Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Mardi Luhung

http://www.korantempo.com/
Hantu Paus

Aku percaya pada hantu paus. Hantu dari paus yang dulu terdampar di pantai sana. Tubuhnya menampak dan menghilang. Mengambang dan melayang di gang-gang. Dan matanya yang kecil terlihat garang sekaligus lembut: "Seperti sedang mencari jalan pulang."

Pulang ke mana hantu paus? Sirip dan ekornya tak menjawab. Dan gang-gang yang sempit pun terus dilalui. Dan tubuhnya yang besar itu bisa melonjong dan menyempit. Atau malah tembus pandang. Tak ada yang dapat menahan dan memaksanya.

Hantu paus yang aku percayai tak menggigit. Sebab ketika ia melalui depan rumahku, aku cepat diloncatkannya ke punggungnya.

Aku pun diajaknya terbang. Melihat kampungku dari ketinggian.

Kampung yang penuh jala, rumah minum, perahu dan keranjang.

Hantu paus memang baik. Bahkan aku pun dimasukkan ke dalam perutnya. Di situ aku berenang dan seluncuran. Dan sesekali petak-umpet dengan usus dan limpanya. Aku selalu disembunyikan di bagian yang terdalam. Dan aku selalu menjadi pemenangnya.

Pemenang untuk melihat kenangan-kenangan yang telah disimpan dengan teliti. Kenangan tentang bumi yang ditenggelamkan.

Tenggelam juga jalan, pohon dan sungai yang ditancapkan.

Tenggelam juga siasat yang selalu menikam dari balik titah.

Sampai kemudian, hitungan pun kembali lagi. Kembali mengeringkan bumi. Dan kembali mengangkat semua yang ada. Dan semua yang ada itu pun bersorak: "Kami diangkat lagi, kami diangkat lagi!"

Dan aku mendengar gerak melayang-layang: "Jadilah, jadilah..."

Ya, saat melihat itu aku begitu bahagia. Malam yang aku lalui menjadi kebat. Dan tanpa terasa matahari hadir dengan kerudung merahnya. Dan hantu paus pun kembali mengembalikan aku di depan rumahku. Tapi, astaga, mengapa semua keluargaku menangis dan mengiba? Aku hanya mendengar ibu berkata: "Ke mana saja kau pergi selama setahun ini, Nak?" Pergi setahun! Ah, apa benar aku pergi setahun? Jangan-jangan, kini ibu tak lagi bisa menghitung waktu.

Sebab, aku hanya pergi semalam. Pergi semalam dengan hantu paus yang aku percayai itu...

(Gresik, 2007)



Hidangan Rahasia

Keperluan: kepalaku, udang kupas, soun, jamur kuping, sedap malam kering, wortel, kapri, bawang bombai, bawang putih, seledri, kecap, minyak goreng, merica, garam, kaldu, dayung dan kemudi. Dan memasaknya: kepalaku direbus. Jangan diambil dagingnya. Apalagi dipotong. Campur semuanya. Juga bumbu. Biarkan matang. Biarkan warna tampak kemerahan. Seperti warna matahari ketika mau tenggelam di laut yang sepi. Laut yang malas.

Cara menyantap: mengapa mesti gemetar saat dayung dan kemudi dihunus oleh dua tanganmu? Dan mengapa kepalaku juga mesti terbelalak? Seperti mengisyaratkan sebuah pesan dari ketinggian. Sebelum kau belah kekerasan ubun-ubunku. Dan seekor burung nazar yang turun dari angin pun mencari kekasihnya yang hilang entah ke mana. Lalu hinggap sambil mematuk dua bola mataku yang penuh kuah dan bumbu. Berebut dengan keganjilan yang tak bisa direda.

Penutupnya: pada meja, kursi, piring, gelas, serbet dan segenap sisa hidangan: bersendawalah. Dan hirup segenap aroma yang meruap dari mulut. Aroma yang mendaki undakan-undakan ombak. Sambil tak lupa memahati sebentuk perahu. Lalu melepasnya seperti para ibu pantai melepaskan anak-anaknya. Sebelum anak-anak itu takut akan kedalaman. Dan buta akan pergeseran bianglala. Yang semakin menyembunyikan wujudnya dari setiap sisa dagingku yang mendengung di perutmu...

(Gresik, 2007)



Musim Kering di Kampung

Inilah hikayat tentang musim kering itu

Anak-anak menyambitkan layang-layang. Udara penuh debu. Bendera dikibar-kibarkan. Dan di rumah ibadah suara ngaji dan doa pun meminta hujan. Lalu, dari samping gudang yang mendekati kusam, para kuli menimbang dan menyereti karung: "Selingkuhan siapa yang menjual telur ikan pari yang dibungkus daun?"

Agak ke utara, warung minum penuh tuak. Daging dan usus kambing di meja tambul. Kulit kapri berserakan di lantai. Lihatlah apa masih mirip dengan pecahan bintang yang bernyali: "Aku tak akan pulang, istriku datang bulan! Tambah segelas lagi! Kadang-kadang birahi pun mesti ditanggung! Tak ada yang tak menyimpan kenangan!"

Dan di tiap pohon yang berjajar. Pohon kering dan kecokelatan. Gambar orang yang melupakan itu tinggal separuh. Separuhnya telah dirobek setelah pilihan. Dan dari ujung gang: "Ya, idaman siapa yang bersepeda pelan? Rodanya seakan ingin lepas. Menggelinding sendiri. Atau malah tersungkur di pinggir parit yang mampat. Sakit!"

Lalu, ketika tali plastik dibentang. Terdengar dengung seperti geram sepur menderam. Terdengar seperti dua besi saling bergulat. Seperti percik dan nyala yang terhambur dari jas pesulap. Dan dari lekuk mulut si tukang perahu yang melagak: "Hai, seekor ikan paus tutul betina mati terdampar, tubuh buncit buntingnya aku awetkan dengan balok es!"

(Gresik, 2007)

Komentar

Sastra-Indonesia.com