Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak M. Harya Ramdhoni

http://www.lampungpost.com/
Silsilah Sebuah Rumah

bertanyalah pada daun jendela,
pintu dan jerebu.
pada tiap helai gordyn
yang telah serupa abu.
pada tiap jengkal tanah keramat ini.
yang tak sempat wariskan tawa
dan tangis kanakkanak
di setiap peralihan hari menjelang dini.
bertanyalah pada almari tua di sudut rumah.
tempat ia simpan almanak kehidupan
pada setiap tarikh
bertanyalah pada rakrak buku tak terjamah.
pada setiap bilik lengang yang tak
wariskan silsilah.
bertanyalah pada tiap helai tetumbuhan
dan bunga.
perihal kelanjutan silsilah
sebuah rumah.
maka, jawabnya hanya
deham masygul sebuah
suara tanpa wujud.

Palembang, 3 Oktober 2010



Hikayat Puyang

aku takkan lupa
perjumpaan
di pucuk senja.
pertemuan magis
di puncak pesagi.
lelaki bersorban itu
menyapaku ramah:
“aku Imam Maulana
Nyekhupa, puyangmu.”
sementara aku gigil
dibekap kabut yang
rebah pada sulursulur
dan dedahan
pokok sekala.

Puncak Pesagi, 2 Juli 2009



Suatu Malam yang Dingin di Liwa

nyanyian hujan menyapa
reranting pokok.
dinginnya suhu sibak
betapa tubuhmu
tak kebal cuaca.
disini kita bisa
saling lempar embun
dari mulut berbau jengkol.
tapi ini bukan eropa.
tanah ini ternama liwa!
jauh sebelum batu bertulis,
para tulut telah bertanam.
ajarkan berladang
kepada para tamong.
di dalam huruf tambo
yang telah luruh,
terkisah tentang
malam-malam sunyi.
rumah para penyair.
merawikan sajak
dalam bebandung.
di malam penghujan
seperti kini,
muli mekhanai mengail
cinta pada sesiah.
memanjat harap kepada
tuhan yang belum satu.
pada malam dingin
seperti kini,
berkelebat kemestian
dalam anganku.
tentang riwayat
yang niscaya
dikisahkan semula.

Liwa, 22 Januari 2007



Narasi Sekala Bgha II

mereka bermunculan dari
sebalik rerimbun pohon sekala.
lelaki setengahbaya
dan keempat puteranya.
ketibaan di bumi tanpa iman.
hanya nyala amarah semerah saga.
tanah ini menaburkan gulita.
cahaya terang tertutup oleh
jahiliah semata.
“jangan sebut kami penyamun
karena kami lelaki
penyebar tamadun.
jangan tuduh kami perusuh
karena dengki tak pernah
singgah di lubuk hati.
berkacalah wahai
bangsa kerdil!
dalam jiwa kalian
semayam kejahatan
serupa iblis.
sejatinya kami tak ingin
menghina melasa kepappang.
namun serbuk sebukau
pukau jiwa kalian yang galau.
beri kami masa
melisankan sebuah risalah.
tentang keagungan Tuhan
tanpa pesaing
tentang Lelaki Terpuji
penghulu kaum beriman.

Jambi, 24 Juni 2009



Elegi Rumput Kerontang

masih ada sejumput
rumput kerontang di hatiku.
mengidam kau siram
dan siangi selayak
tumbuhan sekarat
di akhir musim penghujan.
sepetak lahan ini
ku sisakan untukmu.
sekalipun tak sepenuhnya
menjadi milikmu lagi.
suatu pagi di bulan
syawal perempuan berpipi
gembil merebutnya dari genggammu.
senyumnya merampas sepetak
tanah tandus peninggalanmu.
ramahnya hijaukan semula
tanah kerontang ini.
siasia kau tanduri lahan ini.
perempuan berpipi gembil-lah
penikmat tuaian bulir keringatmu.
ia sabar memupuk harap.
ia setia menyiram berkubik air.
seolah sebuah dam
tertakluk di bawah kuasanya.
ia tak gentar menempur
kemarau jahanam.
ia mengairi berhektar
tanah milikmu.
merubah rerumput kering
menjadi surga segerombolan penyair.
menukar sebuah lahan tandus
menjadi tempat bermain
cucuku kelak.
tersisa sepetak tanah kering
dan sekawanan rumput kerontang.
air dan pupuk
enggan menidurinya.
perempuan berpipi gembil
jua enggan menyamunnya.
sepetak tanah berumput
kerontang itu ialah milikmu.
jemari halusmu senantiasa
dinanti membasuh dahaganya.
sejumput rumput kerontang
pada sepetak tanah gersang
yang sekian lama
tersiakan oleh angkuhmu.

Bandar Lampung, 9 April 2007

—–
M. Harya Ramdhoni, lahir di Surakarta, 15 Juli 1981. Dua cerpen Staf Pengajar FISIP Unila dan Kandidat PhD Ilmu Politik di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) ini, Perjumpaan Misterius di Lereng Pesagi dan Perawan Bukit Kulut, memenangkan Krakatau Award 2010.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…