Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Ariffin Noor Hasby

http://www.radarbanjarmasin.co.id/
KUBUKA JENDELA

Kubuka jendela di bawah perutmu
ada sebuah lorong tak bermusim
seperti bergerak ke arahku
seorang lelaki tanpa hujan
menangisi perjalanannya di situ
sehabis matanya tanpa sengaja
menghapus alamat tuhan

Hidup seperti begitu asing dalam benaknya :
berangkat dari mana hendak ke mana,
ia tak tahu
tapi dari seseorang yang berjemur
dalam senyap kelaminmu
ia mendengar stasiun malam masih jauh
dan jarum jam belum singgah
pada nyeri langkah

— 2004.



KITAB KEYAKINAN

Jendela yang jauh dari tanganku
terbuka dalam gairah
di luar, dunia tanpa busana
bergerak dalam gemuruh perempuan
memikul sepikul peradaban kelamin

Matahari seperti bertepuk tangan
mengeringkan trotoar membasah darah
yang menetes dari lampu merah
“Besok di sini akan lahir sebuah negeri,
wajah tanpa kemanusiaan”, katamu, sehabis
menengok pecahan bom yang manis
pada wajah lelaki yang hancur
bersama kubur perlawanan

Dan di jendela yang jauh dari tanganku
sepotong ayat api membentur ruang tidur
orang-orang yang tak pernah mati
untuk menghormati sebuah kitab keyakinan !

Banjarbaru, November 2004.



KUCATAT HUJAN

kucatat hujan yang tersesat dalam
mulutmu, pada televisi yang menggambar
masa laluku ..
suaranya seperti memanggil ingatanku
dari reruntuhan nama-nama yang pernah
menjadi jejak hatiku.

tapi lampu-lampu jalan
menghapusnya tanpa kusadari
lalu aku melihat layar di mataku
ada wajah anak-anak
yang kehilangan buku cerita hari depannya.

Dan hari-hari cahaya yang berkubur di situ
tiba-tiba kulihat mengembalikan jarum jam
pada teriakan kota-kota
yang berlarian dalam kabel tubuhmu.
Dan lampu-lampu hanya mengucapkan
nyeri kupu-kupu yang lupa pada warna bunga
sehabis letih menyanyikan musim
yang menyimpan ombak dalam mulutku !

Banjarbaru, Oktober 2004.

Ariffin Noor Hasby, dilahirkan di Marabahan, Barito Kuala, 20 Februari 1964. Menulis puisi, esai, artikel dan cerita rakyat. Sejumlah karyanya dimuat di harian lokal dan media nasional serta di majalah sastra BAHANA, Brunei Darussalam dan Radio Suara Jerman.Pada tahun 2005, mengikuti Forum “ CAKRAWALA SASTRA INDONESIA 2 “ di TIM Jakarta. Pada tahun 2005 juga mendapat hadiah seni dari Gubernur Kalimantan Selatan untuk bidang sastra. Kini menetap di Banjarbaru.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…