Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Mashuri

http://mashurii.blogspot.com
SITI, AYO KAWIN LARI

Di ruang kelas, aku baca cerita
yang sering membuatku berpusing kepala
cerita yang mengingatkanku pada pacarku
yang kepalanya juga sering terancam pecah
cerita yang berpangkal pada cinta tak berpunya
dan berakhir dengan duka carita…

“syamsul bahri berlari-lari ketika siti melamun di tepi
perigi, sambil memuji diri sendiri
: akulah perempuan abadi!”

Aku lalu mengambil penghapus dari ruang guru
Membaca sebentar, meski berlembar-lembar
lalu dengan ringkas kupangkas

Nama yang selalu membuatku was-was
: Siti
pada Syamsul Bahri, aku sisakan hidupnya
karena aku tahu Marah Rusli pun menyisakan hidupnya
dalam cerita,
meski siti telah mati..

aku begitu kawatir, kalau Marah marah lewat guruku
dan menggantungku
di depan kelas, sambil terus menerus menjejaliku
dengan kertas-kertas, yang panjang
dan tak bisa aku ringkas
aku pun menulis begitu tergesa di kertas
: “Syamsul Bahri hanya mati sekali;

sekali nafas
terpangkas, sesudah itu impas, lunas…”
Siti telah mati,
aih, ternyata Syamsul Bahri pun mati
tapi kisahnya terus bersambungan di tv
aku pun menulis surat pada pacarku, Siti terkasih
yang kini sedang menunggu di kampung
: “mari kawin lari, Siti,

mumpung kisah belum ditulis bersambung
di televisi!”

Sidoarjo, 2007



SIHIR PASIR
: Saudara Tua

mampirlah ke rumahku di pesisir, di pinggir pantai, di pinggir segala pinggir, tempat pasir memarkir takdir sebagai pembunuh; pasir yang saban hari tak lelah menjadi injakan kaki dan menjadi muara segala tubuh melabuh: tubuh lautan yang tak pernah mengeluh tapi menyulap keluh dengan nyanyian-nyanyian panjang

debur gelombang

kau akan mendengar karang ditabuh ombak, tubuh ditabuh riuh kehendak, kau akan melihat jejak-jejak retak yang membuatku tetap tegak meski gelap menggelegak bagai anggur memabukkan dan menyentak labirin kerongkonganku, kau akan menyaksikan…

ada gerak nan liar yang terpendam dalam diam

mampirlah ke rumahku; kau akan mengerti apa makna dari tepi: sepi yang berapi, merapi, sepi yang membahasakan diri di pucuk buih; bahasa-bahasa ombak yang menuntun mata; katupkan ufuk dengan cakrawala; rapatkan hiruk dengan rahasia

biduk asa yang tak berhenti untuk kembali

kau akan rasakan zenit meyentuh langit; doa-doa yang berdesing mengakrabi hening; doa putih, doa hitam; kau juga akan mendengar hingar doa yang memberi arus pada pasir, memberi ruh pada pasir, agar tubuh tak lagi berlabuh dalam gerak, tapi rubuh dan retak

lengan-lengan panjang yang merenda sejuta harapan

mampirlah ke rumahku, kau akan tahu, begitu banyak kanak belajar membunuh; mereka menghambur-hamburkan pasir di udara, dengan hembusan nafas yang telah terampas mata; mereka membuat patung-patung pasir gaib sebagai malaikat pencabut nyawa yang menyelinap di balik tangkapan indera

begitu dupa dibakar, doa dihentakkan dan bibir melaju: fuh! pasir-pasir akan beterbangan memintal korban, memburu setiap lubang yang terhampar di sepanjang kulit, bangkitlah kesakitan; pasir pun akan merasuki dan menyerbu darah dengan kekuatan-kekuatan langit; langit hitam —sampai terdengar suara-suara ratap, pantai pun senyap, matahari gelap, awan berhenti, angin menepi; semuanya menyingkir untuk memberi jalan bagi kematian mengukir akhir

akhir penyaksian

kau akan tahu, bagaimana pasir-pasir itu menyatu darah, mengalir lewat aorta; arus hidup akan membawa bulir-bulir pasir lurus ke jantung yang berdegup, asal-akhir takdir Sang Hidup; pasir itu akan terus berasus ke ruas nafas, hingga hidup pun redup; jantung pun akan memberi jalan pada Sang Maut untuk bertitah: “berhentilah langkah, berhentilah darah!”

mampirlah ke rumahku di pesisir, kau akan mengerti, begitu banyak kanak bermain-main takdir, mainkan sihir-sihir pasir, rapalkan mantra-mantra pengusir; mereka berlarian di pantai-pantai tak beratap; membangun bukit-bukit dan patung pasir dari jasad yang telah lumat; jasad yang telah disepuh dengan doa-doa merah; doa kaum teraniaya, blap!

gelap!

Surabaya, 2007



BUNTING

istriku mengandung laut,
laut yang mencederai otakku dengan karang,
karang yang mengutip cakrawala
cakrawala dan kapal-kapal yang berlalu lalang
bahkan tenggelam dan terbakar di selat
selat yang selalu membuat istriku kumat
: “beri aku 1000 rakaat!”

aku pun ingat rabiah —budak yang menapak
lewat batu, ke tangga penuh jejak wahyu
lalu sering kumat dengan mengganyang ribuan
rakaat dalam sekali malam dan sekali sikat
tapi istriku? mungkin ia sedang ngidam
begadang, malam-malam, di atas sajadah coklat
sambil mulutnya komat-kamit, penuh magnit
menarik, menombak dengan tepat
pikiranku yang sedang panik, dalam tidur
agar dengkurku tak lagi menjadi partitur
mimpi
mimpi tentang orang-orang yang terkubur
: kakek, nenek, buyut, canggah, wareng, gantung siwur…

aku bermimpi, tapi istriku sungguh telah mengandung
laut dan kumat dengan komat-kamit ribuan rakaat
dengan doa-doa panjang nan keramat
membanting harga diriku, dari lelap dan bisu
tentang asal-asul, tentang laut, tanah, udara, angin, api
juga sepi

ah, sungguhkah istriku bunting karena angin
laut, yang membawa berjuta plankton
ke ruang kosong… sungguhkah istriku hamil
karena gigil malam yang membugilinya diam-diam
di pantai, ketika lantai tak tepat lagi menjadi ranjang
tempat berbagi

ah, sungguhkah….
istriku mengandung laut
laut yang sering membuatku tercerabut
dari waktu; aih!

Sidoarjo, 2007

Komentar

Sastra-Indonesia.com