Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Leonowens SP

http://www.infoanda.com/Republika
PENARI-PENARI SENJA

“Penari-penari senja!” Seorang peracik
rempah menyebut itu, ketika suatu senja berapi,
sekumpul perawan bersolek emas, mengalung intan
berdaging salju di kepalanya. Ramah senyum menghias
pemahat-pemahat hati yang mengalir di lembah air mata bara
dengan tarian penyengat asa. Peracik
rempah itu memandang damai perawan-perawan
yang menari lembutkan kesah, datang
di setiap senja berkalang api. “Penari-penari senja,
rengkuhlah nodaku sebelum binasa,” gumamnya dingin.



PENANTI KARMA

Di suatu lubuk embun pagi
seorang renta bertopi rajutan lalang
kering, menyerpih pandang di kubur sang
cintanya. Setelah malapetaka merenggut nafas
tak lekang kelembutan — dua puluh tahun
silam. Sesekali menghentak pandang
di atas awan bertaji kehitaman.
Awan-awan yang tak lama lagi mengusir
tubuh embun dengan derai umpatannya untuk
sang mayapada. Ia hendak menanti warna
karma saat ini: mendulang jiwanya.



PEMUNGUT SERAPAH

Kepak pemungut serapah berkelana mengintai
akar-akar pendoa. Terbang sejauh nurani memukul
ufuk harapan. “Ikutlah denganku! Oh, sebaran
biji-biji ketulusan.” Suaranya kian parau diterjang
prasi pengunyah jilid-jilid kemunafikan milik
sang penyuci. Di pembaringan, pemungut serapah
menanti keadilan selepas cakarnya menguras
tanah pengasah pedang. Mengurung awan impian,
selagi penyebut mantra menancapkan barisan
doa yang jauh dari lembah rembulan. “Semuanya
penguras hartawi,” hujatnya mengiris terang.



SILUET KEHIDUPAN

Sesekali terik menusuk liang-liang awan
di kepala pegunungan batu. Bayang danau membiru,
tatkala langit memanjatkan angkuh sang
warna. Sujud dedaunan menggali
ayat-ayat bumi, tentang kehadiran dan
kemusnahan. Mungkin pada ajalnya, gelap itu bukan
lagi mengingat namanya, demikianlah
terang. Oh, sang pengukir waktu,
kembalikanlah senandung kehidupan
semasa tandus tak mengurai
durjanya kepada mentari



LELAKI SUNYI

Ada getar jejak menyetubuhi jari-jari malam
Jalan-jalan mengisap sunyi setelah hujan menguliti
sesosok lelaki terpikat dendam. “Bertahanlah
sunyi, bertahanlah.” Lelaki penyimpan
doa, mengebiri nafsu permohonan
hatinya. Kutukan takdir?
Tersungkur oleh cahaya pelarut
kabut, melampir tangis di sudut hening
kota. “Bermainlah sepi, sebelum ajalku menegur!”
Kembali doanya menggenggam jalan.



SURAT MIMPI

Sapa malam berakhir jenuh dan terkulai
di ujung daun tepi waktu. Seorang pemimpi
enggan tinggalkan tidurnya, pada saat mimpinya
mencabik butiran embun di jendela singgah
tepas. Hanya menunggu pasir berwujud
batu oleh tempahan angin. Sungguh liar harap ini
Orang itu setia mengirim lembar surat-surat
kepada langit, sebelum kumpul bintang
mengajak nyenyaknya di kelambu cahaya. Malam
kian membuang sisa-sisa wajahnya setelah ia terbangun menguntit titik-titik hari.

-----------
Leonowens SP dikenal sebagai seorang penulis esai, solilokui dan puisi. Citraan-citraan sajaknya unik, segar dan menarik, serta banyak dipengaruhi oleh simbol-simbol budaya etnis Tionghoa. Sedangkan esei-eseinya banyak mengangkat persoalan politik, ekonomi, sosial dan budaya, dengan pandangan-pandangan yang segar dan visioner. Karya-karya Leonowens banyak dimuat di berbagai media cetak dan elektronik di dalam dan di luar negeri. Beberapa sajaknya juga terhimpun dalam buku antologi puisi Medan Waktu (Laboratorium Sastra Medan, 2007). Buku kumpulan sajaknya yang telah terbit adalah Penari Senja (Jakarta Publishing House, 2007) — bersama Muhammad Hushairy.

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com