Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Agus R. Sarjono

http://www.pikiran-rakyat.com/
The Rock of Sadness

Aku pun bagai kibaran bendera dari negeri-negeri
yang gugup untuk merdeka. Perempuanku, dengan nanar
kupandangi wajahmu, keabadian yang terkoyak
oleh lenganku yang lancung. Gemetar nadiku
menghitung tahun-tahun bersamamu. Hari-hari bunga
hari-hari air mata, hari-hari kesenduan dan gelak tawa
yang memutihkan rambut kita berdua. Betapa aku tahu
tak ada rumah rindu selain ringkih tubuhmu. Tak ada
tempat pulang selain lapang senyummu.
Dari gelisah hutan dan debu jalanan; bising klakson
metropolitan dan pasar-pasar, keringatku menjelma
asap yang mengotori udara dari pengembaraanku
yang gamang karena saat senyummu menjadi air mata
aku tahu pintu dan jendela menujumu telah tiada.
Aku pun mengerti, jika saat itu tiba, meski kugali-gali peta
dalam diri, kucari-cari pintu dalam kalbu, sesungguhnya
tak bakal kutemui lagi namaku di semua alamat semesta.



Tea on the Rock

Kenangan padamu bagai butiran es
mengambang dalam segelas teh tawar.
Dan rambut malam tergerai menyergap bulan
yang tersipu di seprai cakrawala. Kuseduh
teh hangat keemasan: manis dan kental.
Namun selalu saja butiran-butiran es menjelma
di dalamnya, berenang-renang seperti kenangan,
melarutkan tubuhku ke dalam tubuhmu
yang kekal. Kenangan padamu
membuat lautan menjadi teh tawar
dan ikan-ikan menjelma butiran es berlarian
kian kemari dalam nadiku. Hari-hari kita yang jingga
melambaikan tangannya dari jauhan
luput dari genggaman. Aku pun harus membuka kembali
kitab-kitab sejarah dari abad-abad silam
kadang mengembara ke gua-gua
mengeja rajah-rajah purba di sana
untuk menemukan kembali degup rindumu,
kudus senyummu, rinai tawamu,
hangat pelukmu, yang baru kemarin berlalu.
"Dan manakala sejarah menggemakan kembali
malam-malam asmara, cinta pun menjelma
menjadi butiran-butiran es
yang meleleh di sela-sela jemari
menetes pada tawar hari-hari
yang mengigaukan namamu tak henti-henti.



Malam Kota, Rambutmu

Engkau datang dalam hidupku bagai gempa
mengirimkan runtuhan kota ke tenteram kalbuku.
Sejak itu jiwaku darurat selalu, bergegas membangun
tenda-tenda sepanjang jalan yang sesak oleh erangan
pilu, erangan rindu. Kita pun membangun kota baru
dengan tiang-tiang malam. Kau baringkan di sana
segala lukamu tempat lenganku melebar
memperban isak tangismu. Setiap matahari terbit
aku beringsut, kembali menjadi warga kota yang lain.
Baru jika lampu-lampu di sana menyala dengan kegelapan
aku berlayar diam-diam di sungai-sungai
yang mengalir oleh geraian rambutmu. Dan lautmu
yang menggenang beribu tahun mulai berombak
kembali kala perahuku mencapai bandar itu.
Hampir-hampir saja kota itu menjelma sebuah negeri baru
ketika seribu matahari tiba-tiba memanggang kota baru
yang kita bangun dari tiang-tiang malam hingga menguap
jadi bayang-bayang. Sungai-sungai mengering
memangkas rambutmu. Lalu engkau pun pergi
dari hidupku bagaikan gempa meninggalkan
hamparan puing sepanjang kota siang,
sepanjang kota malam. Di jantungku masih tertinggal
kartu warga dari sebuah kota yang perlahan sirna.



Pada Bulan Sabit Tubuhmu

Di puncak ombak bulan sabit tubuhmu
mengambang di danau malam. Aku termangu
bagai penyair hariku, gemetar
melukis erang cintamu. Maka kutulis sajak-sajak
kasmaran di hamparan geraian rambutmu.
Sejak pertama kita bertemu, saat tendangan
cerlang matamu melumpuhkan sekujur nadiku
akulah pemburu buruanmu. Pancing yang tertangkap ikan
di dasar lautan. Kaulah tiram
yang mengubah air mata menjadi mutiara.

Di puncak rindu bulan sabit tubuhmu
berdemonstrasi di sekujur nadiku,
meneriakkan yel-yel percumbuan.
Bagai tiran atau pemilik pabrik yang gugup
aku berlari dari hotel ke hotel untuk bisa lelap
tapi setiap ranjang menjelma handphone
yang berdering-dering memanggili namamu.

Di puncak malam bulan sabit tubuhmu
berlayar di angkasa raya. Bintang-bintang
menulis puisi di selembar jiwaku
hingga meriap sajak-sajak yang tak bisa dituliskan
tak bisa dibacakan. Hanya halus dengkurmu
yang mampu mendaraskan sajak-sajak itu
dalam kekudusan yang sempurna.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…