Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Fitri Yani

http://www.lampungpost.com/
Seseorang yang Menyalakan Lampu

maaf, di tiap degup jantungku
aku gagal mengingatmu selalu, Tuan
sebab yang lekat kuingat tak hanya nama, alamat,
dan bau parfummu yang harum menyengat
melainkan pula lakon Mahabaratha dengan tarian asap dupa
yang tak kunjung sanggup kaupentaskan dengan sederhana
dan di tiap kerlingan mataku ini, Tuan
ada semacam lampu yang menyala menghalau gelap
setelah berkali-kali aku gagal kau dekap
tapi mengapa kini kau percaya pada bulat purnama
ketika lampu mataku sudah menyala?
Kemarilah, Tuan, nanti kubuatkan segelas kopi
sambil menemanimu merebus puisi

"ah, lakon Mahabaratha tak mungkin dipentaskan
Aku tak yakin di atas bulan, Rahwana dan Sinta gagal bercinta"
ujarmu sambil mengunyah puisi rebus dengan rakus

barangkali kau lupa, ketika gerhana tiba
lampu mataku akan habis sumbunya

Mei 2008



Di Stasiun Kereta

aku tak mungkin pulang kepadamu
mengenang tamasya, asmaraloka
atau sekadar membenarkan kerah kemejamu
aku gagal mencari nama pemberian ayah
di panggung pertunjukan busana
pasar swalayan
dan di buku harian yang tak menceritakan apa-apa
bahkan yang kukira tersimpan di balik kemejamu
apakah aku harus menanggung kesalahan
lantaran angan-angan yang kau titipkan?

Entahlah
aku tak mungkin pulang kepadamu
memulai lagi cerita dari awal
di bangku kayu sebuah taman bunga
meski aku masih belum mengerti
apa yang telah luput dari ingatanku
hingga begitu enggan kulanjutkan perjalanan ini
kereta sudah datang
tak usah mencariku
aku tak mungkin pulang kepadamu

Tanjungkarang, Juli 2008



Yang Keluar dari Mulut Ratih

"Buatkan aku patung rusa!"
pintamu sepulang tamasya
(kata-kata itu keluar dari mulutmu,
memasuki aku melalui mata
lalu berputar-putar
di sekitar otak dan telinga
-aku tandai usiamu)

aku adalah belantara, Ratih
tempat di mana kau leluasa tamasya
mencabuti rumput liar,
memetik buah mangga,
atau menggoda burung-burung
yang sedang berkicau
kau tentu akan merasa sia-sia
jika suatu masa belantaramu
berubah menjadi patung rusa
yang entah di mana habitatnya

ya. perjalanan sudah dimulai lagi, Ratih
tak perlu membuat patung rusa
untuk mengeja usia
cukup bersuil saja

Agustus 2008



Di Batas Sajak

malam tadi, kau dan sajakmu serius berdiskusi
tentang suara air yang lolos dari kran kamar mandi
kau menduga ada yang sedang membasuh diri
tanpa pamit lebih dulu
sajakmu menduga ada yang sedang mandi
dan berniat bunuh diri setelah itu
kau dan sajakmu berdebat sengit, berkelahi
lalu sama-sama terlelap oleh lelah dan penat
dan ketika terbangun, kau menjadi lupa
bila semalam kau pernah mencipta sajak
bahkan setelah mandi dan sarapan pagi
sajakmu kaubiarkan saja terkapar di meja,
lalu diculik angin dan ditawan entah di mana
petang ini, ketika berniat bunuh diri
kau mendadak teringat pada sajakmu
karena setelah diculik dan ditawan angin
sajakmu menjadi tak lagi mengenal namanya
seperti menjadi waktu
yang tak lagi menghitung gerakan matahari
yang sinarnya timbul tenggelam di atap rumah pengap
yang kerap disinggahi kenangan dan harapan

April 2008



Penjaga Pelabuhan

"bapak, biarkan kami bersaksi
bahwa kau pernah menjadi ombak
di dada kami
kelak, kami kabarkan kepergian kepada burung laut
sebagai isyarat bagi pelabuhanmu
yang mulai tunai mengatakan perjumpaan"

debur ombak
bergemuruh di dada sepasang remaja
selalu ada tanda bagi segala yang akan tiba
lewat bayang karang dan matahari yang bertegur sapa

Tanjungkarang, Februari 2008



Dongeng bagi Kaum Lansia

suatu malam ketika bulan kepenuhan sinar
seorang gadis kecil turun dari ranjang
kemudian memetik buah apel di halaman
ketika sedang memakannya, ada seekor ulat
yang tersesat dan merengek minta dikeluarkan

"betapa bulat bulan purnama di atas sana
bisakah kamu memetiknya untuk saya?"

ujar si ulat dengan kikuk, gadis kecil itu pun mengangguk
setelah bulan ia petik, si ulat pun lekas masuk
dan meliuk-liuk dalam bulan yang tergeletak di halaman
dan gadis kecil itu? kini ia bahagia dalam buah apel
yang tergantung di antara bintang-bintang

Tanjungkarang, Mei 2008



Penjaga Lampu-Lampu III
;lupita lukman

1/
Dua jam menjelang subuh wanita itu berkata kepada ketiga bocah yang sedang lelap tertidur "Nak, Ibu harus pergi mencari puisi". Lama ia terdiam, memandangi ketiga bocah itu satu per satu. Dibelainya rambut mereka, ia teteskan air bening dari matanya, berbulir, mengalir hingga ke dalam mimpi ketiga bocah itu

2/
Tak sampai hati wanita itu melihat warna malam di mulut ketiga bocahnya yang terbuka. Maka dipadamkannya lampu kamar, yang senantiasa ia nyalakan agar ketiga bocahnya tak tersesat dalam mimpi. Dan ia pun pergi, menjinjing koper berisi kenangan dan angan-angan, tanpa mengucapkan selamat tinggal. Ia tahu, ketiga bocahnya belum bisa menyalakan lampu

3/
Di mimpi ketiga bocah tadi, wanita itu menuai padi di tengah sawah, sementara mereka mengejar punai yang suka hinggap di jerami. Seperti ada percakapan yang hilang di antara pematang, menandakan musim tuai telah usai. Dari kejauahan mereka melihat air sawah berangsur-angsur bening, "Hore!! kita akan panen puisi". Tiba-tiba terbangunlah ketiga bocah itu. Ternyata hari masih gelap.

4/
Seperti punai yang tak lagi hinggap di jerami, seperti suara serunai di tengah pematang. Barangkali di sana, kehilangan akan mudah dilupakan.

5/
Ketiga bocah itu memutuskan untuk kembali lagi ke situ, ke mimpi mereka. Meski musim tuai telah usai, mereka percaya, punai akan tetap kembali, hinggap di jerami yang rebah.

September 2008

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…