Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Gampang Prawoto

http://sastra-indonesia.com/
BOJONEGORO I

aku,
rindu kemolekan
sejarah tanpa relief dan prasasti
atau musium yang dipaksakan
walau kadang sekedar basa basi

aku
kenang belai dentuman larung
kemakmuran waktu merintih
rintih upeti tanda kesetiaan
walau kadang sekedar basa basi

aku
ukir bentangan hati di tanah kapur
peluh rerimbunan jati melambai kasih
pengembala tertidur diatas seonggok jerami
tanpa sebilah kursi

aku
terbayang lenguh wajah malawapati di langit
bojonegoro, mengerat butiran asap cerutu
tembakau tak bersemi musim
rintih senyum kuning sang dewi tersipu
riuh mengalir ombak di sudut menara pengharapan

aku
terbenam pada miniature
bungalow, bandara, lapangan golf
jalan tol
tanpa nama, tanpa alamat, pada sebuah etalase
yang menempel disela sela fosil gigimu

Pejambon, 15 Agustus 2007



BOJONEGORO II

senja abu abu masih
masih menggelantung di kotamu
kata
reformasi pernah aku baca di ponten
terminal lama persis searah senja
kencingku mencari lembah lembah
lembab tak bernalar

sedang apa kawan !
sapa sekawanan lalat diatas
bekas pembungkus rujak lontong
lalat itu bersiul, penyelaras ruh
kata sumbang dan nada fals saat bernyanyi
reformasi…, reformasi…, reformasi…
entah berapa kali, mirip lantunan
syair calo penerimaan pegawai negeri.

selang rentan tanpa waktu
segerombolan lalat mengerumuni amis pekat
batang lonjor setengah karatan
pipa kering yang entah akan basah
oleh bekas bekas kaki putih “Tom and Gerry”
sepahan uban yang luput dari saputan handuknya.

lalat itu masih menjilat sayapnya
terbang dan hinggap di tempat kuyup
sebasah bendungan bengawan solo
tiba – tiba
buncit perutku melilit karena lalat entah
ponten terminal baru mengulurkan senyum wangi
bersih mengulun harum, tanpa coretan setitik
kata diantara kalimat keresahan
sekuat tarikan nafas, sembari mendongak
eeeeek……eeeeek……
“sesudah reformasi harap disiram kembali”

kalimat itu menempel ketat diselangkang saat
kubersihkan kotoran dekat kemaluanku

Pejambon, 17 Agustus 2007



BOJONEGORO III

aku jala matahari
aku ikat diatas langitmu

“Jer Kerta Raharja Mawa Karya”
mengangkasa membisikkan binar kasih
diantara celah kota, menerobos ayunan
daun daun jati menghangatkan
perdu yang enggan menyebutkan
namanya

gemericik onomatupe cakrawala
seindah pandangku menginjak
namamu, “asri” terkenang
“bangkit” menantang

kenangan indah menantang
tanpa menyimpan bersit harum melati
ronce penghias rambut setyowati

taman – tirta – wana – wisata
tanpa hutan, gua lawa
tinggal baunya, kayangan api
yang merana atau gunung pandan
secantik gendrasari lugu
tanpa pupur dan gincu

matahari tetap diatas otak
otak dekilmu meleleh deras
menjilma sawah, kapling tanah
dan rumah rumah mewah, orgasme
mencair bersama sempalan iga
pecahan hati
simpanan
simpanan
mu

Pejambon, 09 September 2007



BOJONEGORO IV

tiga dua sembilan, ikut
pasti keluar angka ramalan
mimpi merah kuning hijau dan putih
masih berserakan diatas meja
panjang penjual togel

merangkak menjilat mimpi
menapak angin sejauh keriput
asa memanggil, panggil nafasmu
telapak telapak kaki meranggas pilu
antara baureno padangan
jemari tangan basah kuncup bening
bersemi kedewan sekar
percik peluh kerut dahi kau lewati
masa kering dalam ingatan

lirih senyum kemarau
menghias jejal penggalan desah
basah riuh deret pompa pompa bensin
sambil sesekali melirik engahan kata
“hati – hati disini sering terjadi kecelakaan”
“hati – hati jalan berlubang”

gerimis dari setengah hujan dan hati
hanya jeruji pagar membasah
rintik beranda rumahmu
tiga ratus dua puluh sembilan
slumbung slumbung air kehidupan
berevolusi, air mata tenggelamkan kota
dengan kata

“temaram” pernik lampu tepian jalan
bandar bandar togel masih
rajin tawarkan ramalan ramalan
pengharapan “menyok rasa minyak”
oles pada ujung pisang raja sebelum lumat
lumer, muncrat kering menjadi ledre

tiga dua sembilan
lalu berapa ?

Pejambon, 20 September 2007



BOJONEGORO V

selamat !
igauan sunyi menelusuri embun bisu
malam ingus membasahi bantal
peraduan menggelar gugusan peta basah
pulas menyeruak arsiran hitam tergopoh
ayam membagikan kokoknya.

guratan kanvas bengawan solo
meninggalkan aliran, air menggenang
mengenang prahu prahu melewati pintu
bocah kecil mendorong ikatan tali
batang pisang bersama “teman sepermainan”
mengayuh “bungkusan” nasi basah
keringat dermawan kepengungsian
pengungsian

cat airmu tertumpah pagi
menjadi “obsesi” keremangan
kegamangan warna terang, gelap
atau transparan candikala senja
gradasi menoreh irak atau las vegas dari ujung
ujung kuas “A” tak bertulang

“selamat ulang tahun tiga tiga kosong ”
angin tiup lilin dengan udara tanpa hawa
“bingkisan” tangker memasuki pintu
cerobong asap dapur persemaianmu
tanpa jendela katanya
semoga
“pengungsian” tubuh nihil “pengasingan”
walau pendidikan dan kesehatan cengkeh yang dikeringkan
kotaku tetap mercusuar dunia
maya

Pejambon, 21 September 2007



BOJONEGORO VI

airmu
menggenang
padi padi bersujud
pada hamparan sawah ladang
rumah rumah pada permandian suci
persemaian agung, memenggal jalan
tanpa jala dan jarring, perkampungan makam
tertanam makam

air airmu
mengenang
tenda tenda pengungsian
nasi-bungkus gatal-gatal dan diare
beras berselimut gelaran tikar pandan dan layar
terkembang, menyusuri denah denah kemiskinan
pada peta kantong kantong
politikus

kencang laju bendera kibarkan bisik
bisikan angin kemesraan
airmu
terhempas badai mi-mi instan
airmu
menyurut
perahu perahu karet menyusut
kandas diatas hamparan beras
beras dalam gudang

masgampang plat”S”
Januari 2008



BOJONEGORO VII

bim… salabim…!
abra… kedabra…!

beribu kuping
memajang nadi tanpa figura
panjang terdengar kumat kamit
pembacaan bait bait
mantra

berjuta pasang lentera
mata terketuk membuka helai daun
daun pintu kering telanjang
tanpa derit dan derita

hipnotis tanpa kuas
bermain imaji sedalam biru
birahi pengharapan cinta
pada lembar kanvas
tak berbingkai

berderet
berjajar parade ilusi
menggantung sket pada sketsel
sketsel pameran bersama
teman dan tema

“Lukisan Janji Bermeterai”

Agustus 2008



BOJONEGORO VIII

anak anak
telah dibesarkan oleh waktu
gedebog pisang menemani bermain
bola di sore menjelang senja

lupa akan ingus
yang diusapnya dengan lengan
kiri, kering di sudut
sudut bibir mungil lucu
lugu tanpa sehelai pemanis
sebutir penyedap
rasa

anak anak
lupa akan waktu
bola plastik sebesar melon
berlari membisikkan dengus
perlawanan, tanpa alaskaki
wasit dan hakim garis
beradu garis

anak anak lupa
tendangan keras sejauh
melempar luas tanah tanah lapang
sawah dan ladang
anak anak lupa
bolanya sebesar semangka
tanpa biji

September 2008



BOJONEGORO IX

malam telah bercengkerama dengan gulita
dari igauan igauan iratan bambu
mencoba tawarkan pagi
walau setengah dalam gadean
dan seperempat menunggu
tebusan

“serabih”
tawarkan sinar keemasan
menyapa hari dalam kegelapan
menerobos daun daun semi
ranting ranting basah karena tangis
malam memasuki pendhapa
menghampiri
penjual gethuk atau jamu gendhongan
“lalu”
kaki lima, asongan dan lesehan
“perhatian !”
istirahat ditempat…., jalan !

penjual lontong
tersenyum puas, blantik sapi
cekikikan

Oktober 2008



BOJONEGORO X

fosil
situs
kubur kembali
“heboh”

minyak
menyok
ayo digali
“matoh”

“331”
kode kode
ramalan buntut
togel marak kembali

seribu
masuk bui
semilyart , hebat, selamat !
“kiamat”, sidang
ditunda !, palu hakim tertukar
kethog dalang

Oktober 2008

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com