Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Suryanto Sastroatmodjo

SEKAKI KESUMA

Sungguh menderaslah air merayapi setingkap kini
Kala pergumulan tetes-tetes perlawatan menemu perih
Dan senjakala yang meneteskan likur-lingir
Mendatang jelang serakit tualang
Masa memandang himpit-hincit tandang
Sementara jelita makna kau lengkapkan
Sedang lakon yang ku lakoni hendak menjulang jalang

Pertanda telah merawikan nyanyi yang samadi
Hulu balang menggapai selendang mimpi
Andai pagi meraba perjalanan: Hidup pun tersapa
Dan semoga takkan lantak yang tertunda!

Kendati si pongang kangen masih juga terpasang rakitan
Laku mendekatkan temali lonceng dalam wirama sontak
Akhirnya bakal menggulir sendi
Bersama simfoni lirih semilir.



Balada Segelas Kahwa

(1)
Aku tahu bahwa pahit
Teronggok dalam cangkir sukma
hanya menunggu bedug malam
dengan terompah kayu dan bersalam
Aku tahu risau nan kelam
menggelepar dalam kamar samar
dan tak kukenal seraut kenang
tatkala mengetuk pintu pertama

(2)
Mungkin adalah dendangsayang
dendang gebalau hari-hari cendawan
Sungguh, alangkah gawal
mendera ufuk tanpa sepeluk faal
Padahal bumiku punya pelatuk
juga bukan cancangan ufuk
bila lusa dituntut ujung telutsujud

(3)
Dengan mentari teramat pahit
aku gulung helai kain aksaramu
kendati kopi pun pahit. Cuma sehaluan
menyebut simpati pada bocah-bocah rimba
Aku menggapai sulur gadung
dan rebahan batang-batang lengkung
Tanda sebuah janji bakal pupus
ditunda oleh kemarau berpeluh

(4)
Dan alangkah sibuk dan suntuk
pedalaman benua di ini ufuk
Kala kita punya persinggahan barang dua bentar
seraya menengadah ke langit gumelar
Atau biar segelas kahwa panas
aku teguk dalam pahitnya gemas
Seraya mencari sesuatu nan tercecer
dari seberang menyeberang harungan

(5)
Lantas bertanyalah pada anak dolan
yang kini sanggup mengepuk matahari. Sepenggal tanya
sandar di dermaga selepas maghrib sekelupas
Dan aku akan minum kahwa panas
sebelum kembali bercakap keras
di beranda, sarat oleh tamu-tamu berdandan.

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com