Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Tengsoe Tjahjono

http://sastra-indonesia.com/
pipit di jendela

pipit di jendela, entah datang dari mana
cuma langit mengirimkan kepak
sayap memerah oleh matahari

pipit di jendela, tak pernah menyisakan cericitnya
matanya capek menghitung jejak awan
tubuhnya koyak terpukul palu waktu

“aku ingin istirah dari perjalanan panjang ini”
paruhnya tak terbuka, retinanya bicara
telaga yang keruh oleh kecipak kepiting

lalu kutebarkan remah-remah roti dari oven abadi
adonan jantung dan hati, ditaburi gelugut gula yang legit
“inilah hidupku, cucuklah selalu, usung dalam petualanganmu”

pipit di jendela, selalu tinggalkan jejak
pada korden ungu api



aku dengar gema takbir dari surau

aku dengar gema takbir dari surau
gigil angin mengiris sepi jantung
dermaga itu begitu jauh

kapal lama kembali pulang
angin laut terjebak beliung karang
berpusing di bawah langit kelabu

tak ada tempat singgah
garam dan cuaca rebah pada jiwa
koyak tanpa jahitan

o, betapa agung dan sekaligus fana ini bumi
pada ombak dilepaskan gelisah
teredam oleh gemuruh malam



pedro, 120 menit kutelusuri jejak lalu

/1/
kamu tahu, aku kemana sesubuh ini
dirajam ruang bawah sadar
membelah pagi samar

jalan dan persimpangan
jembatan, sawah dan ladang-ladang
berebut menghuni retina
temani ayun gelisah

roda berpusing, menemu tapak lalu
menuju pulau seberang
bilik senyap yang absurd

/2/
dingin menombak tulang
jalanan jauh dari hingar
tambah sepi
sebutir kerikil tak bisa menepi

/3/
pedro, aku berputar-putar pada ruang hampa
segalanya suwung, tanpa angin
tanpa cuaca

tidakkah ada waktu untuk pulang
melukis percumbuan di dinding
putik dan benang sari

langit tanpa mega-mega
tanpa pula gerimis
kapan kucecap beku embun

pedro, aku melayang
namun bukan terbang
sayapku patah
sejak semalam

/4/
sungguh ini perjalanan berdua
namun, aku cuma sendiri
asing…



suatu hari dalam sebuah tempurung

/1/
tak ada jendela, tak pula pintu
kabut mendinding menulang ngilu

cuma tembok mengubur gelisah
menjadi sungai beku

oh, jeruji besi seinci dari tubuh
tegak berdiri tak tersentuh

/2/
pemburu itu rubuh dalam tualang
hanya kompas di jantung menemu jejak kekasih
lunglai di tepi kali

pada angin ia berpesan
jalan peta yang kabur oleh hujan
kota-kota ditandai dengan belati
di simpang jalan terkulai

bukit itu
tak sampai-sampai

/3/
segalanya gulita
kotak pandora
tanpa peta

kalender tak juga terbaca
ia hanya menduga
jejak kemarin yang ada

thalia, hanya matamu
bercahaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…