Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Dahta Gautama

http://www.republika.co.id/
AKU SUNYI, DIK

tunggu aku di persimpangan ini. Meski aku pergi
tetapi tak pernah secara sungguh-sungguh.
kota kita sudah tua, Dik
orang-orang yang kujumpai di trotoar
wajahnya penuh kerutan dan selalu berjalan tergesa-gesa.
matahari juga sudah tenggelam dua jam lalu
malam penuh kilatan lampu taman.

tunggu aku dipersimpangan ini, Dik
aku pergi sebentar saja
ke ujung jalan
memetik sunyi

Lampung, April 2007



KAWAN YANG TERSESAT

(duniamu, dunia terpencil.
engkau miskin sebagai anak yang tersesat.)

aku memanggil-manggil namamu, untuk memastikan
apakah engkau masih memiliki leher dan telinga.
leher. ya. mana lehermu. aku ingin menggentungkan
rantai bermata merah delima
agar engkau bisa menghilang
dan mencuri semua mainan anak-anak
yang tak pernah bisa engkau beli.

aku memanggil-manggil namamu.
tetapi ternyata engkau
telah kehilangan leher dan telinga.

Lampung, April 2007



MATI

engkau tak pernah memahami arti
bunyi angin di halaman rumahmu.
engkau juga tak pernah bisa memahami
makna taman yang gelap tak berlampu.
kunang-kunang, kelelawar dan lengkingan
anjing tak terdengar.

engkau tak mungkin paham
bahwa tuhan pernah tak ada.

Lampung, April 2007



MENYUSURI GERIMIS

bersama angin, aku menyusuri
gerimis petang.
jam-jam berloncatan
tetapi basah ini tak pernah
sudi memahami duka-duka.
aku menulis sajak tentang
burung gereja. yang tertembak
senapan anak-anak.

ah. sepanjang malam aku mesti
mengurung diri di runtuhan
sisa hujan. sambil menggambar
warna gerimis, senapan dan burung gereja

Lampung, April 2007

Komentar

Sastra-Indonesia.com