Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Heri Kurniawan

Tak Perlu Sesali

Kau yang layu dipucuk pena
Bendunglah segala tangis
Buka kembali kelopak matamu
Mekar menatap kebiruan

Aku yang tertatih-tatih
Memungut air matamu yang embun
Berceceran di jalanan tanpa batas
lemas



Tlah Ku Semat Janji

Melipat pintu sunyi api
Mensaljukan kembali luka-lukamu dan
tak perlu sungkan mengetuk kembali

Lembaran terang telah menanti
Menghadirkan jamuan rembulan di musim semi

Tak perlu lagi sesal
Semua telah tertinggal
Kita songsong dunia baru
Tulislah lembaran cinta
Hapuskan buram kelam

Jombang. 27 mei 2006



Bukan Siapa-Siapa

Aku bukan dia
Aku adalah aku
Dia adalah dia
Telah kulepas kau terbang
Aku takkan bermanja lagi

Jogja. 4 januari 2007



Di Tengah Arakan ayatMU

Dalam pekatnya suasana
Ku kais secerca cahaya malam
Mengugah kesadaran hati

Di tengah arakan ciptaMU
Ku panjatkan sagala rasa
Pada semilir angin
Menerpa hijaunya daun

Jerat dunia tlah usai

Jogja 06’



Aku Merindukan PenerangMu

Aku ingin memecah sunyinya malam ini
Dengan hembusan nafasMu
Menyuluh gelapnya kalbuku


kini remang telah menyelimut cahaya
memutar Tubuhku, membadai di kedangkalan,
Mengusik peraduan keceriyaan

Aku tak mampu
membuka arti simpul perjalanan yang kau ciptakan.
hingga Tapakku mengkaku
Di jalan yang telah rapi

Jogja 06’



Sekilat Waktu Bersamamu

Rasa yang telah terbias oleh perjalanan
kini telah lagi menyuguh kenang
Sayatnya gila meronta
menghantam perih malam

Sekilat waktu bersama pelukanmu itu
Antar aku pada derasnya tinta pedih
Meleleh di sela-sela rupa bayang
Luruh dalam benak

Jogja 06’



Akankah adzab…. ?

Memandang kali kering diantara manusia-manusia
Terciptalah sebutir air mata menitik
Menunjuk-nunjuk musim mengurai
Melampaui batas-batas

Aku terhenyak
Akankah sebuah adzab ini?

Cabeaan, Jogja 2007

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…