Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Evi Idawati

http://republika.co.id/
REDUM KARANG

Akar langit bergelantung di tubuh bumi
Memahat takdir dari lisan rerumputan
Terhampar awan bagi sujud dan keheningan
"Ceritakan padaku kisah bintang,
detak yang terpanggang
ruh bagi awan dan halilintar."

Bergetar sayap capung di rebah pepohonan
Engkau menyusui umbi yang tertanam
Daunnya menjalar berkeliaran
Merajai arah sambil menabuh tubuh
Aku berdendang merajam malam
"Jasad ini aku persembahkan bagi kesakitan
rekaman lara dan ketaklukan."

Tatah tubuhku dengan bibirmu, lelakiku
Jelajahi semesta yang aku bangun di rahimku
Aku mengendapkan matahari di sana
Menunggangi waktu
Engkau menggiring peluh
Menjelmakan embun
Merandai di dada
Merambat lambat menggenang
Di pusar denyut samuderaku
dari redum karang yang terendam

Yogyakarta, 2008



SAJADAH

telah aku terima sajadah
yang engkau kirimkan kepadaku, kekasihku
yang bertuliskan namamu
yang engkau titipkan lewat rabiah

dia berkata-kata padaku tentang dirimu
dan memberikan aku mangga yang ranum
dia juga menunjukkan karpet yang beragam padaku
tapi dia menggulung milikku dan menyerahkannya
pada seorang lelaki untuk membawanya pergi

"kamu lebih memerlukan sajadah
daripada karpet. bergegaslah.
bayarlah aku limaribu
kamu akan mendapatkan milikmu"

lalu lelaki itupun pergi membawa
gulungan karpet tanpa menoleh lagi padaku
padahal dia yang menyeret tanganku melintasi awan
membelah lautan dan menghadapkan aku padamu

telah aku terima ikrar
yang disebutkan rabiah padaku, kekasihku
dengan luapan cinta dan pemujaanku padamu
aku senantiasa menyapa langit dan semesta
menyerahkan diriku untuk mencintaimu
getar dan detak
tangis yang menggenangi pori-pori
limpahan rindu untuk dirimu

telah aku terima semua
yang dikatakan rabiah padaku, kekasihku
mutlak! maafkan, jika senantiasa
aku meminta ridho dan kasihmu

Jakarta, 2008



AKU MEMETIK NAMAMU DARI LANGIT

Bukan pada fajar aku menengadah
Dan menemukan namamu di langit
Lalu memetiknya
Dan meletakkannya di hatiku
Tapi waktu tengah malam kala semesta benderang
Dan awan mengirimkan isyarat dan tanda masa depan

Aku memetik namamu dari langit
Mengumpulkan bintang dan menaburkanya di matamu
Kerlip dan binarnya seperti arus
Yang menghanyutkan aku dalam beliungnya
Hamparkan hatimu untukku
Menjadi sajadah, mihrab dan nadiku
Jika sunyi masih mendekam

Dan aku menggapai sayap yang tertinggal
Aku sedang menjadi penjaga bagimu

Aku mengambil namamu dari langit
Membangun rasi bintang dan menimbunnya
Akan tiba saatnya sinarnya cemerlang
Melesat keatas dan berbinar
Kau tahu, aku mengukirnya
Dalam rintihan dan desah kata
Yang menjagaku senantiasa
Terbang dan mengepakkan sayapku
Menabur percik cahaya abadi di hatimu

ogyakarta, 2008

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…