Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Yusuf Susilo Hartono

http://www.infoanda.com/Republika
SUJUD OMBAK

Kusujudkan ombak pada jejak-jejak
angin kemarau
kusujudkan ombak pada manis keringat
nelayan
kusujudkan ombak pada biru gunung
keperkasaan
kusujudkan ombak pada pantai
rahasia-Mu

Jakarta, 1998



ZAKAT

Kuzakati dua setengah persen
deritaku untuk tawamu
kuzakati dua setengah persen
lukaku untuk sehatmu
kuzakati dua setengah persen
sungaiku untuk lautmu
kuzakati dua setengah persen
malamku untuk terang benderangmu
kuzakati dua setengah persen
sepiku untuk kerianganmu
kuzakati dua setengah persen
kesetiaanku untuk pengkhianatanmu
kuzakati tak pandang persen
kesabaranku untuk-Mu

Jakarta, 2005



TAKBIR BATU

Aku batu hitam itu
tak henti bertakbir
Allahu Akbar
Kujadikan
rembulan parasku
matahari kesabaranku
tikar waktu sajadahku
malaikat penjagaku
Embun-Mu selimutku

Jakarta, 1998



SERINDU

Serindu bunga pada wangi
Sekangen pagi pada matahari
Itulah aku pada-Mu
Di keriuhan sunyi

Jakarta, 1999



SUBUH YANG DISUCIKAN

Subuh yang disucikan embun fakir
pagi yang dimandikan rahasia zikir
kakiku meninggalkan kalender
dan tembang tua
memburu-Mu di antara belukar doa.
(sampai lentera padam
tak berdaya)

Jakarta, 2005

Yusuf Susilo Hartono, lahir di Bojonegoro (Jawa Timur), 18 Maret 1958. Kini tinggal di Jakarta. Mantan guru ini dikenal sebagai wartawan, pelukis dan sastrawan. Puisinya pernah menang dalam Festival Puisi Surabaya 1984. Diundang Pertemuan Penyair se Indonesia oleh Dewan Kesenian Jakarta, di TIM, 1987. Kumpulan puisinya yang telah terbit, antara lain Wajah Berkabung (1981), dan Ikan-ikan Hias (1985). Sebuah puisinya, Perjanjian Suci (1986), dijadikan mas kawin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…