Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Liza Wahyuninto

Gadis Kecil Gesek Luka Ku

Gadis kecil yang dulu gesek lukaku
Kini masih berlagak diri seolah sembilu
Balut lukaku yang semakin membiru
Pantangkan diri tuk mengharu

Bak mawar ia tengah merekah
Malu hendak ku sentuh kelopaknya
Atau sekedar mengerling merahnya
Karna ku tahu ia takkan tanggung marah sang duri

Gadis kecil yang dulu gesek lukaku
Kini mulai berceloteh tentang pesta menyambut pagi
Nyanyian periang di tengah sepi
Meskipun ia sering teriris sembilu

Bak gendang ia mendendang
Lagu bimbang di tengah gersang
Jengah hendak ku pangku ia
Tak pantangkan baginya terantuk galah

Gadis kecil yang dulu gesek lukaku
Kini berdiri tegak di hadapanku
Tubuhnya membiryu, bibirnya membisu
Rebahkan diri ke pelukanku
Sembari berbisik “maafkan daku”

Malang, 12-13 Juni 2008



Aku Menulis Lagi

Aku menulis lagi
Melupakan Nil yang pernah ku sebrangi
Melupakan Himalaya yang pernah ku daki
Melupakan Amazon yang pernah ku susuri

Aku menulis lagi
Tentang cinta yang tak kunjung menyapa
Tentang hati yang tak jua terpaut
Tentang jiwa yang tak pula berhenti resah

Aku menulis lagi
Tentang pertemuan sebatas mata
Tentang percakapan sebatas senyum
Tentang lidah kelu tak berkata apa-apa

Aku menulis lagi
Dan tak kan berhenti menulis
Hingga ada kerling mata menjelma sapa
Hingga senyum menjelma tanya

Aku menulis lagi
Dan kan terus menulis
Walau Nil sudah mengering
Walau Himalaya merata tanah
Walau Amazon tak lagi bertumbuh ilalang

Aku menulis lagi
Hingga aku mati dalam sepi

Malang, 05 September 2008



Serenade Menjelang Tidur

Aku suka caramu menatapku
Tapi melulu aku memalingkan muka
Kau matahari, aku hanyalah cermin
Sinarmu buat silau setiap pemilik mata

Aku suka caramu bicara
Tapi melulu singkat ku bersuara
Kau seruling daud, sedang aku hanya gitar tak bersenar
Suaramu buat lautan luas terhampar
Cukuplah mata memandang
Dan senyum terkembang

Tak ku pinta puisi bernyanyi dari lidahmu
Pun tak ku tunggu ada mata bercahaya dari kelopakmu
Ini hanyalah dongeng purnama
Anak rembulan rindukan bundanya

Sudah malam,
Bila mata telah mengantuk
Jangan paksa ia terus terjaga
Izinkan sejenak ia terpejam
Tuk ciptakan pijar di paginya
Tak Ada Mawar Tak Berduri

Malang, 13 September 2008



Ich Bin Verliebt

Ku tak pernah memanggil namamu
Tak jua lambaikan tangan usai bertemu
Karena mataku tlah menyebut namamu
Dan seutas senyum tlah ungkapkan
esok kan ada pertemuan agung menghampiri

Tak ada hujan yang tak reda
Tak pula ada purnama yang sempurna
Pikiran hanya dapat sebatas nalar
Namun, hati lah yang menebak rasa

Kata terutara selalu dusta
Puisi di hati itulah kebenaran hakiki
Ich bin verliebt, ich bin verliebt

Bunda,
Salahkah jika aku yang memilih?
Tak layakkah bila aku yang memilah?
Dosakah jika aku yang putuskan?

Sepucuk perihal saja…
Cinta
Ich bin verliebt, bunda

Malang, 10 September 2008



Sembahyang Cinta

Bismillahirrahmanirrahim cinta,
Ku niatkan dalam hati dan ku lafalkan dengan lirih lewat lidahku mencintai-Mu
Ku takbirkan dengan lafadz akbar cinta pembuka pintu menjemput-Mu

Dan fatihah cinta ku senandungkan,
beriring surat-surat cinta sebagai buah tangan kedatanganku
izinkan sejenak ku ruku’ membungkuk di hadapan-Mu,
bacakan tasbih mesra memuji keagungan cinta-Mu
dan biarkan ku terlelap dalam sujud panjang,
berurai air mata cinta

dalam duduk antara tahiyat dan tasyahud sujud cinta ku sabdakan sumpah setia
akan pujian cintaku, shalawat cintaku, dan doa cintaku menjelma dalam wujud-Mu
assalamu’alaikum warahmatullahi wabaraktuh cinta,
ku tutup sembahyangku

Malang, 9 September 2008

Komentar

Sastra-Indonesia.com