Langsung ke konten utama

Sajak Bambang Kempling

Koridor Ensiklopedia

Apabila malam telah larut
dan lampu-lampu sudah dipadamkan,
cahaya terkulai dalam rahasia.
laut,
dahaga yang menggelegak
langit melukis dirinya sendiri

*
:
Jejak bagai bisik tanda
bermula dari rangkaian kisah sederhana
buat cakrawala
(Langkah-langkah ganjil
mengendap-endap dalam diri
bersama detak-detik jam dinding
dalam suatu lorong tak berujung)

Sesekali,
dia hanya merasa itu
sebagai sesuatu yang pantas untuk dikenang.
hanya untuk dikenang.
Tetapi,
ada keenggganan yang selalu menyeribet
− goresan nama di sebongkah nisan −

Suatu ketika,
pada siluet panjang dia berkata:
“Tak ada yang berubah.
Hari-hari mengambang
bagai selembar catatan kesia-siaan.”

Malam lalu berderit pada gelap dan sepi,
bilik mengerdil dalam suara-suara.
Bagai godam di tangan pandai besi,
bertalu-talu menghujam sebilah pedang.
Lengking suara-suara adalah selaksa jarum menisik kepala
dan detak-detik jam dinding hanya sebagai pertanda
bagi gelap yang disusuri,
bagi kelam titian kabut di rimba langit,
langit di dirinya yang telah dibangun
melebur dalam persenggamaan diam.

ketiba-tibaannya
sebagai sisa serpihan
gelagat cahaya

Perjalanan sunyi
dari suatu petualangan
tidak pernah berhenti di batas jengkal
dalam sendiri
sakit membulir akut
teramat akut
Dia tubuh yang terbakar
oleh kepercumaan jalan
dari kesendirian seekor kepompong

adalah kepongahan tentang dunia
yang hanya berbatas sesapuan jelaga

**
Seekor kunang-kunang hinggap di dada
dipungut kemudian didekatkan ke picing bola mata kiri,
”Horee...!” teriaknya girang.

Warna cahaya
kecil mengerdip
terkulai di antara jari-jari yang gelisah
menghitung zikir yang tak sampai.
Kemudian dikucumbui kunang-kunang itu
layaknya cahaya dalam diri.

Dia kasmaran
dalam kasmaran dia menari.
Dalam menari
dia membayangkan ribuan kunang-kunang
hinggap di setiap ujung helai rambutnya.

Dia sang lelaki malam
bermahkota kunang-kunang dalam satu pesta dansa:
cahaya warna-warni
bersesakan dengan kebingaran
musik anak-anak surga prematur
laser mengilat-ngilat
melukisi ribuan pasang payudara
telanjang menyedot bola mata
birahi zaman
lantai pualam berkolam arak
denting gelas-gelas
meretakkan langit

Tiba-tiba sesuatu yang dingin dan geli
menggelitik jari-jari kakinya.
Dia meloncat.
Tikus moncong bercericit,
“Jancuk!” teriaknya.

Maka,
bertaburanlah suara-suara dari kepala
melesat menuju telinganya sendiri,
menghujam-hujam jantungnya
Berondongan umpatan,
jeritas histeris,
dan tangisan meledak
Siksa dentum halilintar.

Dia jambak rambut di ubun-ubun,
dia tempeleng sendiri telinganya.
“Aaakh!” Lalu terdiam,
hingga sunyilah yang tertinggal.

Lorong panjang
gelap
tak berujung
terhampar jauh.

Udara sesak menyumpal jalan pikiran.
Dengan tersengal
dia menghela nafas dalam-dalam.
Malam berperon secangkir kopi,
“Adakah ini perhentian?” desisnya.

keringat dingin
mengucur deras di sekujur tubuh
Diseka dengan telapak tangan keringat di dahi.
Gelap
pekat di depan.
Dari ujung gelap yang paling pekat itu,
beribu bayangan wajah
muncul dari ribuan arah
mula-mula hadir gemulai
lambat-laun menjadi cepat
semakin cepat
sangat cepat
sambar-menyambar
menyerbu kedua pelupuk matanya.

Dia berusaha mengibaskannya,
yang terkibas justru membelah diri
membiakkan berjuta wajah baru
wajah dari seluruh wajah
yang tak kan sanggup dia gantung di dinding kepala.

Di gelayutan pelupuk mata,
mereka saling menyeringai
bagaikan singa-singa di rimba
mereka melolong
bagaikan berjuta serigala
dari seluruh penjuru
menyambut bulan purnama
ketika dikelilingi mendung tipis.

Ribuan singa itu
saling mencakar
Ribuan serigala itu
saling menggigit
Mereka berebut mangsa
dan mangsa itu ialah dia,
dia yang terkulai dalam langkah bisunya.

Kengerian itu tak pernah terdengar oleh siapa pun,
tak pernah terlihat oleh siapa pun,
kecuali oleh dirinya sendiri.
Kengerian yang selalu ada
pada catatan buat hening

***
Mata yang tajam berbinar
air mata panas memantulkan peristiwa berlalu,
“Sunti…aku sebut namamu dalam hening tak berarti ini,” teriaknya.

Malam berbingkai rembulan di luar.
Langit bening kebiruan di angkasa,
tapi di lorong itu,
gelap
pekat
tajam mencabik-cabik.
diri terdampar
di lubuknya sendiri.

Sekilas kemuakan akan kecemasan
tumbuh dari rahim malam.
Getaran bibirnya,
isyarat derai-derai kepiluan.

Dia tersimpuh di jantung labirin,
nanar mata yang layu
memandang jauh ke dalam lutut persandaran dagunya.
Suaranya lantang memecah hening:
“Anak-anak bercengkerama
bersama kupu-kupu di ujung pelangi,
engkaukah yang hendak melahirkannya kelak?
Sungguh Sunti, kesombongan macam apa
yang telah menghamba di sini?”

Barangkali,
Sunti hanyalah sebuah nama,
yang disebutnya berulang-ulang semenjak itu.
Tentang siapa ia?
bisa siapa saja
bahkan bisa tidak siapa-siapa,
Tentang apakah ia?
bisa apa saja
juga bisa tidaklah apa-apa.

Apabila namanya selalu disebut
jelas ada alasan
mungkin juga tidak jelas tentang alasannya
sebab cahaya telah terkulai dalam rahasia
wajah laut telah mengabur
dan langit telah melukis dirinya sendiri

****
Wajahnya mengering pucat.
Dia lalu menggapai sebuah bayangan.
Setelah sampai gapaian,
dia meraba asal-muasal bayangan itu
bayangan sebuah kesangsian.

Dia bersimpuh.
Dia raba sudut matanya,
sepasang mata air dari air mata telah kering.
Dia raba kedua bibirnya,
bagaikan kemarau panjang.

wajah tak bernama
aku mengeja sendiri
bingkai-bingkai yang tersusun dari diam ini.
kelak aku kenang itu sebagai suatu kesalahan.
keanehan tersimpan di keranda.
cahaya dari keresahan tergores di pelupuk mata.
seperti hendak ada yang mengabadikannya
:serpihan-serpihan kabut bermahkota sayap kunang-kunang.

persekutuan malam
menandai keheningan
azan mengais rebana dalam diri

Padengan, 2007 - 2008

Komentar

Sastra-Indonesia.com