Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Skylashtar Maryam

http://kompas.co.id/
SEBUAH PERCAKAPAN TENTANG CINTA

"Ibu tak suka puisi cinta yang kamu tulis. Gantilah!" kata guruku
Aku heran lalu mengambil carikan kertas yang ia berikan. "Kenapa?" tanyaku penasaran
"Suram," gumamnya. "Tak cocok untuk gadis seumuranmu."
"Tapi cinta memang pekat, legam, dan gelap, Ibu."
"Tidak, anakku. Cinta itu merah muda."
"Lalu sejak kapan cinta memiliki warna?"
Ibu guru tercenung
"Tapi Ibu tidak suka dengan apa yang kau tulis."
"Karena apa?"
"Cinta legam tak cocok untuk gadis seusiamu."
"Memangnya cinta bertanya dahulu'berapa umurmu?' sebelum ia mengoyak hatiku?"
"Dengarlah, cinta itu indah. Kamu saja yang tak tahu."
"Apa yang Ibu tahu tentang cinta? Katakan padaku!"
"Mmm...cinta membuat hati kita serasa lapang."
Ia pasti bohong, elak pikiranku. "Rindu yang beranak pinak di dada membuatku sesak, Bu. Bahkan tak ada lagi tempat untuk menampung setitik air pun di sana."
"Ah, cinta juga membuat bahagia."
"Bahagia dari mana? Cinta yang seperti apa?"
"Banyak pasangan yang saling mencintai dan hidup bahagia karenanya."
"Ibu pikir perceraian yang aku tonton di tivi setiap hari itu apa? Kenapa saling meninggalkan kalau memang saling mencintai dan hidup bahagia?"
"Ya, barangkali ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dan menyebabkan pertengkaran."
"Kalau begitu, kenapa cinta yang membahagiakan itu tidak datang melerai?"
"Kamu salah anakku, barangkali cinta mereka telah hilang."
Aku jadi bingung. "Jadi apanya yang istimewa dari sesuatu yang bisa hilang begitu saja?"
"Tidak, tidak. Cinta juga bisa mendamaikan."
Aih, mungkin Bu guru ini amnesia lalu lupa sejarah manusia.
"Bu, kemana cinta saat terjadi peperangan?"
Ibu guru terdiam. Lalu katanya. "Ada, pasti ada."
"Di mana? Bukankah seharusnya ia muncul untuk membawa kedamaian?"
Ia tampak ragu. "Di suatu tempat."
"Di hati mereka yang cinta kekuasaan? Sehingga membantai sesama manusia karenanya?"
"Eh..."
"Di dada mereka yang cinta keserakahan? Meraup dan menghancurkan segalanya tanpa belas kasihan?"
"Mmmmhhh..."
"Di dalam kalbu mereka yang cinta kekuatan? Menggilas yang lemah, rela menumpahkan darah untuk mendapatkannya?"
Ibu guru terlihat berang. "Kenapa sih kamu tak percaya pada apa yang Ibu katakan?"
"Karena Ibu mengatakan tentang cinta, sesuatu yang Ibu tak tahu apa itu."
"Kalau kamu sudah besar nanti, kamu pasti tahu."
"Kalau aku sudah besar nanti, bolehkah aku membuat puisi tentang cinta yang seperti itu?"
Ibu guru pun mendesah pasrah. "Ya, terserahmulah. Pokoknya, ganti puisi yang kau buat tadi. Sekarang!"

Nagoya, 30 Januari 2009



TAPI KEMANA?

Desau angin dibuat-buat
Desah kita berebut tempat
“Jangan kemana-mana” rengekmu
ada yang terasa ngilu
memangnya aku siapa?
Seseorang tanpa rumah tak bisa pulang kemana-mana*

Sejenak kuletakkan buku
Kemudian menidurimu
Gaung rindu pun berlalu
Kota itu mangabur dalam labirinku

Kilau lampu di ruang tamu
Nafas tidurmu di samping kiriku
Gemerisik tirai jendela
Aku terjaga sebab dahaga
Serentak limbung disergap kecewa
Rumah ini bukan rumahku ternyata
Kasur ini bukan pula kasurku
Tempat ini sudah jelas bukan tempatku
Engkau kini bukan milikku
Aku ingin pulang
Tapi kemana?

*Rumah Kenangan, Nenden Lilis Aisyah
Nagoya, 4 Pebruari 2009



HATI SEPI SENDIRI

Benarkah itu kau wahai hati?
Berdesir lembut dalam kemelisut sepi?
Merintih bisu bawakan kidung luka terdalam
Hingga ku membuat kesimpulan
Kau tengah sekarat, tak lagi punya aura tuk menyangga nyawa

Suaramukah yang kudengar wahai hati?
Apakah itu isak?
Sampai kapan kau akan menangis dalam diam?
Kapan kau berhenti menyimpan sakitmu sendiri?
Dan kapan kau tahu saatnya untuk berhenti?

Lobam Mas, 19 Pebruari 2009



CPNS

Kucatat sebuah birokrasi dalam benakku
Lembaran kertas berangka melayang-layang jengah
“Inikah hidup?”
tanyaku pada debu



TRANSFORMASI

Dulu...
aku hanya debu
sekarang berubah jadi abu

Kini...
aku hanya bisu,
nanti mungkin berubah jadi kelu

Kelak...
aku hanya langit
lalu berubah berpeluk galaksi

Suatu saat...
aku hanya jantera
Barangkali cuma bisa jadi roda

Kemudian...
entah mau jadi apa lagi



CANDU WAKTU

Sebab waktu adalah candu bagi hati yang patah
sedangkan suasana yang tidak sepadan
hanya ilusi langit
Namun, remah-remah kemukus masih
sempat membuat kita terpukau
Padahal,
kita masih tergenggam pada rahim bumi yang sama
memancang kenangan kehangatan
di ketinggian tsurayya

sebab waktu adalah
candu...



INSPIRASI

Tak akan pernah kulepaskan diriku dari nikotin,
Bagaimana bisa, jika setiap kepulan asapnya menghasilkan puisi
Bukankah itu yang setiap penyair cari?
Inspirasi
“Aku ini binatang jalang”*
setiap makian kulahap juga
tak terkecuali kata cinta
atau surat cinta palsu yang mengajak mesum
setiap desahan nafas adalah kata mutiara
dan gambar-gambar komik mengajakku menjadi plagiat
menjual mimpi dan harga diri
Edie Brickell pun mengutuk diamku

* Aku: Chairil Anwar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…