Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Fitra Yanti

http://pr.qiandra.net.id/
Pelampung Keramba

kukira, angin hanya kabar biasa
menemani angguk cemara
ragu
kala pagi jatuh di laman gigil
penuh lunau

"bangun, kau mesti meraih subuh di mata pukat, sayang"

lantunan ungu serupa cambuk
tiap sebentar berkesiur
menggoyang pelampung keramba
sesekali mengkuncindani mata pancing
orang-orang berbaju dingin
dengan lesung pipi merona apel
riang menghadang rindu
pada sekawanan kulari

dibawa bergelut ke bibir
bila ia kesepian amis

begitulah aku,
melewati langit
tiap pintu waktu berderit

namun, senja selalu patah
di ujung dayung
terus menepi
ke sebuah dermaga latah
dan, aku
terus di belah risau
tentang esok yang tak terjual

"biarlah, sayang meski sisik-sisik
bertumbuhan di sebatang badanmu
besok tetaplah kayuh sang subuh dengan semangat fajar"

Kampung Gigil, Desember 2007



Sepi Itu, Belum Juga Padam

semua sepi padam sendiri*)
tapi tidak padaku
aku mengeja ngilu
sajak-sajak
terlulur
di gurik waktu
selalu saja tega
melubangi aku

bayangan kabut terus memisau
di ujung mata
dan tarian angin bersijingkat
memarkan, leburkan aku lumat-lumat
mendemamkan sekujur

lagi, ingin kusampaikan:
"ia tak pernah habis"

*) meminjam sebaris sajak marhalim zaini



Igau Perempuan Siak

selamanyakah aku di balik kaca
perempuan payau membaca kepulangan
di tikungan penat
di gerigi jembatan
berpendar mengejar bayangan sajak
anak-anak

selamanyakah aku mendandani sunyi
serupa pengasingan ibu-ibu muda
di lapak-lapak sore
sayup angin berdesir pada dada lapuk
kisahkan senyum yang pernah berniat jadi hujan

"lakimu baru saja pulang berkuli
dari seberang Malaka!"

berkemaslah aku dengan sejumput setia
menghisap aroma daun pandan
dari tubuh terpiuh peluh
isi rahim dengan janin lugu
sebentar lagi orang-orang melihatnya berkecimpung
ke badan siak
ke buih yang telah lama mengalirkan bangkai

seperti kapal-kapal bubar
ketika kaca retak
tak ada siapa-siapa di sana

September, 2007



Karam di Tepi

aku bukan pelaut
yang seketika terkesiap
melihat ciri badai
namun kugasak juga perahu ini
ke laut lepas yang setiap hari kausuguhkan

"melayari matamu
gelombangnya mengajakku karam
padahal masih di tepi,"

2007



Aku di Laut Lain

aku hanya riak dari laut yang lain

sesekali meramaikan ombak
lalu
susup

Agustus 2007



Berbagi Ladang

bisakah kita resapi luka waktu
bisu
ngilu

masuklah ke balik wajah samar
mengintip di jendela pondok
kebunnya ditindih kaki kota
sembunyi perih diam-diam
beku
sepi

benih kita
tak mungkin tumbuh
di sepetak tanah
miliknya

Desember, 2006

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…