Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Esha Tegar Putra

http://www.pikiran-rakyat.com/
Duri dalam Kopi

masokhis. sebut aku duri dan kau akan menemukanku
sebagai lelaki tanpa mata hati, lelaki di gulungan ombak
lelaki yang berseluncur lewat matamu. sebab hari telah
lain, sayang, rinai telah membenamkan pulau-pulau kita
dan kau berdayung dalam diri yang amuk. tetap aku duri
menusuk waktu dengan lirikan yang runcing.

sadistik. menemukan lurah berbatu, kita. matamu yang lain
menelan jejak di sepanjang jalan. dedaun itu remuk dan
sisa kopi dalam plastik tinggal dedak, juga bayangan silam.
lurah telah mengubahku jadi maut, sayang, dan percakapan
akan kutelan sebagai lengah yang tertinggal.

Kandangpadati. 2007



Cerita Pinangan
--Iyut Fitra & Zarni Jamila

kupinang kau seumpama puisi, lekat di hati
kupinang kau yang menari, bersentuhlah jemari
: mari bertarian di puisi!

penari itu telah menghapus catatan silamnya
untuk dirimu berpuisi di lembaran barunya,
sepanjang dirinya sanggup melentikkan jemari.
dan desember, kubayangkan kertas-kertas merah jambu
berloncatan dari mulut kekasih kecilmu.
seperti petasan yang dihamburkan kekanak
ke atap rumah tua itu, akan ada letupan-letupan geli.
tapi pesta akan khidmat, ucapan segera sakral,
tentunya kegaiban yang selalu kau bisikkan
akan membungkus mimpi malammu

di tempat manakah kisah yang membadai kau titipkan?
aku melihat pelaminan berhias lengkap dalam dirimu
gelanggang ramai telah merentang di halaman
muda-mudi dengan mulut berbusa
membicarakan pakaian yang akan kaukenakan
di hari yang telah dihitung para tetua.
tapi tak sesiul punai pun berisyarat inai telah dipasang.
kau meminang sesuatu dalam dirinya
serupa kisah percintaan bunga yang sering kau tanami
kini akan menumbuh seladang cerita
bakal peneman tidurmu

Kandangpadati, 2007



Pecahan Bulan

atau mungkin tidak.
malam menukik tajam dalam rumpang saku baju
aku yang gugu, malu mengucap takut,
dan gemetar yang sengaja disurukkan
meski kau bertikai dengan selendang abu abu itu.
tentang kucuran peluh di leher jenjangmu
bukankah pernah kusiramkan seliur indah di mabuk mudamu?
mungkin sengaja kau melupa, dan ingatlah sekadarnya.

lalu tentang pecahan bulan di gerai rambutmu, tersangkut peluh.
(ah, bau kematian menyengat-menarilah barang sebentar
selagi di gerai rambutmu berjatuhan pecahan bulan. belajarlah
mengemudi malam yang lahir menemani rusuhmu)
"aku ingin selalu berjalan di sebelah kananmu

pengganti rusuk yang hilang."
dan aku tak merasa hilang tulang
tersebab dari lama badan lindap.
atau mungkin tidak.
tikai yang kita rahasiakan membikin sakit yang nikmat
: aku tak lagi bertubuh, sayang...

kandangpadati, 2007



Gelisah Penakik Getah

sungguh aku yang berdandan
serupa memoles petang gamang
dalam cahaya mulai remang
makin bertumbuh saja cupang cupang di kuduk pesisiran
dan telah mengapit tetumbuh payau yang berbagai tangkai
sepanjang cuaca dan bahkan sekian lama
tertanam di antara runtunan bebuah khatulistiwa
aku yang tak sempat lagi menyebut sesiapa
yang bergumam beriring serak suara segala malam
tertuang dalam sekian lama perang di badan
hingga yang tertelungkup bukan lagi kalah

sungguh aku yang meluka dalam sayatan
dikepal musim luka kayu yang timbul getah
hujan lama menuai gelisah penakik
cuma bau karet kering lekat di badan
hingga mereka mulai menghitung jejak padam
dalam pandam tempat orang orang kalah tersemayam

2007

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…