Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Iyut FItra

http://www.korantempo.com/
SESEORANG YANG TERUS BERLARI
: d u

kau tentu ingat ketika kita bercakap di tepi kolam sebuah hotel
gerimis turun ragu dan matamu merah lindap setelah beberapa botol wine
“aku lelah untuk terus berlari. tapi dari kota ke kota ledakan itu terus memburu!”
ujarmu menyingkap badan. ada beberapa bekas luka menghitam
“ini bunga dari pertikaian!” diam kubuang puntung rokok ke dalam kolam
sebagaimana teman madura kita yang juga tak percaya. bahwa rusuh yang tumbuh
di tubuhmu adalah rasa cinta pada tuhan: “aku telah berkali berganti nama
demi kebenaran!” hentakmu memecah botol
aku memungut derainya. di dalamnya kulihat wajahmu yang tercabik
simpang-simpang dari arah matahari yang tak jelas

kita berpisah juga. kau seorang ambon yang dulu ke jakarta dan sekarang di aceh
di payakumbuh kotaku yang sunyi kubayangkan seseorang terus berlari
memanggul marah. puisi-puisi di pundaknya berceceran sepanjang jalan
“kurasakan tempat tidur seperti papan bertabur paku. merebahkan nasib sama saja
menikam tubuh. engkau dan aku menumpuk sengketa setinggi gunung…” tulismu
dalam pesan yang ngilu. kuingat sepasang bule australia yang bertengkar
di seberang kolam. kita seolah-olah ingin berdansa karena tertawa
tapi bukankah pertengkaran-pertengkaran serupa itu yang kita cemaskan?

kau tentu ingat ketika kita bercakap di tepi kolam sebuah hotel
aku takut ledakan-ledakan itu juga sampai ke kotaku

Payakumbuh, 2008



LUKISAN HITAM PUTIH

bila kau inginkan kenangan, kutinggalkan jejaknya di dinding ini, katamu
pada sebuah malam. kau menyebutnya perpisahan meski aku menyimpulkan
hanya sebentar kepergian. kau pasti akan kembali, ucapku berupaya merayu
lalu waktu begitu lesat. tiang-tiang lampu, jalan dan pohon bersiburu ke arah larut
selain hembus senyap tak kulihat dirimu yang menghilang di perbatasan
kemudian sering kucuri sempat membaca lukisan itu. senyummu tawar
seolah-olah ingin berkisah, kita hanya rel, kereta dan stasiun
saling membutuhkan dan pasti akan berpisahan. berkacalah pada waktu

kau tak pernah lagi berkirim kabar kecuali dua lembar foto berkebaya kuning
dan merah hati. masihkah kau terpasung oleh kenangan? tanyamu angkuh
pada baris terakhir. kulihat bangau-bangau senja bergerombolan pulang
riuh berjalinan dalam rindu pada anak, dahan dan sarang
dan seekor murai bertengger di lukisanmu. berkicau dan menitikkan airmata
sejak itulah tak ada lagi cerita dari dinding itu

Payakumbuh 2008

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…