Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2008

Sajak-Sajak S Yoga

http://www.suarapembaruan.com/
Jalan Bercecabang

bukankah ini jalan bercecabang
jalan para lelawar, ular dan srigala
jalan yang menampung hujan terakhir
sebelum pusaran laut menyedotnya
hingga sungai-sungai nampak sepi
yang tak seorang pun tahu arah tujuan
meski membawa peta dan arah mata angin
karena jalan hanya menunjukkan isyarat
para pendahulu yang rapuh oleh waktu
jejak hujan yang hilang oleh malam
jejak kemarau yang lenyap disapu banjir
tinggal tanda dan kenangan yang membekas
bagai totem purba di pohon tua
di jalan, gang dan dinding kota
yang kelam tak bercahaya serupa lorong gelap
yang dulu pernah ditemukan di puncak bukit

Situbondo, 2008



Telur

ia lebih lengkung dari alismatamu
tempat menyimpan rahasia di balik makna
lebih berwarna dari bianglala
yang menyimpan cahaya dari semesta
ia lebih putih dari gugusan sedih
yang menyelimputi rerumputan
lebih embun dari hujan airmata
bunga kamboja di kuburan
pedih ia melintasi sungai yang memanjang
sebelum terdampar di sebuah telaga
ia bukan biru seperti lautan menyi…

Sajak-Sajak Restoe Prawironegoro Ibrahim

http://www.suarapembaruan.com/
Malam

dia datang tengah malam,
mendobrak sepi menghempaskan pendar mimpi,
lalu mengajakku merangkai kata untuk-Nya dan
mengajakku menjajaki malam meski gulita
mengajakku menyelam meski keruh dan
mencecap meski terasa pekat
untuk mencari kata sepakat.

13032008



Anak Merindu Ibu

Di teluk, anginpun menepis
pada rumput serta daun bambu
juga pada rumpun dan ikan-ikan itu
tapi laut ibunya tak pernah datang menyapa
adakah anak-anakku bermain di sana?
Hanya desis suaranya ikan-ikan mungil
yang meloncat-loncat kecil di tepinya
ibu, di sini aku senang bermain
bersama rumpun dan ganggang.

13032008



Dengan Pisau dan Gigi

wahai saudaraku,
hidup laksana sepotong roti
yang mesti kau iris
dengan pisau ketabahanmu
wahai saudaraku,
hidup bagai sepotong pisang goreng
yang mesti kau kunyah
dengan gigi keyakinanmu

13032008



Lepas Senja

dari lepas senja
telah kuhempaskan kesangsian
dengan segenap rasa
yang kemarin tersisa di ujung jiwa
....... sebatas cemas
dan kini terkapar
menggeliat bersama koral
yang dingin dan s…

Sajak-Sajak Tjahjono Widarmanto

http://www.republika.co.id/
REQUIM HUJAN

saban gerimis tiba
kau selalu berkata
segala waktu segera rapuh,
tangis tak lagi mampu memberi arti
segalanya jadi buta
sesuram lorong gua manusia purba

saban gerimis tiba
kau selalu ingatkan
kita musyafir yang berangkat tua
melangkah gontai seperti seekor unta
terengah-engah seberangi jazirah-jazirah,
terkantuk-kantuk tapaki jalan-jalan rumpil,
penuh berserak batu dan duri.

inilah tempat yang kita tuju! teriakmu
(jarimu menuding ke atas cakrawala,
entah melihat ketinggian apa)
inilah tempat terakhir meletakkan sujud,
isak penghabisan, dan secuil kebanggaan
barangkali bisa menjadi legenda buat anak cucu
yang kelak akan segera mewarisi tangis yang serupa

gerimis pun lebat
tak hanya saat senja
namun juga saban pagi
memaksa kita segera bersedekap jari

Ngawi/28/04/06/



BERCINTA DENGAN HANTU-HANTU

siapa tak jemu merindukan sorga
semuanya serba rahasia dan istimewa

siapa sanggup menafsirnya?

legenda-legenda itu lama mencatatnya
menjadi semacam sajak atau mantra
dunia ajaib entah dari…

Sajak-Sajak Mardi Luhung

http://www.korantempo.com/
Hantu Paus

Aku percaya pada hantu paus. Hantu dari paus yang dulu terdampar di pantai sana. Tubuhnya menampak dan menghilang. Mengambang dan melayang di gang-gang. Dan matanya yang kecil terlihat garang sekaligus lembut: "Seperti sedang mencari jalan pulang."

Pulang ke mana hantu paus? Sirip dan ekornya tak menjawab. Dan gang-gang yang sempit pun terus dilalui. Dan tubuhnya yang besar itu bisa melonjong dan menyempit. Atau malah tembus pandang. Tak ada yang dapat menahan dan memaksanya.

Hantu paus yang aku percayai tak menggigit. Sebab ketika ia melalui depan rumahku, aku cepat diloncatkannya ke punggungnya.

Aku pun diajaknya terbang. Melihat kampungku dari ketinggian.

Kampung yang penuh jala, rumah minum, perahu dan keranjang.

Hantu paus memang baik. Bahkan aku pun dimasukkan ke dalam perutnya. Di situ aku berenang dan seluncuran. Dan sesekali petak-umpet dengan usus dan limpanya. Aku selalu disembunyikan di bagian yang terdalam. Dan aku selalu menjadi p…

Sajak-Sajak Fitri Yani

http://www.lampungpost.com/
Seseorang yang Menyalakan Lampu

maaf, di tiap degup jantungku
aku gagal mengingatmu selalu, Tuan
sebab yang lekat kuingat tak hanya nama, alamat,
dan bau parfummu yang harum menyengat
melainkan pula lakon Mahabaratha dengan tarian asap dupa
yang tak kunjung sanggup kaupentaskan dengan sederhana
dan di tiap kerlingan mataku ini, Tuan
ada semacam lampu yang menyala menghalau gelap
setelah berkali-kali aku gagal kau dekap
tapi mengapa kini kau percaya pada bulat purnama
ketika lampu mataku sudah menyala?
Kemarilah, Tuan, nanti kubuatkan segelas kopi
sambil menemanimu merebus puisi

"ah, lakon Mahabaratha tak mungkin dipentaskan
Aku tak yakin di atas bulan, Rahwana dan Sinta gagal bercinta"
ujarmu sambil mengunyah puisi rebus dengan rakus

barangkali kau lupa, ketika gerhana tiba
lampu mataku akan habis sumbunya

Mei 2008



Di Stasiun Kereta

aku tak mungkin pulang kepadamu
mengenang tamasya, asmaraloka
atau sekadar membenarkan kerah kemejamu
aku gagal mencari nama pemberian ayah
di…

Sajak-Sajak Leon Agusta

http://www.republika.co.id/
DARI SUATU MASA

"Mungkin, masih ada yang tersisa dari prahara selain
kitab suci dan puisi," katamu, sembari bergegas pergi
Aku tak begitu sadar, apa pernah mengucapkannya
Gerangan berapa kali atau mungkin tak pernah
Tapi kenapa ada yang mendengar dan mengingatnya
Aku ingin mengatakan, kau mungkin benar
Ketika kau melangkah, meningggalkan pagar terbuka
Aku kira kamu masih akan menoleh sejenak. Kau pun
berangkat, meninggalkan suatu masa yang pincang
Menuju sebuah zaman lain yang belum bernama



KETIKA LANGIT DAN BUMI TAK LAGI TERBAYANGKAN

Apakah aku terlihat siang atau kabut atau debu-debu
Tak tahulah. Sungguh tak lagi terbayangkan
Tapi barangkali ketika itu di suatu senja yang asing
Aku pernah punya wajah buat dikenal. Wajahku
Barangkali ketika itu aku hendak mengenangnya
Sebagai tanda dari perkenalan yang diterima
Sebagai tanda dari percintaan yang selesai buat mencipta
Atau barangkali pernah pula ada perkenalan yang lain
Namun segalanya jadi lupa. Tak lagi terpikirkan.…

Sajak-Sajak Dahta Gautama

http://www.republika.co.id/
AKU SUNYI, DIK

tunggu aku di persimpangan ini. Meski aku pergi
tetapi tak pernah secara sungguh-sungguh.
kota kita sudah tua, Dik
orang-orang yang kujumpai di trotoar
wajahnya penuh kerutan dan selalu berjalan tergesa-gesa.
matahari juga sudah tenggelam dua jam lalu
malam penuh kilatan lampu taman.

tunggu aku dipersimpangan ini, Dik
aku pergi sebentar saja
ke ujung jalan
memetik sunyi

Lampung, April 2007



KAWAN YANG TERSESAT

(duniamu, dunia terpencil.
engkau miskin sebagai anak yang tersesat.)

aku memanggil-manggil namamu, untuk memastikan
apakah engkau masih memiliki leher dan telinga.
leher. ya. mana lehermu. aku ingin menggentungkan
rantai bermata merah delima
agar engkau bisa menghilang
dan mencuri semua mainan anak-anak
yang tak pernah bisa engkau beli.

aku memanggil-manggil namamu.
tetapi ternyata engkau
telah kehilangan leher dan telinga.

Lampung, April 2007



MATI

engkau tak pernah memahami arti
bunyi angin di halaman rumahmu.
engkau juga tak pernah bisa memahami
makna taman yang gel…

Sajak-Sajak Heri Kurniawan

Tak Perlu Sesali

Kau yang layu dipucuk pena
Bendunglah segala tangis
Buka kembali kelopak matamu
Mekar menatap kebiruan

Aku yang tertatih-tatih
Memungut air matamu yang embun
Berceceran di jalanan tanpa batas
lemas



Tlah Ku Semat Janji

Melipat pintu sunyi api
Mensaljukan kembali luka-lukamu dan
tak perlu sungkan mengetuk kembali

Lembaran terang telah menanti
Menghadirkan jamuan rembulan di musim semi

Tak perlu lagi sesal
Semua telah tertinggal
Kita songsong dunia baru
Tulislah lembaran cinta
Hapuskan buram kelam

Jombang. 27 mei 2006



Bukan Siapa-Siapa

Aku bukan dia
Aku adalah aku
Dia adalah dia
Telah kulepas kau terbang
Aku takkan bermanja lagi

Jogja. 4 januari 2007



Di Tengah Arakan ayatMU

Dalam pekatnya suasana
Ku kais secerca cahaya malam
Mengugah kesadaran hati

Di tengah arakan ciptaMU
Ku panjatkan sagala rasa
Pada semilir angin
Menerpa hijaunya daun

Jerat dunia tlah usai

Jogja 06’



Aku Merindukan PenerangMu

Aku ingin memecah sunyinya malam ini
Dengan hembusan nafasMu
Menyuluh gelapnya kalbuku


kini remang telah menyelimut cah…

Sajak-Sajak Tjahjono Widijanto

http://www.lampungpost.com/
DI MEJA MAKAN KELUARGA

Kami senantiasa berhadapan-hadapan di meja makan ini
medan pertarungan yang galak dalam gemuruh denting gelas,
piring, sendok, garpu juga pisau roti yang meringis
saling intai sebelum saatnya tiba

Ibu selalu mengingatkan
"kunyahlah lembut nasi, daging atau kerupuk
sampai hitungan ke empat puluh
ususmu akan aman meremas-remas dan mereka
mendekam lelap sempurna di perutmu"

Di ujung lain, kakakku mengongkel sendok
mencuil daging dan mengiris buah
secepat kilat melempar ke dalam mulutnya
lidah keras mengecap-ngecap; cap, cap, cap

Ibu langsung menyerbu
"suaramu itu mengingatkanku pada lidah serigala
yang kulihat di kebon binatang wonokromo!"

Di seberang lain, adikku perempuan langsung
tersenyum meringis terkikik-kikik, lalu buru-buru
menutupi mulut dengan serbet belacu
"kalau dengar kebon binatang itu
aku jadi ingat pacarku
di bonbin wonokromo kencan pertamaku
sembari menonton kera bersenggama"

Di ujung lain dengan jakun gemetar
bapak …

Sajak-Sajak Nana Riskhi Susanti

http://www.republika.co.id/
MENGAJAKMU PULANG

Tak ada yang beda
pada hujan
dan kemarau
jeda diantaranya menguraikan doa
pada lengan sunyi

aku tak pernah lagi
mengirim rindu padamu
pada hujan
atau kemarau
sebab aku mau menidurkanmu
di atas semak perdu

aku ingin mengajakmu pulang
ke asal mula hatimu
: aku

Tegal,2008



KUTULIS PUISI DI PASIRMU

Hanya doa
sembunyi di batubatu
di mawar sunyi
di pagar rindu
di langit sengit
aku menyebut
membawa benang-benang baru
untuk hidupku
hidupmu

ia tertulis di telapak tangan
lihatlah garis-garisnya!
ia tak bisa diubah
bahkan oleh kenangan

kutulis puisi pada pasirmu

ingatkah kau pada lampu tua itu
bangku rotan coklat penuh rayap kayu
dinding putih penuh kaligrafimu
tirai hijau berderaiderai
mendengar rinduku yang tak sampai padamu
karna kupilih mawar sedang aku berduri
kusembah tiangtiang sedang aku bambu
kubaca zikir sedang aku sihir
kuhiba laut sedang aku lembah takut

kutulis puisi pada pasirmu

betapa sakit doaku yang menunggu sampai
di antara doa karang
ikan
ombak
nelayan
para pemabuk di laut itu

ak…

Sajak-Sajak Ridwan Rachid

Kota Kata

Sejumlah kata lama telah binasa
Temui ajal di tengah gelombang peradaban
Terkubur dalam pesatnya populasi bahasa

Tapi bukan kata jika menjadi lemah
Ambisinya melahirkan juta kata baru
Lantas menyatu

Barisan kata menjelma senjata
Menindas kepala etika
Menghancurkan sejumlah asa
Koalisi kata beranjak tertawa
Kata seolah berkuasa

Sedang sesungguhnya
Kata masih terlelap pada batas realitas
Dibuai mimpi yang tak kunjung selesai
Hanya berputar dibalik pintu-pintu makna;
--dan manusia belum temui jengah—
Walau lelah

Jogja, Februari 2008



Nominal

Menempa taramat lama
Setajam runcing baja
Cukup nyaman guna sembunyi
Dalam selimut dua warna
Terkatup di lubang tikus
Sarang siasat paling rakus

Bisa saja dipastikan
Neraca punya kelemahan
Begitu genit nominal
Jadinya enggan rasional
Nafsu tersenyum angkuh
Mencerca logika dungu
Mustahil jeruji tersentuh

Jogja, februari 2008



Serabut Mesra

Penat kembali merajut kusut
Membelit sulit terurai
Kupilah sehelai risau
Meski terkait simpul gelisah
Tergontai aku jemu
Yang semakin mengulur ka…

Sajak-Sajak Anis Ceha

KU DAPATI GELISAHMU

Ku dapati langkah kaki berkejaran
mencoba meretas awan
sedang jemari terlampau kecil lentikkan asa
dalam genggaman angan.

Katanya terlalu sulit menghimpit;
waktu pedang di hempasan leher
menyeka penatnya siang dan perut nyaring,
selalu berbunyi:

“kenapa ada tugas ini?”
lenguhnya dalam kesunyian.

Agust, 2005



PADA IBU

Ada hamparan surga di wajahnya,
menghalau haus rasa
gemercik memercik di setiap helai jemari
menuangkan permai
lukisankan kedamaian,
betapa cinta itu tabularasa.

Ibu,
ku buat engkau menangis lalu tebar nila
di setiap lenguhnya
Firdausmu tetap teduh disaat aku gadug,
lalu air matamu berujar darah,
bagai kau pijakkan tanah,
aku kembali pada rahimmu seketika
melewat celah-celah air mata bercampur nila
menjadi apa-apa yang hina.

Tuhan telah murka karena air matanya.

050925



ADA DUKA DI LEMBARAN

Ada keranda hitam terusung pelan-pelan,
lembaran kafan ungu tertinggal
dalam selimut kelabu.

Ada keranda hitam lebam sejenak berlalu
sedang lembaran ungu masih tertinggal
di lembar waktu
belum sempat ter…

Sajak-Sajak Dian Hardiana

http://www.republika.co.id/
SURAT CINTA KETIKA HUJAN
: dea ayu

Kau adalah hujan yang tak pernah selesai
bukan pula hujan yang mengguyur kota
sebagai badai
sedang aku adalah dirimu yang lain
yang menjelma setelah hujan
ketika angin begitu tenang
dan burung kembali terbang.

Di matamu, tak ada perburuan
hingga dengan tenang setiap orang
menghafal usia, menyimpan jam
perempuan menenangkan bayi-bayi yang menangis
anak-anak berhamburan turun ke jalan, menari
bernyanyi, menjadikan suaranya
mendengung di udara.

Kau adalah hujan yang tak pernah selesai
basah dan kenang
meninggalkan pesan di atas kaca
juga sketsa wajah berwarna merah
wajah dengan senyum terkembang
mengunjungiku pada mimpi-mimpi buta
di malam gugup atau di siang yang murung.

Di dadamu, tak ada lagi pertemuan
percakapan menjadi ungu dan membosankan.

Setiap hujan, aku mengirim doa untukmu
(sebelum jantungku berhenti mengingatmu)
sebagai rindu yang dititipkan tuhan kepadaku
- surat cinta bagi kekasih yang jauh.

Bandung, 2008



NARCISSCUS

Tiba-tiba aku menjadi narci…

Sajak-Sajak Marhalim Zaini

http://jurnalnasional.com/
Seribu Lima Ratus Sebelas

seribu lima ratus sebelas
di dinding gereja merah saga
burung-burung hitam
melepas gaun melaka.
tembok meninggi
membangun ritus
di kaki langit tua
aku menurunkan
gumpalan kota
dari pundak malam
yang memberat
di anak tangga ke tujuh
pada dingin
yang disalibkan.

aku tamu
berharap bertemu
separuh tubuhku
di tanah bekas waktu
menurunkan gerimis
menjejakkan kaki portugis
tapi tangis itu
tangis itu juga yang mencumbu
menggelapkan segala peluk
pada kutuk
ia hinggap di ujung-ujung rambutku
membangun jembatan rumpang ke masa lalu.

ia menungguku
dentang jam pada lengang
mengirimkan becak penuh bunga
seorang tua menebak wajah sejarah
di raut asing bahasa lautku
tapi ia tahu
di jalan lurus yang kurus
sebuah kota sedang bekerja
membuat pagar dari kaki-kaki
pendatang yang kekar
turunkan aku di sini, tuan

di mana rumah itu
tempat kebisuan dibatukan
gedung tua saling pandang
membuat tubuhku terasa telanjang
aku takut menyebut siak
mulutku tertinggal di kursi retak
aku ragu memanggil lingga
lam…

Sajak-Sajak Hudan Nur

http://republika.co.id/
DALAM HATIKU ADA RUANG

selalu ada tempat bagimu
berteduh dari hujan
ataupun menunggu pagi

juga seruang dalam hati
mematrikan diri dari segala dedah
tak berhulu

yah, aku selalu merapikan tempatmu
menunggumu untuk bermalam
membahas cerita pertemuan kau dan aku
atau menghitung bintang-bintang
sampai kita berdua lupa
ini hari apa

Pesisir Donggala, 2007



PERASAANKU MEMAR

dinda, mari kita lihat
lukisan pada dinding kamar ini
sepasang burung dara siap terbang
ke angkasa raya. kepaknya
adalah melodi nasib yang tak pernah selesai
terus berkecipak diantara reranting dahan
yang basah oleh rinai hujan

dinda, suatu hari kita pasti bercerai
selalu ada saja hijab pemisah
karena aku hidup di malam hari
sedang kau mengaji di pagi hari,
jangan pernah kau salahkan takdir sayang
karena kita saling menjaga
kita saling mencari

maaf, dinda. aku tidak bisa menyuguhimu air susu
di sini hanya ada vodka yang setia menemaniku
dan seball kretek
atau bagaimana kalau kita berdansa saja?
irama keluhmu sudah saatnya kau tanggal…

Sajak-Sajak Mashuri

http://mashurii.blogspot.com
SITI, AYO KAWIN LARI

Di ruang kelas, aku baca cerita
yang sering membuatku berpusing kepala
cerita yang mengingatkanku pada pacarku
yang kepalanya juga sering terancam pecah
cerita yang berpangkal pada cinta tak berpunya
dan berakhir dengan duka carita…

“syamsul bahri berlari-lari ketika siti melamun di tepi
perigi, sambil memuji diri sendiri
: akulah perempuan abadi!”

Aku lalu mengambil penghapus dari ruang guru
Membaca sebentar, meski berlembar-lembar
lalu dengan ringkas kupangkas

Nama yang selalu membuatku was-was
: Siti
pada Syamsul Bahri, aku sisakan hidupnya
karena aku tahu Marah Rusli pun menyisakan hidupnya
dalam cerita,
meski siti telah mati..

aku begitu kawatir, kalau Marah marah lewat guruku
dan menggantungku
di depan kelas, sambil terus menerus menjejaliku
dengan kertas-kertas, yang panjang
dan tak bisa aku ringkas
aku pun menulis begitu tergesa di kertas
: “Syamsul Bahri hanya mati sekali;

sekali nafas
terpangkas, sesudah itu impas, lunas…”
Siti telah mati,
aih, ternyata S…

Sajak-Sajak Imamuddin SA

DARI ALIF SAMPAI YA’
kepada Sang Nabi

lidahku laksana kutub
dan sarafku tak bergaun wol
hingga bibirku membeku
membisu

imajiku kaku
tiada aksara terangkai untukmu
hampa mengukir puitika puja nan merdu,
sungguh segalanya telah terlampaui keanggunanmu
gontai jalan hatiku

mengangan angan tuk kembali memujimu
sebab abjad terusang olehku

di sisa degup sahadat
merekat
kusisipkan rekaat munajat
lewat tembang-tembang yang kau gurat;

“dari alif sapai ya’
adalah bukti perjalanan waktu
disingkap kebersatuan laku
terkunci keyakinan kalbu,

esok kita kan bersatu
kala kusanggup membongkar tanda
yang kau kisah untukku
sebab yang tertuju hanyalah satu
kuyakin itu”

Kendalkemlagi, Maret 2008



KADO JATI SEREMONI

ia kenal tembangmu
walau ini sepedih rasa
meringkuk telah
di sekutu tanah,
kau rentang saja
sayap-sayap kalbu
merela gala teseru

adalah serimpi misi
mengarang kembang usai
lewat cendawan nanti
tak terbeli
atau tergadai lalui
liat lindu tempo hari
pun entah … ini
sebatas sirkus nadi
bagai kado jati seremoni

tiada seberat hati
melepas diri
bagi…

Sajak-Sajak Sri Wintala Achmad

SULUK SRIKANDI

(I)
Di alun-alun
Rumput merimbun
Semilir angin
Buai sepasang beringin

Angkasa membiru-jingga
Membakar gairah asmara
“Kanda, ajarkan aku memanah matahari
Sebelum terbenam ke dasar hati!”
Ujar Srikandi, sembari
Mencolek pipi Permadi

(II)
Angin lelap di sarang malam
Tidak ada kecipak ikan di kolam
Hanya desah Srikandi di bibir ranum
Melenguh hingga ke tulang sungsum
Lunglai telanjang di ranjang
Di pipi, airmata berlinang

“Kanda, mengapa kita cepat berpisah
Manakala matahari terpanah
Koyak berdarah?”

(III)
Di depan gerbang istana
Hati Srikandi berbunga-bunga
Melepas Permadi ke Madukara
Dadanya hangat diraba
Namun matanya tersirat sendu
Sekali mencinta lelaki buat dimadu

Sanggar Gunung Gamping, 07082006



SULUK BANOWATI

Di depan Bunda Setyawati
Aku hancurkan cermin kaca
Malu hidup sekali
Sebagai wanita pendua cinta

Akulah si bungsu Narasoma
Yang terlepas dari kudangan
Bukan pecinta s’orang hingga senja tiba
Melainkan pengkhianat kasih pujaan

Tidak sebatas Aswatama
Aku rela dicap sephia
Menebus dosa seusai Baratayuda
R…

Sajak-Sajak Esha Tegar Putra

http://jurnalnasional.com/
Orang Ladang

tujuh petang menukak punggungnya, di bukit
ingin mencakau alang-alang. niat tinggal kalimat
tujuh petang gigih menikam, menyansam,
mirip ragam umbi yang ditanak dalam periuk
teruka ini tinggal batas, tinggal jejak, sebab di bukit
ia tumbuh dan menyusup ke dalam lempung tanah

tujuh petang menukak punggungnya, di ladang
ada yang tak pernah hafal desau biola, segelas anggur
atau niat untuk membangun rumah pasir di tepi pantai
sebab ia orang ladang. ia lesap ketika mengejar tupai dan beruk,
dia rapal musim petik kopi
dan ketukan yang berkali pada pintu dangau
ia tahu siapa yang tiba

maksud hanya menukak tanah lalu tanam. menanam
lalu petik. tapi sepi berkuasa terlalu dalam
ia ingin bertuju pada sebuah jalan batu, simpang
dengan udara masam, ilalang kering merabuk
ke sebuah tempat di mana tupai dan beruk berdamai,
bersamanya. mereka akan berkejaran di bukit
dalam botol anggur,
lalu mereka akan lelap di desau biola

tujuh senja adalah ia yang ingin berladang
pada sebuah tanah…

Sajak-Sajak Budhi Setyawan

http://www.republika.co.id/
HIDUP

mengalirlah laksana huruf-huruf yang
mengeja sendiri dalam lekuk sajak yang mencari
setekun ombak sekokoh karang
menggapai lengkung ruang

pagi beranting gelisah
kemana singgah?

Bekasi, 31 Oktober 2007



MENUJU PERTEMUAN

senja tersungkur matahari berbaur
lautan meringis teriris menahan gemeretak ombak
tanah-tanah terbelah tampakkan pasrah
senyap arah
danau sungai peluk temaram
terhisap suara ke dalam untai debar
gunung pebukitan menundukkan tubuh
khidmat menempuh jalanan luruh

ini dunia
hanya permainan dan canda belaka

batu kapur,
melapuk umur
menuju kubur

Jakarta, 2 November 2007



YANG PASTI

yang pasti
kita akan terdiam
tak kan sanggup ungkap cerita
apalagi kabar dunia

yang pasti
kita akan berpisah
melupakan denyar manis hari
menuju puisi sunyi

yang pasti
kita akan habis
ditelan gemulai tarian kala
tinggal gema doa

Jakarta, 2 November 2007



RIWAYAT PIJAR

kukecup ranum sajakmu
yang mengajak embun menari
di antara
pusar angin dan getar mantra

ah, inikah sebuah epik cerita lama
yang tak pernah usang
pi…

Sajak-Sajak Liza Wahyuninto

Gadis Kecil Gesek Luka Ku

Gadis kecil yang dulu gesek lukaku
Kini masih berlagak diri seolah sembilu
Balut lukaku yang semakin membiru
Pantangkan diri tuk mengharu

Bak mawar ia tengah merekah
Malu hendak ku sentuh kelopaknya
Atau sekedar mengerling merahnya
Karna ku tahu ia takkan tanggung marah sang duri

Gadis kecil yang dulu gesek lukaku
Kini mulai berceloteh tentang pesta menyambut pagi
Nyanyian periang di tengah sepi
Meskipun ia sering teriris sembilu

Bak gendang ia mendendang
Lagu bimbang di tengah gersang
Jengah hendak ku pangku ia
Tak pantangkan baginya terantuk galah

Gadis kecil yang dulu gesek lukaku
Kini berdiri tegak di hadapanku
Tubuhnya membiryu, bibirnya membisu
Rebahkan diri ke pelukanku
Sembari berbisik “maafkan daku”

Malang, 12-13 Juni 2008



Aku Menulis Lagi

Aku menulis lagi
Melupakan Nil yang pernah ku sebrangi
Melupakan Himalaya yang pernah ku daki
Melupakan Amazon yang pernah ku susuri

Aku menulis lagi
Tentang cinta yang tak kunjung menyapa
Tentang hati yang tak jua terpaut
Tentang jiwa yang tak …

Sajak-Sajak Denny Mizhar

http://suara-sunyi.blogspot.com/
Dengar

Dengar! Teriak-nya membela batu cadas
di persimpangan jalan terjal
dihimpit gedung-gedung dan pusat-pusat pesta fana.

Isak-nya tak ter-terasa lagi
tergilas mesin-mesin industri
kemanusiaan-nya mati berkeping-keping.

Dengar! Ruang mana?!
Untuk mereka yang sedang kesepiaan
tujuan rantauan persinggahan hidup

Malang,24 Februari 2008



BIARKAN AKU MENGENALMU

Biarkan aku mengenalmmu lewat tubuhmu dari ujung halus rambutmu hingga ujung lentik jemari kakimu. Ku belai panjang rambutmu, kutemukan serpihan fikirmu. Menginspirasikan pada jalan hidup terjal, kehidupan pengembala peradaban.

Kukecup keningmu dan kucium bibirmu, kutemukan keindahan bahasa kemanusiaan dengan manis lewat air liurmu yang menetes pada kendali nafsuku, merajut nilai-nilai suci

Pelukan tubuhmu mengajakku pergi menemui lorong-lorong panjang perjalanan kemunafikan, menghentikan seketika saat kenikmatan mengusai dalam bayang semu surga janjimu

Mulai kukenal pertikain dari balik sikap tubuh acuhmu yang be…

Sajak Jibna Sudiryo

ZIARAH KOTA KOTA

aku bertamu ke kota kota
banyak pintu yang terbuka
setiap ketukan ada curiga

di-Jember
berhentilah di sini
kupaslah daun daun itu
ada getah yang akan melahirkan luka
sebelum cawan para perawan
kita jadikan tuak penghabisan

di-Malang
singgahlah di sini
nikmatilah sapaan angin
sebelum ternodai oleh kincir matahari

di-Surabaya
kenalilah dengan kelukaan
dari kompor matahari
hujan nyamuk malam hari
dan bau besing limbah tragedi

di-Yogyakarta
kita akan melihat lembaran sejarah di sini
dari tangisan tugu
dan jeritan nisan nisan

di-Jakarta
lihatlah kafila kafila itu
berkali kali ia tersipu
dari keibuan kota kota
yang melahirkan banyak derita

ah di kotaku
yang akan diziarai para ratu
dan tuhan tuhan pun mengabu
tak ada yang mampu memulai
hanya kembali
pada yang sepi

2008

Sajak Pringgo HR

Kabar dari Balik Kabut

selingkar bulan masih subuh tahun ini
gerimis berpasangpasang memecah batu kapur
bukitmu

pohonan perdu merekat batu kapur egkau tanam dulu
sengaja engkau gergaji satu satu
hingga udara meroboh sepanjang musim penghujan
memberi ngangah luka selapang hatiku
hingga daunan rimbun yang pernah kau tawarkan
melongsor bersama arus ketidaksetiaan kata kata

engkau telah tanam jenazah di semaksemak
sebelum aku mau pergi
sebelum aku ihlas mati

keraguanlah yang menerjal pandang matamu
sebelum menuntas semua keringat
berjalan naik turun setapak
setapak lintasi senjaku mulai rapuh

pada licin airmata jalan
aku alirkan batu batu pusara
berharap sampai d nyinyir bukitmu

menanamnya antara telapak kaki
kepalamu
di semak semak jenazahku

Sukodadi, 28 Januari 2006

Sajak Bambang Kempling

Koridor Ensiklopedia

Apabila malam telah larut
dan lampu-lampu sudah dipadamkan,
cahaya terkulai dalam rahasia.
laut,
dahaga yang menggelegak
langit melukis dirinya sendiri

*
:
Jejak bagai bisik tanda
bermula dari rangkaian kisah sederhana
buat cakrawala
(Langkah-langkah ganjil
mengendap-endap dalam diri
bersama detak-detik jam dinding
dalam suatu lorong tak berujung)

Sesekali,
dia hanya merasa itu
sebagai sesuatu yang pantas untuk dikenang.
hanya untuk dikenang.
Tetapi,
ada keenggganan yang selalu menyeribet
− goresan nama di sebongkah nisan −

Suatu ketika,
pada siluet panjang dia berkata:
“Tak ada yang berubah.
Hari-hari mengambang
bagai selembar catatan kesia-siaan.”

Malam lalu berderit pada gelap dan sepi,
bilik mengerdil dalam suara-suara.
Bagai godam di tangan pandai besi,
bertalu-talu menghujam sebilah pedang.
Lengking suara-suara adalah selaksa jarum menisik kepala
dan detak-detik jam dinding hanya sebagai pertanda
bagi gelap yang disusuri,
bagi kelam titian kabut di rimba langit,
langit di dirinya yang telah di…

Sajak-Sajak Anis Ceha

Uh…

Uh, ku sangka hanya ujung mimpi
Pada sudut subuh aku pilu
Engkau berbadan hitam
Memukul genderang hitam
Bersama bayang hitam
Lantas menghilang kelam

Uh, ku sangka hanya luapan embun
Yang terbang dilarikan siang
Tapi ketika ku sentuh…
Ujungnya tanpa ujung
Pucuk daunnya tak lagi pupus

Segenap hati aku berbagi
Namun belum juga terpatri
Aku menari hingga hilang lelahku
Tak berasa tak berbara

2006



MENJELANG BULAN

Sesederhana itu kau buka benakmu
dengan kata-kata indah;

seperti abu dilarung ke lautan lepas,
dan ikan-ikan menjauh
oleh takut akan kesuciannya
atau enggan berbagi
dengan arwah-arwah penjaga debu.

Akulah menyanjungmu bersegenap dunia
yang kupijak bersama rerumputan muda.

Oh yang jauh,
seperti kiranya waktu tampak membuka mulutnya
dengan hari,
dengan terbit mentari di ujung timur
demi menjelang bulan kemudian.

050613



APA ARTINYA

Telah ku tutup tirai hati sebelum cerminkan diri
akan hamparan teduh wajahmu.

Duhai kasih,
kiranya kau tahu aku tak mencintaimu
tapi orang lain tengah ku tunggu,
dalam kabut hitam rindu.

Par…

Sastra-Indonesia.com