Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Ridwan Rachid

Kota Kata

Sejumlah kata lama telah binasa
Temui ajal di tengah gelombang peradaban
Terkubur dalam pesatnya populasi bahasa

Tapi bukan kata jika menjadi lemah
Ambisinya melahirkan juta kata baru
Lantas menyatu

Barisan kata menjelma senjata
Menindas kepala etika
Menghancurkan sejumlah asa
Koalisi kata beranjak tertawa
Kata seolah berkuasa

Sedang sesungguhnya
Kata masih terlelap pada batas realitas
Dibuai mimpi yang tak kunjung selesai
Hanya berputar dibalik pintu-pintu makna;
--dan manusia belum temui jengah—
Walau lelah

Jogja, Februari 2008



Nominal

Menempa taramat lama
Setajam runcing baja
Cukup nyaman guna sembunyi
Dalam selimut dua warna
Terkatup di lubang tikus
Sarang siasat paling rakus

Bisa saja dipastikan
Neraca punya kelemahan
Begitu genit nominal
Jadinya enggan rasional
Nafsu tersenyum angkuh
Mencerca logika dungu
Mustahil jeruji tersentuh

Jogja, februari 2008



Serabut Mesra

Penat kembali merajut kusut
Membelit sulit terurai
Kupilah sehelai risau
Meski terkait simpul gelisah
Tergontai aku jemu
Yang semakin mengulur kacau

Pada balutan amarah
Lekas ku bergegas jengah
Ku tenun halus hati ini
Memintal serabut mesra
Bila ku tahu tubuhmu
Menggigil dalam raut dingin
Akan ku jahit fajar pagi
Menjadi gaun mentari
Ingin ku pastikan selalu
Hangat, erat mendekapmu

Jogja-Surabaya, Februari 2008

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…