Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Ahmad David Kholilurrahman

http://www.infoanda.com/
Malam Tahun Baru di Gaza

1/
Tengok, di langit malam negeri-negeri Barat,
Orang ramai menyala kembang api
Dentuman pesta semalam suntuk tepi perapian

Diplasa kota, taman dan jalan bermandi cahaya
Pekik-pekak terompet bersahutan,
Tugu, patung-patung tua kusam tegak bisu

Serakan jurai kertas, sampah bertumpukan

2/
Di Gaza, langit murup-terang
Pesawat tempur menyala kembang api
Mulut-mulut tank baja menabur percon

Gugur mesiu diseling desing peluru,
Dan terompet ambulans meraung-raung,
Serpih tulang-daging berkecai, seusai
Tumpah darah, isak-tangis, sedu-sedan sansai

“Malam ini, kami pesta pora”, racau serdadu Zionis
Siang-malam membantai si tua bangka Palestina

3/
Aku menyeberangi sempadan Rafah,
Wahai Anisah Filistiniyah, tunggu daku dipintu
Kafiyeh hadiah ulang tahun darimu terselempang dileherku
Cakap pada Haniyeh;”Jangan pernah terbetik takluk!”.

Abaikan Tuan-tuan besar sibuk debat dimeja diplomasi
Beribu-ribu kali berunding, berjuta kali digunting;
Oslo, Wye River, Madrid dan Camp David mabuk pesta anggur

Kupetik setangkai ‘Awraaq Zaytun” Mahmoud Darwish,
Sayup-sayup suara parau Syekh Jasin melaung:
Intifadhah...... intifadhah........intifadhah

Heliopolis, Cairo, 1 Januari 2009



Negerimu adalah Jantung Cintaku
-kucatat rendevouz ke Jerussalem-

Berpisah berpuluh pekan,
bertentang-pandang dirembang petang.
Percakapan kita biarkan saja mengalir,
Hujan sehari membilas kemarau setahun!

Kita seperti kanak-kanak merayakan riang;
Berebutan meniup balon rupa-rupa warna,
pegang rapat-rapat, sebelum pecah meledak ke udara,
atau terlepas pegangan dilambung angin keras.

Terkenang musim panen zaitun,
melurut buah dari tangkai daun.
Malam terang bulan memandi cahaya kota tua.
"Ada tradisi puak kami, membentang majelis syair dan kasidah gambus".
Kuingat, suara-suara bergetar setiap mengucap sepatah kata tuah; Merdeka!
Ditimpal balik pekik takbir; Allahu Akbar!
Mengatasi beribu-ribu ketakutan purba.

Para lelaki kafiyeh gagah-berani maju berketapel batu,
Al-Quds terus menyeru-nyeru,
Ibu melepas anak-anaknya pergi ke sekolah, seperti mengantar ke gelanggang perang.
Di sekolah kami melatih menyelamat korban pertempuran.
Bertahun-tahun lampau, sebelum kami terusir dari tanah tumpah-darah.

"Maaf, aku melarutmu dalam sedu-sedan", belasmu lembut.
"Tertakik luka dihatimu, tergores darah dikulitku", timbalku.
Bukankah sudah kukata, negerimu adalah jantung cintaku.
Di sini dan kini; Kita sama-sama terasing sunyi!

Heliopolis, Cairo, 8 Maret 2007



Kartu Pos dari Ramallah
;- Anisah Filistiniah

Sepulang kuliah tadi, sejambang sajak kupetik ditaman sastra,
Ayo pilih sesuka hatimu bertangkai-tangkai.
Petang pun ranum dilesung pipimu.

Sebentar lagi malam segera datang berkandil bintang? tegasmu
Jelaga minyak zaitun meminyaki kening negerimu,
angin utara meluruh daun khukh
"Kau masih suka memetik bunga sajak?", tanyamu.
Bak dongeng penghantar tidur siang kanakku dulu,
seorang gadis kecil bertanya pada seorang penyair tua;
"kenapa kau asuh sajak molek dalam buayan?", jawabku bertamsil.

Bukankah semua kata-berjawab, gayung-bersambut?
Murung bertahta manja diraut elokmu.
Aku ini perindu sepasang bulbul bersiul riang dimusim semi,
agar kau tak semakin terasing jauh dari negerimu.

Airmatamu mengembun dikaki langit Ramallah.
Musim tuai mengungsi dari ladang gandum,
sebelum pintu penyeberangan ditutup.
Apalah makna sempadan; "Jika berubah pesta peluru dan rusuh mesiu!".

Malam musim gugur tahun lalu,
kutemukan sepucuk kartu pos merah delima terselip didepan pintu;
"Gubah aku dalam kasidah cintamu!".

Heliopolis, Cairo, 21 Februari 2007



Al-Hilal

Tiga anak penggembala berjalan pulang,
sepanjang gurun mendaki-menurun.
Bermandi peluh, kaki sengal ngilu.
Kantong air menyisa seteguk dua teguk
Lalu, menarah kayu bakar dipuncak bukit!

Ingat pesat Ummi tadi pagi;
"Jangan kemalaman balik ke Balad", ujar abang sulung.
Iya, siapa tahu malam ini jatuh awal ramadhan, kata abang kedua.

Tengok, bulan sabit muncul dilangit maghrib!, teriak si bungsu.

Ketiga abang-adik mengusal-ngusal mata,
mengarah pandang ke hilal mulai menampak,
mengurai tanda falak; kelahiran bulan baru.
Selengkung garis sabit terbit diufuk maghrib!

"Apakah besok kita memulai puasa?", tanya si bungsu

Sebaiknya, kita lekas pulang saja, saran si sulung.
Kasih berita sama tuan Syeikh dimasjid nanti.

Ketiga bersaudara berjalan gegas,
debu gurun berterbangan,
sekawanan kambing mengembik berkejaran.
Sekebat kayu bakar terpanggul dipundak

Dari sutuh rumah kotak,
Ummi menyambut penuh cemas;
"Kenapa kalian tampak terburu-buru?".
Dipuncak bukit tadi, kami menyaksi terbitnya bulan baru!

Heliopolis, Cairo, 15 September 2007



Malam Bermadah Cahaya

Lelaki asing tertegun diperantauan;
"Berbilang tahun berlayar ke seberang lautan",
Puasa kali ini pun jauh dari tepian,
Rindu emak, bapak dan adik-adik rapat-rapat nian.

Bertaut kenang dipelupuk mata;
Menjelang waktu buka puasa,
Duduk melingkar ditikar pandan
Bersahaja menghadap hidangan perbukaan

Hampir maghrib tiba, nun sunyi melapah
Gelap-gulita kampung terdedah, taruhlah
mengaju tanya:"Kenapa dimalam pekat kami tak bersusah-payah?",
Diserambi ramadhan, terang kandil hati bersimbah cahaya Allah

Heliopolis, Cairo, 18 September 2007



Jatuh Rindu

1/
Berdelau zuhrah dilangit subuh,
Kecamuk ombak rindu rusuh,
Sejengkal musim gugur sehelai luruh.
Kenapa kelindan kapalku tertuju cemerlang bintang jauh?

2/
Musafir lalu membelah sahara,
Melipir jarak lembah waaha;
Jelang malam tiba, petang pun menyurut mata.
Unggun api kemah-kemah badui,
Harum kopi meresuk, duhai adui;
“Singgahlah, hirup secangkir melepas capai", tawar Sheikh Kabilah.

3/
Bulan jatuh,
Langit runtuh,
Aku lusuh,
Hilang musuh,

;"Angkat sauh, kecipak kayuh, majnun jauh!".

4/
Seribu badai menyuruk hujan,
Secebis pun belum bertentang-pandang,
Berbekal berani tertahan, mungkin
Lamat-lamat cemas menelan, ingin;
;“Kapalku jatuh rindu kilau zuhrah dilangit subuh!”.

Heliopolis, Cairo, 26 September 2007

Komentar

Sastra-Indonesia.com