku terus bergerak ke pedalaman malam, membersitkan penggalan
penggalan peristiwa di dinding kamar: senyummu kadang menyakitkan
lebih garang dari ancaman nyanyian serangga.
mereguk getah beracun di mulut masa lalu, aku melolong,
ketika kabut menjadi teramat dingin. dan akhir penglihatanku
tak memahami, bagaimana mula mimpi menyulut nyawa api,
hingga terlihat anak tangga ke lubuk masa lalu, dimana aku telah
terkantuk oleh bau candunya, segala yang tak ingin kuberi arti,
seperti bau keterpesonaanku pada pepohonan.

Surabaya, 1996

Komentar

Sastra-Indonesia.com