Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Soni Farid Maulana

HU Pikiran Rakyat 7 Agustus 2011
SEBELUM SUBUH

Aku terjaga sebelum cahaya fajar
menyepuh ombak lautan.
Di luar sana hanya kegelapan seluas pandang.
Di tengah rumah di atas tikar pandan
aku dengar lembut suaramu mendaras Al-‘Araf.

Tangki airmataku pecah
Saat kau baca firmanNya:
(Iblis) menjawab, “karena Engkau
telah menyesatkan aku, pasti aku
akan selalu menghalangi mereka
dari jalanMu yang lurus.”

Ya Allah betapa jalan yang terbentang
di hadapan: gelap sungguh,
berdurikan nilai-nilai peradaban.
CahayaMu yang aku harap
adalah sesungguh jalan,
sebaik-baiknya tujuan hidupku
menujuMu. Kau yang bebas
dari kehancuran

2009



TANGAN CINTAMU

Aku terangkat dari dalam tanah, dari dasar kegelapanku:
ketika tangan cintamu sehijau lumut menyapu debu
kegelapanku tanpa ampun. Pucuk alfatihah wangi sudah
lebih wangi dari bunga manapun

2010



MIQAT

Dua lembar kain ihram di tubuhku
menguras tangki airmataku
dalam seah tambiyah.
Matahari tepat di atas ubun-ubunku.
Para peziarah berjalan khusyu.

“Aku datang kepadaMu
aku penuh panggilanMu!”
Ya Allah berapa jarak lagi dari Bir Ali
langkah ini menuju tanah suciMu,
mencapai jantung ampunanMu

2010



JABAL RAHMAH

Di tengah-tengah padang Arafah
di Jabal Rahmah:
ada kisah Adam-Hawa
dipertemukan Tuhan
setelah sekian waktu terpisah
sejak keduanya diusir dari sorga.

Dalam putaran waktu
airmataku bedah di situ.
betapa di padang gersang ini
Rahmat dan ampunanNya
di hari Arafah: Ia tebar
ke sesungguh hati yang tunduk
dan patah kepadaNya

2010



HARI ARAFAH

Inilah hari yang dirindukan itu
hari Arafah. Pintu-pintu langit dibukaNya.
“AmpunanMu yang Allah
yang hamba mohon dariMu!”
begitu hatiku berkata, Cahaya matahari
bagai mata tombak yang menyala,
menusuk ubun-ubunku.

Kain ihram basah sudah
tubuhku amis bagai ikan laut.
Yang bicara hanya airmata:
ketika segala dusta juga dosa
menampakan dirinya
serupa anjing lapar dan liar
memangsa diriku dalam kelam.

Sungguh inilah hari Arafah
hari yang dirindukan itu.
Aku datang kepadaMu
dengan segala adaku
yang fana. Fana

2010



LONTAR JUMRAH

Dengan menyebut namaMu
dan demi keagunganMu, Ya Allah
aku lontar jumrah
dengan sejumlah kerikil yang aku pungut
di gelap malam di Muzdalifah

Aku lontar jumrah dengan sesungguh hati
seperti melempar batu ke arah diriku sendiri
yang kotor dan berdebu, Lebih kelam
dari tampang Iblis yang begitu mahir menyaru
jadi orang suci, tawarkan nikmat kehidupan
palingkan arah langkah kakiku menujuMu.

Sungguh airmataku tak terbendung
bedah dan bedah lagi. Cahaya pagi
hangat sungguh. Seah takbir dan talbiyah
mengiringi setiap langkah kaki hambaMu
sejak keluar kemah di Mina
hingga kembali dalam kemah
tanpa daya. Tanpa daya

2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…