Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak S Yoga

http://www.suarapembaruan.com/
Jalan Bercecabang

bukankah ini jalan bercecabang
jalan para lelawar, ular dan srigala
jalan yang menampung hujan terakhir
sebelum pusaran laut menyedotnya
hingga sungai-sungai nampak sepi
yang tak seorang pun tahu arah tujuan
meski membawa peta dan arah mata angin
karena jalan hanya menunjukkan isyarat
para pendahulu yang rapuh oleh waktu
jejak hujan yang hilang oleh malam
jejak kemarau yang lenyap disapu banjir
tinggal tanda dan kenangan yang membekas
bagai totem purba di pohon tua
di jalan, gang dan dinding kota
yang kelam tak bercahaya serupa lorong gelap
yang dulu pernah ditemukan di puncak bukit

Situbondo, 2008



Telur

ia lebih lengkung dari alismatamu
tempat menyimpan rahasia di balik makna
lebih berwarna dari bianglala
yang menyimpan cahaya dari semesta
ia lebih putih dari gugusan sedih
yang menyelimputi rerumputan
lebih embun dari hujan airmata
bunga kamboja di kuburan
pedih ia melintasi sungai yang memanjang
sebelum terdampar di sebuah telaga
ia bukan biru seperti lautan menyimpan ombak
tempat duka burung-burung camar
ia lebih muda dari usia tangis bayi
saat dilahirkan dan mengenal warna dunia
ia lebih suka sendirian di dalam sepi
di dalam cangkang matahari
sebelum panasnya memecah kabut musim gugur
sebelum ia disebut api tempat samadi kaum lapar
sebelum hijau daun lebih hijau
dari riwayat kematian sang bunga
di mana kematian merupakan sekarat
yang nikmat
ketika berguguran ke bumi dihempas angin senja
lebih senja dari sayap burung mengibaskan waktu
lebih rindu dari batu yang tergelincir ke sungai
adalah dirimu yang tampak dalam diam
di mana kerinduan adalah waktu yang diuji duka
ia hanya sebuah telur yang tak mengenal lingkarannya
yang sepanjang hidupnya memandang kekosongan

Situbondo, 2008



Mercusuar

menjulang seolah pohon purba
di bawah tatapan sinar bulan
berdiri bagai malam tak beranjak
adakah ia akan mencari terang
sebelum semua tenggelam
terlihat punggungnya kelam gemintang
yang runcing menghadap langit
rupanya ia penasaran
tak pernah bisa meruntuhkan bintang
dengan doa dan mantra
yang ia pelajari dari isyarat bumi
ketika berguru pada seekor naga
di bawah lautan
hanya bayangan diri yang ia dapatkan
di kediaman batu dan lokan
yang membuatnya lebih bijak
ia tahan seribu birahi yang meracap
di dalam gelap
di antara gang dan lorong remang
isyarat air dan bara api
telah membuatnya lebih tabah
di antara angin dan badai
yang datang bagai kabut
yang siap menjadikannya tawanan hidup
akan kesunyian yang membekas di dinding usia
tempat dulu kapal-kapal diarahkan
ke laut luas ke jalan lapang
kini semua pejalan telah meninggalkan
sinar lampu kapal entah ke mana.
namun ia selalu menyimpan
semua rahasia para nelayan

Surabaya, 2008

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com