Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2010

Sajak-Sajak Nurel Javissyarqi

http://pustakapujangga.com/2010/12/poetry-of-nurel-javissyarqi-2/
[PENGUMBAR]
Untuk Johann Christian G√ľnther

Ruhmu melayang-layang
mencari titik-titik keabadian.

Melepaskan tubuh mendesir
bergema di rerongga nafas.

Adakah dirimu terus gelisah
di alam keabadian masa?

Memburu cahaya
memahat senjakala.



[PINTU WAKTU]
Untuk Konstantin Dimitriwitsj Balmont

Dengan bulan putih menggantung
pelapar kenyang dalam lamunan.

Menembus batas pintu gerbang
menakar awan dan gemintang
:
ditaksirnya hati merenda kekal.



[NAFAS SEKAM]
Untuk Alexander Blok

Abu hitam paling purba
luruh padam hatimu.

Ranting kayu hutan
sekelam arang tidak menjalar.

Namun, desir angin membangkit
selentik biji api menyalakan jiwa.



[WAKTU BEKU]
Untuk Jalaluddin Rumi

Aku menjenguk dirimu di sekapan waktu
tiada murung walau terkuliti dingin beku.

Jiwa khusyuk menyendiri di alam semedi
terbasuh embun kembang kesucian hati.

Sebening sungai menggelinjaki batu-batu
menyeruak ilalang kala pekabutan subuh.

Kenang tertampung di kelopakan malam
dipandang purnama menemui ked…

Sajak-Sajak Heri Listianto

http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/
TINGKAH DUNIA SAAT INI

Gemetar ubunku
melihat tingkah dunia saat ini
gemetar ubunku
menyimak berita malam ini.

Gemetar ubunku
Ketika Indonesia sudah sepi hilang hikmat,
hanya canda tak berisi

Indonesia …
Indonesia …
Seperti kapas terbang dari tangkai
Terombang-ambing angin barat
dengan belenggu
temali uang berdebu.

Indonesia…
Seperti itu kini aku melihatmu.

Perlis, 15 juni 2010



SEPERTI BENIH KAPAS

Seperti ribuan benih kapas
di atas altar peribadatan
aku melihat doa’- do’a dari kitab suci
yang melantun pada malam keagungan.

Riak kemricik air kali,
mengantar bisik kecil
untuk perenungan kisahmu
Rosul…

Sebagai perjamuan embun
mengalir ke sungai jasad ini
sampai akhir hayat ini.

Surabaya , 23 Juni 2010



MUNGKIN SUDAH TAKDIR

Mungkin sudah takdir.
Tuhan…
di setiap rongga-rongga tulang
kau alirkan rasa seribu tanya
tentang bumi dan langit

tentang perjalanan planet
tentang aliran meteor di sungai-sungai angkasa

sejengkal detik di kehidupan ini
menyusun hembus nafas
lembut…
selaksa air telaga …

Sajak-Sajak Taufik Hidayat

http://www.riaupos.info/
pengakuan dosa

ingin ku memelihara hati
pada ijab yang telah diucap
namun jiwa merana
roh pun datang menyiksa

sudah kusambut luka dengan ketawa
kusimpan dalam syair dan nada
dikau adalah lagu pada rentak yang sumbang
tak seirama
memang

inilah waktu yang kunanti
maka aku serahkan dosa
dan ketika detik-detik merayap
dijadikan senjata pada massa yang ditadah

aku adalah nista yang ingin sujud
aku adalah jiwa yang ketakutan
aku ingin mengantar cahaya pada janji
manusia



kepada jiwa

sebelum angin menghembus debu
jiwa yang menghadap ke sebelah petang
sambutlah jasad sebelum lalat terbang
sebab
ada layar hidup dai lafas subuh

kepada jiwa
kusajikan diri
kepada jasad
kupersembahkan roh

ditelapak tangan yang nyilu
menari-narilah jiwa
berdendanglah diri
berdendanglah jasad
bernyanyilah roh

kepada jiwa yang tak ber-diri
kepada jasad yang tak ber-roh
hukumnya angin
pasti menghembus debu



mentafsir dusta

jangan kau serahkan sayang
karena sayang aku berdusta
seandainya tak ada sayang
maka bertaburlah cinta

di perjalanan…

Sajak-Sajak Taufik Ikram Jamil

http://www.riaupos.info/
inilah tabikku yang ditangkap senyap

engkau begitu saja bercakap-cakap denganku
dalam delapanpuluh empat bahasa yang girang
huruf-huruf segera melantunkan dendang
irama yang dipinang kalbu
dibiarkan sunyi tak alang kepalang
berdepan dengan berbagai laku
bahkan pada masa-masa terbuang
pada kenangan yang malu tersipu-sipu

maka berlabuhlah suara-suara dari negeri jauh
di mulutmu teduh
cuma kau sekedar ingin menambatkan sejuk kalimat
pada pancang-pancang catatan pelayaran adab
sedangkan kapal-kapal memunggahkan kata-kata
memenuhi gudang-gudangmu dalam bacaan rmusim
kemudian mengembalikannya dengan beragam pesan
mengarungi tujuh penjuru makna
sinonim atau antonim yang tak memahami lawan
mungkin juga paragraf dan serba-serbi bab
sekejap pun tak berharap pada sebab bersebab

tak lupa kau katakan mimpimu pada karangan
ketika hidup mengenalnya sebagai taman
bukan saja tempat senda gurau bermain riang
tetapi juga keinginan bertimbang nyawa
sehingga kauyakini bagaimana dirimu
tak akan mati oleh se…

Sajak-Sajak Tengsoe Tjahjono

http://sastra-indonesia.com/
pipit di jendela

pipit di jendela, entah datang dari mana
cuma langit mengirimkan kepak
sayap memerah oleh matahari

pipit di jendela, tak pernah menyisakan cericitnya
matanya capek menghitung jejak awan
tubuhnya koyak terpukul palu waktu

“aku ingin istirah dari perjalanan panjang ini”
paruhnya tak terbuka, retinanya bicara
telaga yang keruh oleh kecipak kepiting

lalu kutebarkan remah-remah roti dari oven abadi
adonan jantung dan hati, ditaburi gelugut gula yang legit
“inilah hidupku, cucuklah selalu, usung dalam petualanganmu”

pipit di jendela, selalu tinggalkan jejak
pada korden ungu api



aku dengar gema takbir dari surau

aku dengar gema takbir dari surau
gigil angin mengiris sepi jantung
dermaga itu begitu jauh

kapal lama kembali pulang
angin laut terjebak beliung karang
berpusing di bawah langit kelabu

tak ada tempat singgah
garam dan cuaca rebah pada jiwa
koyak tanpa jahitan

o, betapa agung dan sekaligus fana ini bumi
pada ombak dilepaskan gelisah
teredam oleh gemuruh malam



pedro, …

Sajak-Sajak Imron Tohari

http://sastra-indonesia.com/
Mengeja Detik

malam gelap memintal bulan
tubuh-tubuh kecil tidur lelap
tapi mata tua melompat
menyeret air mata. di bilik
suara tokek

memanggil-manggil mengeja detik detak duka nestapa

sayup pada pucuk rindu
seorang tua mengutip kata yang tercecer dalam
penantian dua sahabat yang menjemput pada perjalanan panjang

di selasar yang ada di mataku, doa riuh bergemuruh
sejuta cerita sejuta luka
kurasakan dalam geletar jiwa

dalam hening, mata ku katup
o…bersama-Mu
inginku waktu berhenti jua

di sepertiga malam menyonsong subuh
deras air mata membasuh rasa

kabut dan embun rebah
di pucuk kuncup daun-daun hijau
gemuruh suara semakin mendesak menyesak dada

??doaku
di titian embun

1 oktober 2010



Nyanyian Rindu Di Kota Sunyi

Malam kian teluk ombak debur yang keluk
di ceruk diri jiwaku telanjang?? menekuk

Saat kuingat kekasih
ada ketinggian roh dalam sunyinya doa
di sana, dilekat jantung, duriduri tercerabut
menakar tetesan perih pada rentan retak perigi kejujuran

Pada ketelanjangan , jiwa siapakah itu…

Sajak-Sajak Fitri Yani

http://www.lampungpost.com/
Makhluk Ular

“Saat malam tengah purnama kerap kudengar desis, mendekat-menjauh, seperti ajakan ke surga. Di manakah kau bersarang?”

Hitam-putih yang senantiasa sejahtera di kebun kepala, yang memberimu buah-buah ranum, serta tafsir-tafsir lain dari kerimbunan metafor lelarik puisi adalah wujud lain dari sehimpun dosa dan pahala, yang jika kau cermati itulah wujudku. Bersarang di segumpal benda lunak, beranak-pinak, melahirkan generasi-generasi yang belajar menyusup ke benak khusuk para pendoa dan pendosa. Melingkar-lingkar di pagar kebun kepala, membangun sarang lain, mengeluarkan bisa umpama buih-buih mata air dari balik puisi, dan puisi adalah percakapan sehari-hari para dewa, kelakar kaum lelaki yang terusir dari kota, dari meriah warna.

Di tubuhku, mengalir air suci para dewa. Pesona dari hangat dan dingin yang amat kau kenal. Di malam yang kau kira purnama itu kujulurkan lidah, seperti membentangkan jalan di sebuah kota. Lalu kau bermimpi berjalan di situ …

Sajak-Sajak Leonowens SP

http://www.infoanda.com/Republika
PENARI-PENARI SENJA

“Penari-penari senja!” Seorang peracik
rempah menyebut itu, ketika suatu senja berapi,
sekumpul perawan bersolek emas, mengalung intan
berdaging salju di kepalanya. Ramah senyum menghias
pemahat-pemahat hati yang mengalir di lembah air mata bara
dengan tarian penyengat asa. Peracik
rempah itu memandang damai perawan-perawan
yang menari lembutkan kesah, datang
di setiap senja berkalang api. “Penari-penari senja,
rengkuhlah nodaku sebelum binasa,” gumamnya dingin.



PENANTI KARMA

Di suatu lubuk embun pagi
seorang renta bertopi rajutan lalang
kering, menyerpih pandang di kubur sang
cintanya. Setelah malapetaka merenggut nafas
tak lekang kelembutan — dua puluh tahun
silam. Sesekali menghentak pandang
di atas awan bertaji kehitaman.
Awan-awan yang tak lama lagi mengusir
tubuh embun dengan derai umpatannya untuk
sang mayapada. Ia hendak menanti warna
karma saat ini: mendulang jiwanya.



PEMUNGUT SERAPAH

Kepak pemungut serapah berkelana mengintai
akar-akar pendoa. Ter…

Sajak-Sajak Sutan Iwan Soekri Munaf

http://www.sinarharapan.co.id/
Tentang Banda Aceh

Begitu waktu memaku dalam berita panjang
tak ada lagi bekas sepi yang tertinggal
selain rindu pada pantai yang lengang
Di sini ada seribu kisah terdedah. Dan seribu bayang
dari yang menangkap detik dan jam ke ujung tanggal
sekejap minggu menghalau bulan menuju tahun: Hilang!
Ada lagikah kata yang bisa kita pajang
setelah hasrat pun surut ke balik rindu? Kalimat
bukan lagi harapan setelah beribu mayat
kembali menghampar
sebagaimana kisah perang panjang: Barangkali
tak ada lagi Cut Nyak Dien atau Teuku Umar
yang selalu menatap waktu penuh nyali!
Sesekali ingin waktu kembali
menyambangi kata yang tersisa di sudut hati
Di sini
kembali sepi menjerat mimpi!
Mimpi yang tak pernah kembali
walau sekali!

2008



Tentang Peunayong

Sungai waktu dan ikan kata-kata
selalu kembali menjerat kalimat yang tak pernah sudah
dan jembatan rindu menangkap mimpi yang tak pernah lelah
mengurai rasa dalam setiap keramba makna
Para penjaja ikan mengobral kata
hanya untuk menyambung hidup yang…

Sajak-Sajak Suyadi San

http://www.lampungpost.com/
Masih Melayukah Aku/1
:kepada sang raja, guruku

masih Melayukah aku
tanganku mengepal-ngepal remah
tanah merah terapit tiang
nisan yang terbalut kain putih
terukir di sana nama sang datuk
yang meretas jejak Melayu
tanah semua negeri
kaulah itu, guru
peletak dasar kemelayuan
dan, masih melayukah aku
ketika titisan bening meraut dinding-dinding kealpaan
meranggasi berbagai kecemasan
di hadapanmu, guru
kukulum jejakmu dan akan kujadikan wasiat
untuk anak-anak negeri
kaulah itu

tanjungpinang, 2008—2010



Masih Melayukah Aku/2
:meretas duli kakimu

Apabila banyak berkata-kata
di situlah jalan masuk dusta

Menjejaki kaki di kompleks Yangdipertuan Muda aku tunduk di pusaramu. Boeing 747 yang membawaku ke sana. Namamu pun tertambat di pikiranku. Apalagi jika mengingat duli paduka Raja Haji Fisabilillah. Kami berdua belas pun tergetar. Meski tak bisa mengimbangi gurindammu, Guru! Tapi Pulau Penyengat menjadi sandaran untuk melepas dahagaku. Konon pula pulau mungil di muara sungai Riau itu suda…

Sajak-Sajak Misbahus Surur

http://www.lampungpost.com/
Asinmu Lautan

kubawakan segenggam asin saat kau pinta putih
sebab garam tak pernah beku dalam matamu
tapi kau terlalu laut cintaku,
memilih menjajar batu karang di pinggir samudera itu
berharap kokoh dan sekuat ombak yang menerjangmu kelak
betapa riang hamparan pasir di laut sini, tak menampik
gelombang sehempasan pun riak sepercikan
bentang hari berucap lirih pada sampan:
mengapa karang mendidih di saat laut pasang?
di sini, hujan baru sesiraman, gelap seteduh penglihatan
pagi sudah tinggal senja. malam terang bersisa. dan,
lautmu kuning tak lagi biru seperti langit biru
”adakah di sana matahari pagi terendam asin
seperti remuk redam ombak di sini?”

Malang, Mei 2010



rindu itu, rindumu

rindu itu rindumu, begitu bisikan angin, senja ini, padaku
seperti rindu tanpa tujuan, kau menulis segala pesan
alangkah jauh impian, meniti laman-laman kitab tak bertepi
kau pun lunglai dibuai ci(n)ta
bak penyair tua yang bimbang kehilangan kata
berharap yang tertatah di tanah ini, dulu,
masih sang…

Sajak-Sajak Tengsoe Tjahjono

http://sastra-indonesia.com/
ulang tahun di wall

52 nyala lilin merambah hutan wall, kecambah pada ladang persemaian
ditiup bersama-sama pada sebuah konser terbuka

tiba-tiba saja ada pesta, peluk-cium kata, gambar-gambar kartun
grafis dengan gambar kepala: sedikit gondrong, redup dan lebam

ada yang menulis: awas, telah berkurang Anda punya usia
aku jawab: tak pernah ada yang berkurang, sebab aku tak pernah tahu berapa tahun jatah usia
siapa tahu hakku hanya 25, lalu cinta memperpanjang sampai kelipatannya

ada yang menulis: semoga awet muda
aku jawab: siapa bisa berdusta pada tempurung musim dan cuaca

lalu terdengar lagu happy birthday pada panggung wall
tanpa lampu, tanpa cahaya
namun sangat bewarna

52 nyala lilin merambah hutan wall, kecambah pada ladang persemaian
ketika senja mengirimkan beranda dan kolam air mancur penuh ganggang dan kecipak ikan



03/10/2010

tak ada yang pantas kucatet
selain waktu



4 x 13

/1/
seorang bayi dari rumah rahim melepaskan perahu kertas melalui pusar bunda
bumi tak seterang ku…

Sajak-Sajak Kedung Darma Romansha

http://www.lampungpost.com/
Gerimis
Buat E.K

Gerimis menetes
Di ladangku yang basah
Oleh rindu.
Kucangkul namamu berulang-ulang
Seperti bapak setia pada ladang
Dan ibu yang tak pernah bohong
Pada bumbu masakan.
Ah, kapan kau akan belajar jadi ibu?
Jarak menyuburkan tiap-tiap kesepian
Dan kini kita sepakat pada hujan
Yang lebat di jantung kenangan.

Pangkal Pinang, 2009



Tak Habis Kata
Kepada WS Rendra

Di agustus yang kumuh
Kita akan sama menertawai lelucon ini:
Puisi tak lebih dari jamuan makan malam
Sementara lambung mereka mengepulkan asap kepundan
Menggumpal di langit, pecah jadi hujan
Airmata, airmata, airmata siapa?
Orang-orang lupa jalan
Pulang, pulang, pulang…
Kita dipulangkan kebohongan
Pecahkan semua botol-botol lalu tinggalkan
Kesadaran mesti diberi jalan
Agar puisi tidak berhenti dalam pikiran.

Sanggar Suto, 2009



Rindu Melompat dan Teotteblungteotteblung

Hujan pun hilang ke dalam malam
Katak-katak melompat dan bersuara
Teotteblungteotteblung
Seperti memanggil-manggil namamu.
Sepi menggenang dalam sukma
Berkleba…

Sajak-Sajak Agit Yogi Subandi

http://www.lampungpost.com/
Dalam Langkahku

di sepanjang langkahku kini
aku mendengar
langkah lain di dalam dadaku:
yang menyusun
ritmenya sendiri
tanpa perduli ritme langkahku
kini.

(Tanjungkarang, 2009)



Belajar Melukis

lihatlah gambar yang kubuat:
Great Basin dengan warna senja yang merah.
latarnya adalah pegunungan Sierra.
di sini, matahari tak perlu kutampilkan utuh,
karena sesekali, bolehlah kita menghadirkan sesuatu
tanpa harus penuh. apa yang utuh dari kita setiap hari,
mungkin hanya tubuh.
kemudian kuhadirkan pula serombongan banteng
yang sedang berjalan, dan tubuhnya berbayang.
dan di antara mereka, ada yang mati. mereka
terus berjalan. entah sedang mencari apa.
tapi, haruskah kulukiskan tujuan di mata banteng itu,
agar kau tak perlu lagi menduga.
ah, terlalu mudah. tafsir saja sendiri, dan kita
tak perlu saling membohongi.
nah, lukisanku sudah jadi, tanpa harus menimbulkan
gemuruh di dada. tanpa perlu mengeluarkan lava di mata.
setelah kubingkai lukisanku, akan kupajang di kamarmu.
tak perlu kau maknai,…

Sajak-Sajak Gampang Prawoto

http://sastra-indonesia.com/
BOJONEGORO I

aku,
rindu kemolekan
sejarah tanpa relief dan prasasti
atau musium yang dipaksakan
walau kadang sekedar basa basi

aku
kenang belai dentuman larung
kemakmuran waktu merintih
rintih upeti tanda kesetiaan
walau kadang sekedar basa basi

aku
ukir bentangan hati di tanah kapur
peluh rerimbunan jati melambai kasih
pengembala tertidur diatas seonggok jerami
tanpa sebilah kursi

aku
terbayang lenguh wajah malawapati di langit
bojonegoro, mengerat butiran asap cerutu
tembakau tak bersemi musim
rintih senyum kuning sang dewi tersipu
riuh mengalir ombak di sudut menara pengharapan

aku
terbenam pada miniature
bungalow, bandara, lapangan golf
jalan tol
tanpa nama, tanpa alamat, pada sebuah etalase
yang menempel disela sela fosil gigimu

Pejambon, 15 Agustus 2007



BOJONEGORO II

senja abu abu masih
masih menggelantung di kotamu
kata
reformasi pernah aku baca di ponten
terminal lama persis searah senja
kencingku mencari lembah lembah
lembab tak bernalar

sedang apa kawan !
sapa sekawanan lalat diatas
be…

Sajak-Sajak Sungging Raga

http://www.lampungpost.com/
Gladiola
untuk Santi

seseorang menumpahkan sedih
sedih yang menguning
menguning di sepanjang Kridosono
Kridosono menurunkanku dari bus kota
kota yang mengurai diriku
diriku yang telah setia
setia kepada jalan kecil menju Lempuyangan
Lempuyangan memang tak pernah tumbuh
tumbuh indah seperti Gladiola, tetapi siapa
siapa yang pernah mengenakan
mengenakan Gladiola di tubuhnya
tubuhnya yang ia hamparkan sejenak
sejenak seperti berhentinya sebuah kereta
kereta pengirim senja
senja bernama Pasundan
Pasundan yang melarikan rinduku
rinduku tersesat kepadanya
kepadanya yang mengira aku tak terluka.



Logawa Satu

Anak gadis adalah sungai yang pelan, membelah dari tubuh Serayu, mengalirkan sampah-sampah takdir yang layu. Seorang lelaki memandanginya, matanya adalah batu yang tegar, keras, dan sakit. Di balik rimbun rumput terbakar air, berapa lama ia di situ, duduk mengamati tubuhnya terbelah, perlahan-lahan menguncup sungai di cakrawala.

Ikan-ikan bertukar warna, bertukar sisik dengan keranda…

Sajak-Sajak Yusuf Susilo Hartono

http://www.infoanda.com/Republika
SUJUD OMBAK

Kusujudkan ombak pada jejak-jejak
angin kemarau
kusujudkan ombak pada manis keringat
nelayan
kusujudkan ombak pada biru gunung
keperkasaan
kusujudkan ombak pada pantai
rahasia-Mu

Jakarta, 1998



ZAKAT

Kuzakati dua setengah persen
deritaku untuk tawamu
kuzakati dua setengah persen
lukaku untuk sehatmu
kuzakati dua setengah persen
sungaiku untuk lautmu
kuzakati dua setengah persen
malamku untuk terang benderangmu
kuzakati dua setengah persen
sepiku untuk kerianganmu
kuzakati dua setengah persen
kesetiaanku untuk pengkhianatanmu
kuzakati tak pandang persen
kesabaranku untuk-Mu

Jakarta, 2005



TAKBIR BATU

Aku batu hitam itu
tak henti bertakbir
Allahu Akbar
Kujadikan
rembulan parasku
matahari kesabaranku
tikar waktu sajadahku
malaikat penjagaku
Embun-Mu selimutku

Jakarta, 1998



SERINDU

Serindu bunga pada wangi
Sekangen pagi pada matahari
Itulah aku pada-Mu
Di keriuhan sunyi

Jakarta, 1999



SUBUH YANG DISUCIKAN

Subuh yang disucikan embun fakir
pagi yang dimandikan rahasia zikir
kakiku meninggalkan …

Sajak-Sajak Ariffin Noor Hasby

http://www.radarbanjarmasin.co.id/
KUBUKA JENDELA

Kubuka jendela di bawah perutmu
ada sebuah lorong tak bermusim
seperti bergerak ke arahku
seorang lelaki tanpa hujan
menangisi perjalanannya di situ
sehabis matanya tanpa sengaja
menghapus alamat tuhan

Hidup seperti begitu asing dalam benaknya :
berangkat dari mana hendak ke mana,
ia tak tahu
tapi dari seseorang yang berjemur
dalam senyap kelaminmu
ia mendengar stasiun malam masih jauh
dan jarum jam belum singgah
pada nyeri langkah

— 2004.



KITAB KEYAKINAN

Jendela yang jauh dari tanganku
terbuka dalam gairah
di luar, dunia tanpa busana
bergerak dalam gemuruh perempuan
memikul sepikul peradaban kelamin

Matahari seperti bertepuk tangan
mengeringkan trotoar membasah darah
yang menetes dari lampu merah
“Besok di sini akan lahir sebuah negeri,
wajah tanpa kemanusiaan”, katamu, sehabis
menengok pecahan bom yang manis
pada wajah lelaki yang hancur
bersama kubur perlawanan

Dan di jendela yang jauh dari tanganku
sepotong ayat api membentur ruang tidur
orang-orang yang tak pernah…

Sajak-Sajak Akhmad Muhaimin Azzet

http://sastra-indonesia.com/
Kembali Merindu

berjalan kembali di kotamu siapa membentak
sepanjang jalan tawaran begitu memabukkan
anak-anak juga menembakkan kegalauan

kembali merindu aku pada kotamu yang dulu
keramahan menyerbak sewangi bunga seroja
di manakah kutemukan telaga untuk berwudlu

Bumidamai, Yogyakarta.



Sepertinya Cinta

sepertinya cinta kini kita alirkan
tidak menuju laut kedalaman atau telaga
:sungai limbah dan bahkan selokan kehitaman

sepertinya cinta hanyalah omong kosong belaka
ketika kedamaian, berubah curiga dan dendam
:saudaraku kapan kita berpelukan sesungguhnya

sepertinya cinta bukanlah sekedar perjanjian
sebagaimana dulu mengalir di setiap dada
:padahal sama tanah dan darah kemanusiaan kita

Bumidamai, Yogyakarta.



Denting Malam

seperti serenada saja padahal doa penuh luka
malamku berdenting mengadukan perih bergetar
kapankah kegelapan terburai sayat pertikaian

bersama angin melolongkan lapar sepanjang kelam
bukan persoalan perut, tapi lagu-lagu kemarahan
kapankah dingin malam kita berselimu…

Sajak-Sajak M. Harya Ramdhoni

http://www.lampungpost.com/
Silsilah Sebuah Rumah

bertanyalah pada daun jendela,
pintu dan jerebu.
pada tiap helai gordyn
yang telah serupa abu.
pada tiap jengkal tanah keramat ini.
yang tak sempat wariskan tawa
dan tangis kanakkanak
di setiap peralihan hari menjelang dini.
bertanyalah pada almari tua di sudut rumah.
tempat ia simpan almanak kehidupan
pada setiap tarikh
bertanyalah pada rakrak buku tak terjamah.
pada setiap bilik lengang yang tak
wariskan silsilah.
bertanyalah pada tiap helai tetumbuhan
dan bunga.
perihal kelanjutan silsilah
sebuah rumah.
maka, jawabnya hanya
deham masygul sebuah
suara tanpa wujud.

Palembang, 3 Oktober 2010



Hikayat Puyang

aku takkan lupa
perjumpaan
di pucuk senja.
pertemuan magis
di puncak pesagi.
lelaki bersorban itu
menyapaku ramah:
“aku Imam Maulana
Nyekhupa, puyangmu.”
sementara aku gigil
dibekap kabut yang
rebah pada sulursulur
dan dedahan
pokok sekala.

Puncak Pesagi, 2 Juli 2009



Suatu Malam yang Dingin di Liwa

nyanyian hujan menyapa
reranting pokok.
dinginnya suhu sibak
betapa tubuhmu
tak …

Sajak-Sajak Heri Latief

http://sastra-indonesia.com/
Percayalah!

janji mulutnya manis beracun
niatnyapun berbisa
mati kita kalau dipeluknya
percayalah!

sengaja terbujuk sihirnya materi
tersesat dalam dosanya penguasa
lalu melupakan asal usulnya

mencari keadilan di tong sampah
menutupi pedihnya luka sejarah

jangan biarkan ketidakadilan merajalela
lawanlah segala macam pembodohan
orang indonesia sedunia, bangkitlah!

Amsterdam, 10/11/2010



Kesangsian

pedihnya bencana bagai disayat sembilu
luka yang menganga trauma yang bersaksi
siapa kita berani mencoba kekuatan alam?

ruang hampa dalam bayangan emosimu
muara dari segala pertanyaan manusia

jangan terlalu mengharap pada keajaiban
jika besok kita tak tau apa yang terjadi
: dimana disimpan segumpal kesangsian

Amsterdam, 04/11/2010



Bakso dan Nasi Goreng

seorang presiden rindu bakso dan nasi goreng
demikian kisahnya blasteran afrika dan amerika
yang konon pernah tinggal di menteng dalam

sekolahnya mentereng di daerah menteng
komplit dengan patung pakai celana pendek
memorinya bisa panjang sampai ke…

Sajak-Sajak Y. Thendra BP

http://sastra-indonesia.com/
Di Senen, Berapa Jauh Manusia Berjalan?

berapa jauh manusia berjalan hingga pantas disebut manusia?

aku harus membongkar keyakinanku, buku yang aku baca
membuat aku merasa lebih baik daripada ibu pedagang yang mengaduk kopi
sopir bis kota yang menunggu penumpang di senen itu, dan udara
masih dipenuhi embun. aku harus membongkar puisi puisiku
yang membuat aku merasa lebih terhormat daripada lelaki kecil kumal
tidur di jalan kecil menuju stasiun itu. kenapa kita bisa beradu mata
tanpa berjanji sebelumnya? bagaimana waktu bekerja,
merancang pertemuan, menyusun ingatan?

fais, kau masih memotret?

ada bapak dua orang anak. bila malam hari, ia berdandan, mengubah diri
jadi wanita, menunggu pelanggan di sudut jalan. siang hari, ia jadi bapak kembali.
aku ingin memotretnya. aku perlu mendekatinya. aku tidak ingin memotret
perempuan cantik papan reklame itu. then, sebentar lagi aku akan jadi seorang bapak.

berapa jauh manusia berjalan hingga pantas disebut manusia?

udara masih berem…