Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Sutan Iwan Soekri Munaf

http://www.sinarharapan.co.id/
Tentang Banda Aceh

Begitu waktu memaku dalam berita panjang
tak ada lagi bekas sepi yang tertinggal
selain rindu pada pantai yang lengang
Di sini ada seribu kisah terdedah. Dan seribu bayang
dari yang menangkap detik dan jam ke ujung tanggal
sekejap minggu menghalau bulan menuju tahun: Hilang!
Ada lagikah kata yang bisa kita pajang
setelah hasrat pun surut ke balik rindu? Kalimat
bukan lagi harapan setelah beribu mayat
kembali menghampar
sebagaimana kisah perang panjang: Barangkali
tak ada lagi Cut Nyak Dien atau Teuku Umar
yang selalu menatap waktu penuh nyali!
Sesekali ingin waktu kembali
menyambangi kata yang tersisa di sudut hati
Di sini
kembali sepi menjerat mimpi!
Mimpi yang tak pernah kembali
walau sekali!

2008



Tentang Peunayong

Sungai waktu dan ikan kata-kata
selalu kembali menjerat kalimat yang tak pernah sudah
dan jembatan rindu menangkap mimpi yang tak pernah lelah
mengurai rasa dalam setiap keramba makna
Para penjaja ikan mengobral kata
hanya untuk menyambung hidup yang penuh rona
dan para nelayan berharap banyak, sebagaimana anak-istrinya berdoa
kembali untuk mengayuh perahu hidup dalam sungai waktu: Senja
menjadi pesona yang tak pernah kembali hingga malam membuka
waktu: Kelam yang luka!
Sungai waktu
kering
dan detik air membeku
dalam rindu
menatap bayang-bayang dalam jaring
semu!
Aku ingin kembali
membeli ikan kata-kata dari
Mu!

2008



Tentang Blang Bintang

Adalah gerbang
tempat mimpi terbang
tempat rindu datang
Blang Bintang
Kusapa rindu
dari balik kalbu
Kucabik sepi
dari dalam hati
Ku ingin datang
dan kembali memuja bayang
tentang rindu yang menggelepar
untuk menabur kisah yang jembar!
Blang Bintang
Adalah gerbang
tempat kisah mendatang!

2008



Tentang Ibu

Sebagaimana batu ditembus sembilu
tujuh rindu dipahat waktu: Tetap saja ragu
menjadi buah kata yang tumbuh subur dalam hatimu
Tak adakah masa saling ceria yang mengakar dari jiwa
sehingga sepi bukan lagi mainan hari dalam kalimat tanpa
makna? Sungguh ikhtiar tak berarti pada huruf-huruf yang meluncur
mengejar minggu, menangkap bulan, mendekap tahun: Hancur!
Semua terbang seperti detik berlari mengejar windu…
Tak ada lagikah sapa sendu yang meluncur
dalam dahaga saat menyusu?
Aku ingin beriya-iya dengan waktu
sebelum merenggut dan membeku
Aku ingin beriya-iya dengan kata
agar jiwa kokoh berdiri dan kembali melangkah : Kembara!
Sungguh! Aku ingin beriya-iya denganmu
sebelum waktu bersimpuh dan membeku dalam tubuhku…

Bekasi 2008

Tentang Penyair: Sutan Iwan Soekri Munaf adalah nama pena dari Sutan Roedy Irawan Syafrullah, kelahiran Medan 4 Desember 1957. Selain dikenal sebagai penyair, ia pernah menjadi wartawan, novelis, cerpenis, di harian umum dan majalah sastra. Selain itu, ia pernah menulis naskah skenario sebanyak enam episode dalam seri Pendidikan Fotografi ditayangkan di Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) pada 1993, dan juga beberapa feature-nya ditayangkan pula di TPI dalam kurun 1992-1994.
Ia lulusan S-1 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung, 1988.

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com