Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Y. Thendra BP

http://sastra-indonesia.com/
Di Senen, Berapa Jauh Manusia Berjalan?

berapa jauh manusia berjalan hingga pantas disebut manusia?

aku harus membongkar keyakinanku, buku yang aku baca
membuat aku merasa lebih baik daripada ibu pedagang yang mengaduk kopi
sopir bis kota yang menunggu penumpang di senen itu, dan udara
masih dipenuhi embun. aku harus membongkar puisi puisiku
yang membuat aku merasa lebih terhormat daripada lelaki kecil kumal
tidur di jalan kecil menuju stasiun itu. kenapa kita bisa beradu mata
tanpa berjanji sebelumnya? bagaimana waktu bekerja,
merancang pertemuan, menyusun ingatan?

fais, kau masih memotret?

ada bapak dua orang anak. bila malam hari, ia berdandan, mengubah diri
jadi wanita, menunggu pelanggan di sudut jalan. siang hari, ia jadi bapak kembali.
aku ingin memotretnya. aku perlu mendekatinya. aku tidak ingin memotret
perempuan cantik papan reklame itu. then, sebentar lagi aku akan jadi seorang bapak.

berapa jauh manusia berjalan hingga pantas disebut manusia?

udara masih berembun, menyimpan banyak kesedihan.
di senen, di senen sebuah bis kota meninggalkan perhentian,
membawa manusia subuh. entah ke mana.
entah ke mana…



Braga
- HMK –

tiba-tiba aku ingin bernyanyi di trotoar jalan yang malam itu,
di samping ibu yang tidur bersama anaknya, dan perempuan
perempuan berpaha mulus melintas. o, aku ingin bernyanyi
dengan lirik yang terhubung pada lampu lampu jalan, seperti api
yang pernah membakar bandung selatan.

dua kaleng bir, dan musik yang ke luar dari kafe itu
aku teguk di trotoar, di samping seorang ibu yang tidur bersama anaknya.
seperti cinta yang gagal percaya pada dirinya sendiri, orang-orang menyusun
malam braga dari film hongkong dan hollywood.

mari pergi, ke jalan yang lain, euy…



Meninggalkan Pulau Penyengat

dalam gerimis petang,
bersama pongpong, aku tinggalkan pulau penyengat tanpa menziarahi gurindam dua belas.
aku membaca pasal 13: air laut yang kembali kepada laut. kesunyian bangkit antara
tiang kapal yang bersandar dan kibasan sayap burung burung. langit yang jauh,
langit yang jauh, semuram punggung laut. seperti dentuman pertama meriam paranggi
dari selat malaka, yang mengusir bahasa melayu…

bersama pongpong yang bergerak lamban, aku menghirup angin garam, dan telpon genggamku
masih memiliki sinyal. antara rambut gimbal saut dan kacamata bode, aku mendegar sorak-sorai
orang-orang membangkitkan yang mati, jadi hantu laut yang merompak pelayaran bahasa…

o, pong pong pong pong
pong pong pong pong…

Komentar

Sastra-Indonesia.com