Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Restoe Prawironegoro Ibrahim

http://www.suarapembaruan.com/
Malam

dia datang tengah malam,
mendobrak sepi menghempaskan pendar mimpi,
lalu mengajakku merangkai kata untuk-Nya dan
mengajakku menjajaki malam meski gulita
mengajakku menyelam meski keruh dan
mencecap meski terasa pekat
untuk mencari kata sepakat.

13032008



Anak Merindu Ibu

Di teluk, anginpun menepis
pada rumput serta daun bambu
juga pada rumpun dan ikan-ikan itu
tapi laut ibunya tak pernah datang menyapa
adakah anak-anakku bermain di sana?
Hanya desis suaranya ikan-ikan mungil
yang meloncat-loncat kecil di tepinya
ibu, di sini aku senang bermain
bersama rumpun dan ganggang.

13032008



Dengan Pisau dan Gigi

wahai saudaraku,
hidup laksana sepotong roti
yang mesti kau iris
dengan pisau ketabahanmu
wahai saudaraku,
hidup bagai sepotong pisang goreng
yang mesti kau kunyah
dengan gigi keyakinanmu

13032008



Lepas Senja

dari lepas senja
telah kuhempaskan kesangsian
dengan segenap rasa
yang kemarin tersisa di ujung jiwa
....... sebatas cemas
dan kini terkapar
menggeliat bersama koral
yang dingin dan sepi
saat dengus kereta
melarikanku dalam khayali.

13032008



Pulang!

Kucemburui laut di batas senja
tapi deburnya tak juga menyapaku. Aku pun
berpaling dari kegetiran-kegetiran
Aneh, beban kenapa pundak begini berat
padahal aku sedang sendiri berkawan sunyi
Ya, akhirnya kutembus lapis langit terakhir
berlama-lama tengadah, ternyata menggelikan
Sebab, alam rupanya malu ditikam mataku
alam pun tiba kegelapan. Aku pun bergegas
pulang!

13032008



Tanpa Titik Koma?

sampai di sini aku merasa kelu
saat kabut dan jarak waktu jadi beku,
lantas siapa mesti kutanya?
nada usang telah terbuang!
........ dan aku berlari mengejar khayali
yang dengan pendarnya menawarkan harap.
sampai akhirnya aku menjadi kelu
menatap bayangku, sendiri mencari siapa,
yang mestinya kutanya
haruskah mengurai tanda
dalam dada yang tanpa titik koma?

13032008



Dua Kenangan

menua waktuku
aku merindu mesra
dua seperti senyummu dulu
dia ingatkan aku rembulan di kota,
tatap betapa potretmu kian dibalut kriput
kau menari poles lipstik; ini nyanyian, bisikmu
dan ku tak kenal lagi
antar tembok-jembatan sambung dunia
gudeg yogya
lesehan malioboro
kumpul kebo
alunan pengamen
petikan kehidupan
aku tersenyum, bayangmu menghilang
seperti katamu sepanjang jalan
dan detik ini dua kenangan

13032008

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com