Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Taufik Hidayat

http://www.riaupos.info/
pengakuan dosa

ingin ku memelihara hati
pada ijab yang telah diucap
namun jiwa merana
roh pun datang menyiksa

sudah kusambut luka dengan ketawa
kusimpan dalam syair dan nada
dikau adalah lagu pada rentak yang sumbang
tak seirama
memang

inilah waktu yang kunanti
maka aku serahkan dosa
dan ketika detik-detik merayap
dijadikan senjata pada massa yang ditadah

aku adalah nista yang ingin sujud
aku adalah jiwa yang ketakutan
aku ingin mengantar cahaya pada janji
manusia



kepada jiwa

sebelum angin menghembus debu
jiwa yang menghadap ke sebelah petang
sambutlah jasad sebelum lalat terbang
sebab
ada layar hidup dai lafas subuh

kepada jiwa
kusajikan diri
kepada jasad
kupersembahkan roh

ditelapak tangan yang nyilu
menari-narilah jiwa
berdendanglah diri
berdendanglah jasad
bernyanyilah roh

kepada jiwa yang tak ber-diri
kepada jasad yang tak ber-roh
hukumnya angin
pasti menghembus debu



mentafsir dusta

jangan kau serahkan sayang
karena sayang aku berdusta
seandainya tak ada sayang
maka bertaburlah cinta

di perjalanan dusta kita dipertemukan
menyemai rasa menuai rindu
ingin bertanya pada waktu
tapi detik-detik yang dilalui
berbancuh indah untuk dinikmati

pada usia
kenapa kita ingkar janji
berlindung dalam kebenaran yang maha sayang
maka
kalau bisa hapuskan huruf janji
hingga aku tak lagi mentafsir dusta



menikmati mati

pada tangis awal yang kupersembahkan
maka janji itu sudah terikat
di bawah cahaya aku merangkak
berhenti di persimpangan usia yang gelap

karena waktu sudah kukhianati
jibril kejemput dengan kompang
kematian pun tersenyum pada tengkah sungguh tak ada siksa
aku senyum menikmati hela yang ditangisi

seperti pada janji tangis tadi
bukan kematian yang kutakuti
maka
jangan ingkari janji dengan hidup yang tak mati-mati

———-
Taufik Hidayat adalah Ketua Harian Dewan Kesenian Kota Pekanbaru (DKKP). Di dunia seni, dia lebih banyak menggeluti dunia musik dan dikenal dengan nama Atan Lasak. Sedangkan di dunia sastra, puisi dan cerpennya sudah dimuat di sejumlah media lokal seperti Batam Pos dan Harian Lantang. Sehari-harinya dia bekerja sebagai wartawan di Riau Pos Grup. Bermastautin di Pekanbaru.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…