Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Teguh Ranusastra Asmara

http://sastrakarta.multiply.com/
Sajak Akhir Tahun

ketika rindu lepas di ujung senja
angin melecut pada rahim puisi
ada bayangan yang mengaca
menatap sisa-sisa usiaku
begitu sepi

(tidurlah, dengan silang mautmu
yang ditinggalkan di ruji-ruji almanak
dan sementara Tuhan mengejangkan impian)

sepanjang jalan kecil ini
bulan telah mengasingkan ketakutan, di balik arloji
maka lahir bendera penyair
tanpa genderang kerajaan
hanya kelam dan duka
membalut wajahku

(tak usah tersedu
air matamu adalah pembrontakan
yang memberangkatkan siul-siul kebebasan)

Yogya, 1970



T a m a n

kuhitung langkah-langkah kaki dalam sepi taman
ketika hari tanpa suara, tegak kembali
jadi barisan waktu yang terlepas

angin tiba-tiba merendahkan lagu-lagu rindu
dan terbukalah nada fales pada angka
rahasia yang memberat, di ruangka
: belum bernama

Yogya, 1969



Malam Satu Suro

bergegas melintas gelombang, kabarpun sampai
di sini masih tersimpan warisan di batu
dupa dan kemenyan jadilah ceritera
mengundang mitos penuh berkah

doapun dilepas lewat kembang staman
ketika lembar almanak berganti
mengantar hasrat di malam satu suro
di sisi aroma penjaja cinta purba

ribuan kaki tertancap di pasir
dan hatimu kembali membeku di antara
rimbun rumput pantai yang mengering
segalanya pasrah menatap gugusan bintang jatuh.

Yogya, 1972



M a l i o b o r o

masih adakah yang kau becarakan malam ini?
sebait puisi jatuh menyeret peluit kereta
dari balik tembok, degup nafasmu
menyisakan luka batin
yang kau sanding dalam lipatan koran minggu

disini kau menguji janji
terpateri dalam kesetiaan
ketika jam menghitung untung rugi
dan gelisah senantiasa terbuang
di malioboro yang sepi

Yogya, 1970



S e n d i r i

aku berbaring disini di atas dipan
sebuah genting kaca, dimukaku
bercermin dalam bulan pucat
adakah yang kau rindukan malam ini ?
hanya sebuah bulan, di mataku
di balik genting kaca
pada tanggal dua yang merana, aku selalu begini
berpeluk guling tanpa kawan
mungkin tak ada lagi cinta buat orang lumpuh
sedang hatiku terus mengembara
ingin menarik bulan, di balik genting kaca

Yogya, 1969

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…