Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2011

Sajak-Sajak Fikri MS

http://sastra-indonesia.com/
Nafsuku Tergeletak
Kepada Nurel Javissyarqi

Di beranda waktu
Ketika hujan habis dimamah angin
Kubaca Kitab Para Malaikat

Mengunyah aksara demi aksara di dalamnya
yang terasa pucat di lidahku

Udara dingin bertandang mengetuk pintu
Mengantarkan seorang perempuan kepadaku
Wanita itu berkerudung jingga

Wanginya bergairah menyapaku
Lalu sukmaku mempersilahkan ia masuk

Aku gelisah memperlakukannya
Sebab tiada kue atau minuman di meja makanku

Sementara kitab yang masih kupegang seakan-akan menggodanya
Ia menatap
Bertanya, matanya berkaca-kaca

Aku segan untuk membalas
Ia mendekat aku hanya tersenyum

Wanginya berbisik lembut
Kusudahi bacaanku menatapnya
Ia tiba-tiba menghilang seakan masuk ke liang sajak
Tanpa salam dan pesan
Hanya desah yang terlepas

Lalu nafsuku tergeletak di teras beranda
Digumuli sangsi.

September, 2011



Kegagahan Para Filsuf

Sementara para demonstran berunjuk rasa
Merubah warna
Putih pekat menjadi merah

Lalu-lintas kata dalam kota padat gemuruh
Dan lampu-lampu malu bertanya
Kep…

Sajak-Sajak Goenawan Mohamad

http://sastrakoran.wordpress.com/
Pada Album Miguel de Cavorobias

Kuinginkan tubuhmu
dari zaman
yang tak punya tanda,
kecuali warna sepia.

Pundakmu
yang bebas,
akan kurampas
dari sia-sia.

Akan kuletakan sintalmu
pada tubir meja:
telanjang
yang meminta

kekar kemaluan purba,
dan zat hutan
yang jauh, dengan surya
yang datang sederhana.

Akan kubiarkan waktu
mencambukmu,
lepas. Tak ada yang tersisa
dalam pigura

juga api yang tertinggal
pada klimaks ketiga,
juga para dewa, juga kau
yang akan runduk

Kematian pun akan masuk kembali
kembali, kembali…
Mari.
Kuinginkan tubuhmu

dari zaman
yang tak punya tanda
kecuali
warna sepia

1996



TIGRIS

Sungai demam
Karang lekang
Pasir pecah
pelan-pelan

Gurun mengerang: Babilon!
Defile berjalan

Lalu Tuhan memberi mereka bumi
Tuhan memberi mereka nabi

Antara sejarah
dan sawah
hama
dan Hammurabi

Setelah itu, kita tak akan di sini

Kau dengarkah angin ngakak malam-malam
ketika bulan seperti
susu yang tertikam
ketika mereka memperkosa
Mesopotomia?

Seorang anak berlari, dan seperti dulu
ia pun mencari-cari
kemah di anta…

UNTUK KEPULANGAN WS RENDRA

Nurel Javissyarqi
http://sastra-indonesia.com/

”jika sang penyair benar-benar meninggal
tak sia-sialah segala perjuangannya
maka damailah di sisi-Nya”

Meski pun tidak pernah bertemu
tapi kurasakan degup jantungmu

dari balada orang-orang tercinta
kau kenalkan tari-tarian jiwamu

aku merambah masuki nalurimu
yang senantiasa girang perkasa
tampan penuh dinaya pesona,

sedari bulir-bulir air matamu
membanjirlah cahaya rasa

oh…
aku merinding menulis ini
diserang demam menggigil
entah dari mana datangnya

kau seakan menghampiriku
berwajah tegar lantas buyar, tapi
masih menungguiku sedari dekat
saat aku menuliskan catatan ini

aku melihat kau tersenyum
lalu mengelus-elus rambutku
atau ini hanya perasaanku saja

atau semua para penulis sajak
di tanah air ini merasakan pula

aku digetarkan sentuhan aneh
lebih ganjil dari sebelumnya
lebih gaib dari yang terbayangkan,
aku merasa, dan turut merasakan

sebab jikalau suatu negara
tanpa seorang pun penyair
yang mampu bersuara lantang
bukanlah negeri yang adiluhung

kau tidak sekadar penyair,…

Sajak-Sajak Mega Vristian

http://regional.kompas.com/
Namaku Leung Lai ching

Namaku Leung lai ching
aku lahir di Hung Hom, Hong Kong
orang tuaku penjual bunga-bunga kematian
rumahku dekat pembakaran mayat tapi harum
sejak kecil aku diajarkan makan dengan sumpit
bangun tidur setelah cuci muka dan sikat gigi
kubakar dupa untuk mengingat nenek moyang

mataku sipit kulitku putih
dibakar matahari pun akan kembali putih
kerjaku cuma sekolah
menjalani berbagai kursus agar pintar dan selebihnya bermain
membantu membersihkan rumah aku tak pernah
sebab ada pembantu yang bersamaku
anak-anak di negaraku hampir semua begitu
para ibu lebih suka bekerja dari pada mengurus anak dan rumahnya

– setiap pulang kerja ayah menggerutu, tak ada pembeli
bunga-bunga hilang aroma gugur layu

(Hong Kong)



Imlek

Menandai pergantian tahun
aku dan nenek Leung shiu Nam
dihajar kesibukan
rumah dicuci bersih agar sial tahun lalu
hilang tak terulang
bunga-bunga bermekaran
berdamping sesaji untuk para dewa
kwaci, gula-gula siap di meja
sebentar hari lagi kerabat saling berdata…

Sajak-Sajak Emha Ainun Nadjib

http://sastra-indonesia.com/
TEMBOK DAN GELOMBANG

(1)
sekuat-kuat gelombang
harus lebih kuat tembok
karena puncak kekuasaan
adalah ideologi gembok

tembok didirikan sekukuh-kukuhnya
agar gelombang terbentur sia-sia

gelombang direndam
menjadi ombak semilir

gelombang itu alam
tembok itu teknologi
kekuasaan timbul tenggelam
sedang jiwamu abadi

(2)
berhentilah memenjaraku
sebab jeruji besi dan sel pengurungku
terletak di dalam dadamu sendiri
tanpa bisa kemanapun kau pindahkan

kalau kau usir
kau pikir kemana aku hendak pergi
sedang lubuk jiwamu itulah alam semestaku
aku berumah di keremangan jiwamu
bilikku tersembunyi di balik kesunyian nuranimu

jadi berhentilah mendirikan tembok-tembok
karena toh aku bukan gumpalan benda yang bisa kau kurung
tak usah pula repot membakar dan memusnahkanku
sebab toh hakekatku memang musnah dan tiada

kau sang aku ini gerak atau semacam gerakan
padahal tak kupunyai apapun yang bisa kugerakkan
dan apabila kau jumpai bayangan gerak
pada yang kau sebut aku
hendaklah jelas bagimu bahwa hanya Tuha…

Belajarlah Menjaga Lidahmu Abdiku

Syifa Aulia
http://sastra-indonesia.com/

Saat ini kami tak mau gegabah
bahkan pada perih
yang menyelinap diam-diam
serupa guratan sejarah
yang di bungkam

Sebab telah kembali
kau hujamkan belati
ke dada kami
berulang kali
mengalirkan darah kebencian
di jiwa-jiwa kami

Lidahmu terlalu pedang
yang senantiasa mampu
membunuh rasa hormat
kami padamu
kami meletakkan kepala
di kaki-kaki kami
bukan untuk kalian
injak semaunya

dan perih ini tak akan
kami biarkan

Kami ingin bercanda denganmu
tanpa janji-janji yang membongkar
busuknya
kami memilih di titik hening
sambil menuntaskan teriakkan
yang tertinggal di kotamu

Saat ini kami tidak ingin ceroboh
bahkan pada jalan setapak
menuju gubug tua yang
nyaris roboh
sebab disanalah tersimpan
air mata rahasia
menjadi misteri yang melilit
kepongahan masa depan

Jangan lagi kau usik kami
sebab kami lebih nyaman
di bawah pohon rindang
dengan kaki pincang.

Nb: kalau kalian masih ngeyel saja
mari kita berperkara sebab
bukan dikening manusia lain
kami meludah tapi disinilah.

________
* Puisi ini lahir atas…

Riwayat

Wiji Thukul
- untuk r

sungai ini merah dulu airnya
oleh genangan darah
kakek nenek kami

sungai ini berbuncah dulu
oleh perlawanan
disambut letusan peluru

bangkai-bangkai mengapung
hanyut dibawa arus ke hilir
bangkai kakek nenek kami

bangkai-bangkai jepang mengambang
dibabat parang kakek nenek kami

demi hutan tanah air
ibu bumi kami
gagah berani
kakek nenek kami
menyerahkan riwayatnya
pada batang-batang pohon
sebesar seratus dekapan
pada sampan-sampan lincah
dari hulu ke hilir
memburu dada penjajah

bukan siapa-siapa
kakek nenek kamilah
yang merebut tanah air
tanyakan kepada yang mampu membaca
tanyakan kepada yang tak pura-pura buta
siapa

sekarang
saat aku berdiri di tepi sungai
yang mahaluas ini
kusaksikan hutan-hutan roboh
dan kayu-kayu gelondong berkapal-kapal itu
akan diangkut kemana
siapa punya

riwayat kita pahit di mulut
getir diucap buram di mata
akankah berhenti riwayat sampai di sini

1997

Sumber: http://www.facebook.com/photo.php?fbid=270323872992426&set=at.258429280848552.72283.158632180828263.1355886977&typ…

Sajak-Sajak Amir Hamzah

http://id.wikisource.org/
PADAMU JUA

Habis kikis
segala cintaku hilang terbang
pulang kembali aku padamu
seperti dahulu

Kaulah kandil kemerlap
pelita jendela di malam gelap
melambai pulang perlahan
sabar, setia selalu.

Satu kekasihku
aku manusia
rindu rasa
rindu rupa.

Di mana engkau
rupa tiada
suara sayup
hanya kata merangkai hati

Engkau cemburu
engkau ganas
mangsa aku dalam cakarmu
bertukar tangkap dengan lepas

Nanar aku, gila sasar
sayang berulang padamu jua
engkau pelik menarik ingin
serupa dara di balik tirai

Kasihmu sunyi
menunggu seorang diri
lalu waktu -bukan giliranku
mati hari -bukan kawanku…



HANYUT AKU

Hanyut aku, kekasihku!
Hanyut aku!
ulurkan tanganmu, tolong aku.
sunyinya sekelilingku!
tiada suara kasihan, tiada angin mendingin hati,
tiada air menolak ngelak.
Dahagakan kasihmu, hauskan bisikmu, mati aku
sebabkan diammu.
Langit menyerkap, air berlepas tangan, aku tenggelam

Tenggelam dalam malam,
air di atas menindih keras
bumi di bawah menolak ke atas
mati aku, kekasihku, mati aku!



DOA POYANGKU

Poyangku rata meminta …

Sajak-Sajak Syaifuddin Gani

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/
Pare-pare

pagi letuskan bau buruh
menyembur ke udara subuh
ton demi ton badan dan barang
menumpuk dan mengerang
menghardik dan mengganyang leher dermaga
penumpang dan pencoleng
beradu rayu
sebelum lengking sirine
memanggil

pagi itu
dermaga pare-pare jadi bongkahan rindu
air mata dan sepi jadi bangkai perjalanan

2009



Langit Lalu Rebah ke dalam Mata Dahaganya

sebongkah batubara menggelincir
ke dalam rongga dahaga dadanya
lalu tersungkur ke dalam daging jantungnya

ia mengerang, oh langit kembara
alangkah maharindu pesonamu
oh laut kembar betapa mahabuih gelegarmu
membongkar dobrak pintu fana darahku
oh bumikandung tak jua rampung
dengan seribu sembilu kidung

langit lalu rebah ke dalam matadahaganya
laut lalu menggelegak ke dalam rahimpuasanya

dan batubara itu pecahrekah jadi abu jadi api puisinya

2010



Dua Ribu Tangga Ombak

dua ribu tangga ombak memecah
kegulitaan sunyi
merapikan pakaian kemurungan pesisir
enam pasang cahaya merinding di laut
mengirim musi…

Sajak-Sajak Tosa Poetra

http://sastra-indonesia.com/
Tanggal

Dapatkah menemu isarah pada daun yang tanggal dari dahan bila cuma memungut lalu memasukkannya di tong sampah kemudian dibakar atau didiamkan
tanggal berapa hari ini ? Angka angka-Nya masih sama seperti yang kemaren dibaca bulan dan sama pula untuk esuk dan lusa.
1,2,3 dan seterusnya sampai kembali pada satu dan bulan berlalu tanpa berbuat sesuatu.
Hingga di akhir desember tahun ditanggalkan seperti dahan menanggalkan daun kering.

16 Februari 2011



Bara Hati

Di antara rerintik hujan dan gemuruh Guntur
dengarkan sebait puisi tentang galau
hati yang mendesau seperti angin
menderu di pepucuk bambu

butir butir pasir dan tepung kanji,adakah beda jika tak pernah meraba
air dan api adakah sama bila bara telah menyala
air tak mampu memadam sebelum segala dilumat dibakar
habis dan dimusnah
seperti kayu menjadi abu
seperti besi menjadi debu
dan seperti itu hati lebur menjadi debu

24 Februari 2011



?

Air mata langit mengucur tiada henti menggenang di selokan dan ka…

Sajak-Sajak Mega Vristian

http://oase.kompas.com/
DOA YANG MENCINTA
: Joe Budi Sambodo

Allah, hapuskan ragu di hatiku hapuskan rasa takut di hatiku setelah Kau terbitkan matahari cintaku tuntunlah selalu hatiku tuk berani menyemaikan rindu setitik cahaya bahagia dari perjalanan panjang kehidupan yang penuh luka-luka

Allah, lelaki itu yang mengajakku bangkit lelaki itu yang dengan jemari kasihnya telah memperkenalkan kembali kepadaku tentang sesuatu yang telah lama kutinggalkan lelaki itu yang mengenalkan cinta lewat kasihnya sendiri lewat airmatanya sendiri: seperti embun terasa seperti air wudlu di subuh hari.

Allah, dia, lelaki itu, menyadarkan aku selama ini aku terlalu sombong aku terlalu yakin bisa sendiri sampai akhir dia menanamkan kembali pohon cinta di hati yang kembara di hati yang lelah

Allah, Izinkan aku selalu mencintainya dengan ketulusan dalam suka dan duka sampai batas usia menghadapi terik bersama

atasnama-Mu dan restu-Mu aku kan menggenggam jemarinya

Allah, izinkan kami bahagia berikan kami keb…

Sajak-Sajak Isbedy Stiawan ZS

http://www.suarakarya-online.com/
Kau Tahu

di peluk kelamaku berdiang: hangat?
di peluk sunyiaku menepi: gelisah?
kau tahu pada malam malam aku bagaikan kembang



Ke Mana Pulang

(1)
aku ingin kata kata agar mataku menyala
aku rindu mata buatku tak lagi meraba
tumpahkan rasa untuk-Mu aku puasa

(2)
apa guna sayap jika tak ada kepak
guna apa hati bila gelap memandang-Mu
apakah haus-lapar kusenyumnya pada-Mu?
aku petik senyum itu…

(3)
aku petik tawa yang meranting
aku hempas badai yang berpohon di wajahmu
aku peluk dirimu sebab kucintai-Nya

(4)
usah curiga apakah pahala puasa ini
tak sampai dengarkan gumam haus-laparmu
ke mana pulang jika tak ke Dia?
maghrib membenam wajahmu menawan:
hirup puasmu cintaku!

5-7 agustus 2011



Peristiwa Suatu Pagi

di bangku panjang
di depan televisi pada sebuah ruang masih sunyi
akhirnya kau-aku menulis puisi
tentang persahabatan.
“tapi satu kalimat ini
untuk cinta, dan sebuah ciuman
buat pagi yang masih gairah,” katamu aku
besarkan volume televisi dan sebuah anak k…

Sajak-Sajak Soni Farid Maulana

HU Pikiran Rakyat 7 Agustus 2011
SEBELUM SUBUH

Aku terjaga sebelum cahaya fajar
menyepuh ombak lautan.
Di luar sana hanya kegelapan seluas pandang.
Di tengah rumah di atas tikar pandan
aku dengar lembut suaramu mendaras Al-‘Araf.

Tangki airmataku pecah
Saat kau baca firmanNya:
(Iblis) menjawab, “karena Engkau
telah menyesatkan aku, pasti aku
akan selalu menghalangi mereka
dari jalanMu yang lurus.”

Ya Allah betapa jalan yang terbentang
di hadapan: gelap sungguh,
berdurikan nilai-nilai peradaban.
CahayaMu yang aku harap
adalah sesungguh jalan,
sebaik-baiknya tujuan hidupku
menujuMu. Kau yang bebas
dari kehancuran

2009



TANGAN CINTAMU

Aku terangkat dari dalam tanah, dari dasar kegelapanku:
ketika tangan cintamu sehijau lumut menyapu debu
kegelapanku tanpa ampun. Pucuk alfatihah wangi sudah
lebih wangi dari bunga manapun

2010



MIQAT

Dua lembar kain ihram di tubuhku
menguras tangki airmataku
dalam seah tambiyah.
Matahari tepat di atas ubun-ubunku.
Para peziarah berjalan khusyu.

“Aku datang kepad…

Sajak-Sajak Faisal Kamandobat

http://www2.kompas.com/
Tatahan Laut

anak bumi tatahan laut
kalap lagu menembus
gerbang petang langit hangus
bulan mengapung dalam kalbu
riang puja menyentuh
lidah dalam impian pelarian
tersiksa melawan kenikmatan
dalam bayangan
angin menghening perlahan
bibir pantai mengilhami
mencari laut dalam sendiri
mengusir berhala dari hati
piala kemerdekaan abadi
di alun-alun nyanyi
di ubun-ubun sunyi
kata-kata saling menggilai
mengelak tersesat dalam lari
mimpi sia-sia dicari
pasir pantai menghapus jejak-kaki
tak ada jalan kembali
rumah abadi hati sendiri
tinggal di sana dikerumuni ilusi
memberi dan merobohkan arti

2001



Malam Berputar

terang bulan cahaya pinjaman
surya di seberang kelam
lelap dunia menyimpan nama-nama
katup pintu-jendela merogoh iba
gemintang lagu jalanan lampu
pusat-pusat kenangan pancarkan rindu
angin menebar nafsu di kalbu
ladang penghidupan musim tanaman
serapah puja menggenang diam
kegelapan dinding ratapan
luka nasib diperingan impian
sungai medan ikan-ikan bersebadan
air …