Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Denny Mizhar

http://suara-sunyi.blogspot.com/
Dengar

Dengar! Teriak-nya membela batu cadas
di persimpangan jalan terjal
dihimpit gedung-gedung dan pusat-pusat pesta fana.

Isak-nya tak ter-terasa lagi
tergilas mesin-mesin industri
kemanusiaan-nya mati berkeping-keping.

Dengar! Ruang mana?!
Untuk mereka yang sedang kesepiaan
tujuan rantauan persinggahan hidup

Malang,24 Februari 2008



BIARKAN AKU MENGENALMU

Biarkan aku mengenalmmu lewat tubuhmu dari ujung halus rambutmu hingga ujung lentik jemari kakimu. Ku belai panjang rambutmu, kutemukan serpihan fikirmu. Menginspirasikan pada jalan hidup terjal, kehidupan pengembala peradaban.

Kukecup keningmu dan kucium bibirmu, kutemukan keindahan bahasa kemanusiaan dengan manis lewat air liurmu yang menetes pada kendali nafsuku, merajut nilai-nilai suci

Pelukan tubuhmu mengajakku pergi menemui lorong-lorong panjang perjalanan kemunafikan, menghentikan seketika saat kenikmatan mengusai dalam bayang semu surga janjimu

Mulai kukenal pertikain dari balik sikap tubuh acuhmu yang bergumul dengan laras senapan, tak pernah berhenti menekan pelatuknya demi ambisi kepuasan selaput tipis yang menurunkan derajatmu

Kau mulai melepas sutra yang menempel ditubuhmu, membuatku lupa siapa diriku, hingga rasa hatiku mati seketika bersama ledakan meriam-meriam yang tak pernah berhenti

Ku ingin kau mengembalikan ranum bibir manismu yang bertabur senyum kemanusiaan tuk hentikan kedangkalan fikir dan hidupkan hati yang luka

Lalu mulai kenalkan kakimu dengan langkah tegap menuju surga-surga Tuhan yang tak berujung

Malang, 10 Januari 2008



Sebaris Puisi Darimu

Seberkas cahaya terang menelusup dalam nadiku
Membangkitkan emosi yang lama buntu
Mengedor-gedor pintu egoku
Memecahkan aku yang mati kutu

Sebaris puisi mengalir dalam jiwaku
Tersulut cahaya terang darimu
Berdansa dengan nada merdu
Membebaskan naluri batuku

Kini mataku mengerutu
Pada nasib yang tak pernah menahu
Akan ujung harap yang berlalu
Serupa peluru menembus jantungku
Menuju pintu-pintu yang tak tertuju

Malang, 26 April 2008



Ada Dirimu

Ada wajahmu
Menempel dalam bola lampu kamarku
Muram, lebur menjadi satu dengan senyummu

Ada bibirmu
Menyatu dalam bola lampu kamarku
Mencibir, bersama kecut senyummu

Ada tubuhmu dalam kamarku
Diterangi bola lampu
Redup, merayu

Malang, Maret 2008



Sejarah Cinta Luka

Hati merah, terluka mengangah.
Tersimpan dalam kitab sejarah.

“Sempat kuminum racun cinta lewat liur mulutmu
dan kurasakan getir cinta lewat tubuhmu”

Hati merah, meruntuhkan jiwa.
Terkubur dalam kenangan cinta luka.
Tak kuasa pendam, bahkan buka kitab sejarah cinta.

Luka, perihkan langkah.

Malang, Desember 2007

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…