Langsung ke konten utama

Sajak Imamuddin SA

KIDUNG GANDRUNG

lantas bagaimana aku mengucap kata
bercerita pada dedaun basah
yang menetes embun pagi
di atas nur sang kekasih;
azzali

sementara, batas kesadaran terkantuk-kantuk
mengeja puitika aksara
melintas ruang hampa
antara pusara jiwa
merayapi ilusi bayang-bayang sahadatnya

adalah kesemestaan memberkas bagai tanda wujudnya
sebening hati laksana lubang kunci
pun aku sendiri kunci pembuka gerbang ini;
namun cinta bukanlah tangga nada
melintas lewat notasi bahasa
tiada yang sanggup menerjemah;
hanya sang kembara
penyimpul benang merah sejatinya
-akulah cinta

sungguh gaib mawar yang kau tanam untukku
segaib dirimu di pelupuk indraku
keberadaanmu bagiku, jauh di sebrang ruang waktu
tak tuntas tergapai lewat lambaian sayap-sayapku
namun kau begitu dekat bersamaku
sedekat pelipis mataku
seerat urat leherku

aku gugurkan janin munafikku
aku rontokkan pentil khuldiku
kesadaran berelimut pesona hasratku,
tak sanggup aku melangkah menjenguk indah cahayamu
namun hanya sebatas rayu terus terlagu
lewat kidung gandrung di awang-uwung hatiku
mengundang sejenak kehadiranmu
mengisi ruang kosong hidupku;

kangen iki
manggon ono ing katresnan sejati
ora bakal lali
ora bakal ngapusi
wiwit esok tumekaning wengi
seng tak puji
seng tak ugemi
namong sliramu katresnani
katunggon busono kang suci

gumebyaring ati
manunggal patraping janji
kelawan ngukir angen-angen sliramu bakal nemoni
meski ketemu ono ing mongso semi sumelehe bumi
kelawan nggowo kembang mawar abadi
seng kasembah marang sliraku kang mangenteni
-mangenteni ing pinggir dalan iki
dadi saksi
liwat tondo ngipi dino wingi

aku eling nalikaning hening
nggondo wangi
miwiti esok ngagem candraning bayi;

mbrebes
-mili mripatku
njerit nggludok suworoku
njambol peksi atiku
nglukes mendong kelawan geni lelakonku
lelampahan ngadho maring sliramu

adakah aku kan menjelma rumi
melebur ngengat dalam nyala api
ataukah laksana rabi’ah
menumbal surga neraka
bagai nisan cinta sejatinya

namun aku bukanlah mereka
menyimpan sembah batu-kerikil berbeda;
sebab lain tanda lain maknanya
lain kata lain bunyinya
lain pula perintahnya

nihil daya aku menuang dada
di batas permainan laga
bersama semerdu pesona;
lewat lenggang batinku
kubawa anggur kepolosan rindu
dengan cawan bening keyakinanku;

esok kau pasti menyapaku
-entah, dalam seribu wajahmu?

Kendalkemlagi, Januari 2008

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com