Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Kedung Darma Romansha

http://www.lampungpost.com/
Gerimis
Buat E.K

Gerimis menetes
Di ladangku yang basah
Oleh rindu.
Kucangkul namamu berulang-ulang
Seperti bapak setia pada ladang
Dan ibu yang tak pernah bohong
Pada bumbu masakan.
Ah, kapan kau akan belajar jadi ibu?
Jarak menyuburkan tiap-tiap kesepian
Dan kini kita sepakat pada hujan
Yang lebat di jantung kenangan.

Pangkal Pinang, 2009



Tak Habis Kata
Kepada WS Rendra

Di agustus yang kumuh
Kita akan sama menertawai lelucon ini:
Puisi tak lebih dari jamuan makan malam
Sementara lambung mereka mengepulkan asap kepundan
Menggumpal di langit, pecah jadi hujan
Airmata, airmata, airmata siapa?
Orang-orang lupa jalan
Pulang, pulang, pulang…
Kita dipulangkan kebohongan
Pecahkan semua botol-botol lalu tinggalkan
Kesadaran mesti diberi jalan
Agar puisi tidak berhenti dalam pikiran.

Sanggar Suto, 2009



Rindu Melompat dan Teotteblungteotteblung

Hujan pun hilang ke dalam malam
Katak-katak melompat dan bersuara
Teotteblungteotteblung
Seperti memanggil-manggil namamu.
Sepi menggenang dalam sukma
Berklebatan wajahmu di kaca.
Kutangkap-tangkap wajahmu yang licin
Tertangkap juga sunyiku yang dingin.

Sanggar Suto, 2008



Dongeng Pengantar Tidur

Ini cerita sembunyi di rumpun bunga kata-kata.
Orang-orang berkacamata
Siapa yang melihat siapa yang buta sukar diterka.
Ini negeri mengigau sepanjang tahun
Sawah ladang kering
Hutan-hutan garing
Ditinggalkan oleh kebohongan masa silam
Tuhan tinggal nama di sepi malam
Kitab-kitab suci jadi barang murahan
Siapa yang melupakan siapa yang dilupakan?
Orang menciptakan surga di kepala
Neraka hanya dongeng untuk menakuti anak manja.
Di sini segala kemungkinan terjadi
Karena mereka menciptakannya sendiri.

Sanggar Suto, 2009



Menyebrangi Bukit-bukit Puisi di Bawah Gerimis

Menyebrangi bukit-bukit tua di bawah germis
Adalah mengenang kesepian demi kesepian
Yang belum kita bicarakan satu sama lain
Belum pula kita bungkus dengan
Sekepal nasi kucing atau seteguk teh anget,
Mungkin kopi yang hampir dingin.
Di tengah perjalanan
Aku bagai dikepung ribuan pertanyaan
Tentang kata-kata yang menjelma mantra
Kupu-kupu yang menjelma rajawali
Juga langit yang tiba-tiba runtuh di mata.
Menyebrangi bukit-bukit tua
Di bawah gerimis
Adalah menyebrangi bukit-bukit puisi
Di bawah tangis.
Tapi penamu terus saja bergumam
Menyebrangi kesepian demi kesepian.

Dieng-Jogja, 2007

—–
Kedung Darma Romansha, kelahiran Indramayu, 25-02-1984. Alumnus Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, UNY. Karya-karyanya kebetulan termuat di beberapa media massa dan antologi bersama. Beberapa kali mendapat penghargaan di bidang cipta puisi dan baca puisi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…