Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Hudan Nur

http://republika.co.id/
DALAM HATIKU ADA RUANG

selalu ada tempat bagimu
berteduh dari hujan
ataupun menunggu pagi

juga seruang dalam hati
mematrikan diri dari segala dedah
tak berhulu

yah, aku selalu merapikan tempatmu
menunggumu untuk bermalam
membahas cerita pertemuan kau dan aku
atau menghitung bintang-bintang
sampai kita berdua lupa
ini hari apa

Pesisir Donggala, 2007



PERASAANKU MEMAR

dinda, mari kita lihat
lukisan pada dinding kamar ini
sepasang burung dara siap terbang
ke angkasa raya. kepaknya
adalah melodi nasib yang tak pernah selesai
terus berkecipak diantara reranting dahan
yang basah oleh rinai hujan

dinda, suatu hari kita pasti bercerai
selalu ada saja hijab pemisah
karena aku hidup di malam hari
sedang kau mengaji di pagi hari,
jangan pernah kau salahkan takdir sayang
karena kita saling menjaga
kita saling mencari

maaf, dinda. aku tidak bisa menyuguhimu air susu
di sini hanya ada vodka yang setia menemaniku
dan seball kretek
atau bagaimana kalau kita berdansa saja?
irama keluhmu sudah saatnya kau tanggalkan
aku tidak pandai merayu

Tasikmalaya, 2006



AKU SALAH ALAMAT

kau takkan pernah mampu menyuap
gadis lugu pemetik daun teh di bukit-bukit bambu
untuk memberitahumu kenapa teh tawar
yang kemarin kau hirup di kedai neng euis
berwarna coklat
dia angkat bahu

sudah dua jam lebih kau habiskan
sekadar menyumpal keingintahuanmu
akan khasiat oksidan yang berhasil menyembuhkan
ingatan masa lalu

kang asep pernah bercerita padaku
tidak baik mengorek rahasia warna-warna
langit dengan birunya
lumut dengan hijaunya
bara dengan merahnya

kau pasti bertanya
kenapa ada bunga dengan warna ungu?
kenapa tak merah saja

lalu aku bertanya
kenapa ikatan ini harus antara kau dan aku?
kenapa tak bersama kanatoshi ariwa saja?

Bandung, 2006

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com