Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Gus tf Sakai

http://www2.kompas.com/
Materi Dingin

Dada yang kosong, baiklah. “Di bilikmu
mungkin memang bukan gelap. Tapi ketiadaan cahaya.
Berapa ratus tahun lagikah cahaya itu bakal sampai
ke ronggamu?” Raga cuma ilusi, materi dingin
yang sehari-hari bisa hilang.
Cahaya terus merambat. Memang. “Tapi engkau
tak mungkin hanya diam dalam gagasan kekal
bentangan
kosmos. Engkau tidur, Sayang. Hanya tidur. Dan bagianmu
bukanlah memang pantas kalau cuma mimpi?”
Lebih tinggi sedikit dari tanah, dari air, dari batu:
Materi dingin yang terus luput dari jiwa kosmik.

Payakumbuh 1997



Peniup Suling

Sekarang, mari kita keluar dari waktu. Waktu kita tak sama.
Malam bagimu, mungkin pagi bagiku. Tidakkah matahari selalu
datang pada orang-orang yang mengungkapkan diri dengan cara
berbeda?
Waktu kita tak sama. Kau meniup suling - entah kapan
dan di mana, tapi aku mendengarnya. Mungkin seseorang
membawa sejarah, dan ia tak hidup di zaman kita. Seperti engkau,
seperti aku, mungkin akan datang kembali: melampaui
dunia materi. Waktuku, mungkin pula tak datang
pada zamanmu. Begitu pula zaman orang yang kaucari.
Adakah mereka di orbit lain pada planet lain? Matahari
juga tak sama. Tapi engkau meniup suling. Tetapi aku
meniup suling. Suaranya. Mengalun lirih berputar-putar
Meliuk rincih membubung-binyar. Tubuhmu, mungkin memang
di si ni dan hancur. Tapi masa depan,
atau masa lalu, hanya milik
sulingmu, menembus ruang, waktu, bintang dan galaksi lain
yang tak kautahu.

Payakumbuh 1997



Jalan Akal, 1

Aku jatuh dari angkasa. Bumi bagiku asing. Selamat datang,
jiwa. Inilah ia, jalan akal yang terbentang. Panjang. Adakah
kautemukan pola - yang bernama raga? Entah.
Tapi lihat,
Aku dihadang oleh yang hancur, oleh yang kekal,
oleh sesuatu yang terus mengalir. Aku tidur, aku bangun,
dalam hari yang sama. Kota tumbuh, kota hancur,
hari itu juga. Bagaimanakah malam menjelma
siang - tanpa kuikut memutarnya? Bertahun-tahun,
berabad-abad
aku jatuh dari angkasa. Bumi bagiku asing.
Simpanlah ucapan selamat. Aku tersesat.
Raga siapakah, wahai, yang melikur
seperti busur pada diriku? Aku terjerat,
bertahun-tahun, berabad-abad. Adakah
seorang, entah siapa dari engkau
yang bisa kembalikan aku ke cetakan itu? Jiwa.
Aku jatuh dari angkasa. Diri bagiku asing.

Padang 1997

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com