Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Anis Ceha

KU DAPATI GELISAHMU

Ku dapati langkah kaki berkejaran
mencoba meretas awan
sedang jemari terlampau kecil lentikkan asa
dalam genggaman angan.

Katanya terlalu sulit menghimpit;
waktu pedang di hempasan leher
menyeka penatnya siang dan perut nyaring,
selalu berbunyi:

“kenapa ada tugas ini?”
lenguhnya dalam kesunyian.

Agust, 2005



PADA IBU

Ada hamparan surga di wajahnya,
menghalau haus rasa
gemercik memercik di setiap helai jemari
menuangkan permai
lukisankan kedamaian,
betapa cinta itu tabularasa.

Ibu,
ku buat engkau menangis lalu tebar nila
di setiap lenguhnya
Firdausmu tetap teduh disaat aku gadug,
lalu air matamu berujar darah,
bagai kau pijakkan tanah,
aku kembali pada rahimmu seketika
melewat celah-celah air mata bercampur nila
menjadi apa-apa yang hina.

Tuhan telah murka karena air matanya.

050925



ADA DUKA DI LEMBARAN

Ada keranda hitam terusung pelan-pelan,
lembaran kafan ungu tertinggal
dalam selimut kelabu.

Ada keranda hitam lebam sejenak berlalu
sedang lembaran ungu masih tertinggal
di lembar waktu
belum sempat tertiup angin semakin kumal,
terkubur debu membeku.

050604



CERITA TENTANG LUKISAN LAUT

Lalu ku tiup lilin seribu buah di meja lautan
ketika pepadian depan rumah
tercabuti kemungkinan.

Aku lihat gadis kecil itu menari sesaat
lantas terjatuh air matanya
kala dicubit sebelah pipi kemerah.

Ia mengeluh lalu bercerita lukisan laut
bergemuruh, oleh ombak selalu pasang
ikan-ikan bergelombang tawarkan rindu.

Hanya ku dengar sebelum kemudian kabut turun
seliur perawan menekur di malam-malam lentur,
seumpama pita rambut periang
di simpulan rangkul.

Ia menari laut birunya di campur nila
menjadi riak buih sesepi putih dakian.
Dan dikabarkannya kembali tentang gelombang
tawarkan rindu hayati
kepada bunda selalu berkulum senyum,
meski awan kelabu berpilu
oleh sebelah kakinya tersandung gundukan batu.

Siapa itu, pada biru ombak terantuk karang beribu?
Ia menari lagi, melukis biru laut hilang warna sepi,
beku sesal sesalju dan hitam nilanya beribu
sekopi pahit masa-masa lalu.
Aku hanya mendengar,
tertiup lilin tinggal separuh tubuh
sembari terus ku saksikan ia tawarkan rindu jiwa
dalam kabut semakin kecut.

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com