Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Tjahjono Widarmanto

http://www.republika.co.id/
REQUIM HUJAN

saban gerimis tiba
kau selalu berkata
segala waktu segera rapuh,
tangis tak lagi mampu memberi arti
segalanya jadi buta
sesuram lorong gua manusia purba

saban gerimis tiba
kau selalu ingatkan
kita musyafir yang berangkat tua
melangkah gontai seperti seekor unta
terengah-engah seberangi jazirah-jazirah,
terkantuk-kantuk tapaki jalan-jalan rumpil,
penuh berserak batu dan duri.

inilah tempat yang kita tuju! teriakmu
(jarimu menuding ke atas cakrawala,
entah melihat ketinggian apa)
inilah tempat terakhir meletakkan sujud,
isak penghabisan, dan secuil kebanggaan
barangkali bisa menjadi legenda buat anak cucu
yang kelak akan segera mewarisi tangis yang serupa

gerimis pun lebat
tak hanya saat senja
namun juga saban pagi
memaksa kita segera bersedekap jari

Ngawi/28/04/06/



BERCINTA DENGAN HANTU-HANTU

siapa tak jemu merindukan sorga
semuanya serba rahasia dan istimewa

siapa sanggup menafsirnya?

legenda-legenda itu lama mencatatnya
menjadi semacam sajak atau mantra
dunia ajaib entah darimana
gaib yang melahirkan hantu-hantu dari rahim
para perempuan yang sembunyi di balik belukar
dengan susu terbuka, lonjong, dan bergoyang-goyang
selalu menari hingga keringat meleleh jadi muara
tempat meluncur perahu-perahu — bukan milik nuh
mengusung ranjang bermotif warna-warni
mirip kursi para pengantin;
mengapa kita tak bercumbu di sana
dengan hantu-hantu bersusu lonjong
bukankah kita pecumbu abadi itu
pintar melahirkan api
membakar semuanya.

Ngawi-Surabaya, 2007



MATAHARI LAUT

sungai-sungai itu membawaku ke muara laut
mencelup kepala dan meminta beberapa rambutku

matahari asing itu menawari sebuah igauan
yang lalu lalang dari satu nafas ke desah lain
kejemuan paling bangkai

matahari itu telah menyodokkan gurun di ketiak hujan
mendesak usia dan nama-nama. juga namaku dan deretan nama lain
– mungkin juga namamu — menjadi butir-butir pasir
terasing dalam bau pesisir yang pesing

laut itu tak bisa tawarkan dahaga ini
juga saat matahari beranak dalam mangkuk minumku
saat itulah hari tercecer jauh seperti jejak-jejak musa

nasib tak pernah menunjuk mata angin laut yang pasti
kepala jadi pedih karena asin dan kerontang
matahari-matahari itu menenung rambutku jadi jerami terbakar.

Ngawi 2006/2007

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…