Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Dian Hardiana

http://www.republika.co.id/
SURAT CINTA KETIKA HUJAN
: dea ayu

Kau adalah hujan yang tak pernah selesai
bukan pula hujan yang mengguyur kota
sebagai badai
sedang aku adalah dirimu yang lain
yang menjelma setelah hujan
ketika angin begitu tenang
dan burung kembali terbang.

Di matamu, tak ada perburuan
hingga dengan tenang setiap orang
menghafal usia, menyimpan jam
perempuan menenangkan bayi-bayi yang menangis
anak-anak berhamburan turun ke jalan, menari
bernyanyi, menjadikan suaranya
mendengung di udara.

Kau adalah hujan yang tak pernah selesai
basah dan kenang
meninggalkan pesan di atas kaca
juga sketsa wajah berwarna merah
wajah dengan senyum terkembang
mengunjungiku pada mimpi-mimpi buta
di malam gugup atau di siang yang murung.

Di dadamu, tak ada lagi pertemuan
percakapan menjadi ungu dan membosankan.

Setiap hujan, aku mengirim doa untukmu
(sebelum jantungku berhenti mengingatmu)
sebagai rindu yang dititipkan tuhan kepadaku
- surat cinta bagi kekasih yang jauh.

Bandung, 2008



NARCISSCUS

Tiba-tiba aku menjadi narcisscus
aku begitu mencintai diriku sendiri
bukan danau, bukan pula angin yang berbisik
tapi dirimu yang menuding
ketika danau beranjak kering dan angin
melempar sunyi.

Tiba-tiba aku menjadi narcisscus
aku tergila-gila pada bibir,
rambut, dan mataku sendiri
di sebuah malam kabut
jauh di utara, di antara
rumah-rumah sederhana.

Bandung, 2008



AKU MENEMUKAN WAJAHMU RETAK DI SEBUAH CERMIN

Di suatu malam yang tenang
ketika jengkrik berhenti berzikir
dan waktu tertahan mengalir
aku menemukan wajahmu retak di sebuah cermin.
Malam itu aku benar-benar dikejutkan
setelah begitu lama aku menunggu kedatangan.

Padahal kita harus menikah
pada hujan, pada bulan,
pada sebuah pertemuan.

Bandung, 2007

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…