Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Misbahus Surur

http://www.lampungpost.com/
Asinmu Lautan

kubawakan segenggam asin saat kau pinta putih
sebab garam tak pernah beku dalam matamu
tapi kau terlalu laut cintaku,
memilih menjajar batu karang di pinggir samudera itu
berharap kokoh dan sekuat ombak yang menerjangmu kelak
betapa riang hamparan pasir di laut sini, tak menampik
gelombang sehempasan pun riak sepercikan
bentang hari berucap lirih pada sampan:
mengapa karang mendidih di saat laut pasang?
di sini, hujan baru sesiraman, gelap seteduh penglihatan
pagi sudah tinggal senja. malam terang bersisa. dan,
lautmu kuning tak lagi biru seperti langit biru
”adakah di sana matahari pagi terendam asin
seperti remuk redam ombak di sini?”

Malang, Mei 2010



rindu itu, rindumu

rindu itu rindumu, begitu bisikan angin, senja ini, padaku
seperti rindu tanpa tujuan, kau menulis segala pesan
alangkah jauh impian, meniti laman-laman kitab tak bertepi
kau pun lunglai dibuai ci(n)ta
bak penyair tua yang bimbang kehilangan kata
berharap yang tertatah di tanah ini, dulu,
masih sanggup menjelma titah
yang tak lagi dilarikan anai-anai
di musim ini kita belajar menghapal dingin
dengan bekal kisik merdu nubuat ranting
bersiap menyambut migrasi musim semi
meski daun dan bungamu mulai berguguran
dan sulur akarmu bergontaian



Mufasir Air

tak ada yang sungguh-sungguh terdefinisi sebagai cair
tidak juga bagi air
pula udara
dan angin sore
bukan air dari bapak ibumu yang memadatkan tubuhmu
tidak pula yang memekarkan tubuh para ibu saat mengandungmu
apalagi air tanah yang kelak melarutkan jisimmu
semua telah direbut padat, diam memaku pada pekat
kita mengeja gemericik saat air dihembus angin
lalu, makhluk-makhluk ramai menunggu, mencuri dengar
menghimpun suara dunia pada desiran angin
menampung suara-suara dalam ceruk telinga
meski air lalu meredam baranya
sungguh, kau ada, untuk menampung yang sisa
dari gesekan daunan, muai tanah dan gemulai air
bukankah akuarium pikiranmu
dan ikan-ikan selalu anganmu

Malang, 2010



Dari Udara Menjadi Telinga

tidakkah jeda waktu bisa menumbuk bahasa
bisik daun meramu pohon, merambatkan akar-akar
liar tumbuhan memanen bunga pada kebun mimpi
“dari sapa mendesis kata-kata”
sapa pohon pada angin dan sebaliknya
manusia tiba memahfudz bunyi
mengutip sepersekian persen dialog-dialog alam
sejak itu, kita semua tahu,
rahasia alam lamat-lamat jatuh ke dada manusia



Dari Sudut Sebuah Pertengkaran

aku usahakan memahami sepenggal pertengkaran itu
dan, aku rasa tak mampu mengerti sebelum sebingkai cermin
kau masukkan dalam rongga mataku, lalu mencocoknya
biar lebih dalam kurekam peristiwa amuk sederhana
dari sudut yang memantul dari ketakmengertian kalian berdua
sudah kuusahakan menenggelamkan waktu pada gigil alunan
pada digit yang berdetak dari sisa aku
yang tertinggal di gagang waktu
me-review peristiwa itu, sebelum detik ini
:kau bertengkar kembali
tapi waktu tak pernah karam dalam reply
telah kupaksa ia luluh dalam slow motion
nyatanya tetap ngambang,
tunak saja di permukaan

Malang, Mei 2010

————
Misbahus Surur, lahir di Trenggalek, 20 Desember 1983. Merampungkan kuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Humaniora dan Budaya, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang (2007). Kini meneruskan studi pascasarjana di kampus yang sama.

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com