Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Isbedy Stiawan ZS

http://www.suarakarya-online.com/
Kau Tahu

di peluk kelamaku berdiang: hangat?
di peluk sunyiaku menepi: gelisah?
kau tahu pada malam malam aku bagaikan kembang



Ke Mana Pulang

(1)
aku ingin kata kata agar mataku menyala
aku rindu mata buatku tak lagi meraba
tumpahkan rasa untuk-Mu aku puasa

(2)
apa guna sayap jika tak ada kepak
guna apa hati bila gelap memandang-Mu
apakah haus-lapar kusenyumnya pada-Mu?
aku petik senyum itu…

(3)
aku petik tawa yang meranting
aku hempas badai yang berpohon di wajahmu
aku peluk dirimu sebab kucintai-Nya

(4)
usah curiga apakah pahala puasa ini
tak sampai dengarkan gumam haus-laparmu
ke mana pulang jika tak ke Dia?
maghrib membenam wajahmu menawan:
hirup puasmu cintaku!

5-7 agustus 2011



Peristiwa Suatu Pagi

di bangku panjang
di depan televisi pada sebuah ruang masih sunyi
akhirnya kau-aku menulis puisi
tentang persahabatan.
“tapi satu kalimat ini
untuk cinta, dan sebuah ciuman
buat pagi yang masih gairah,” katamu aku
besarkan volume televisi dan sebuah anak kunci
di tanganmu menari-nari
seperti digerakkan dari dalam kamar
yang samar penuh dengkur”selamat pagi,”
katamu di depan pintu
sebagai penanda hanya pagi yang tahu

hotel prada palembang, 16.07.2011



Ingatan itu:
budisantoso budiman

kubawa debur musi ke peraduan
agar kulelapkan wajahmu
yang sempat melarung dan melambai
tadi saat aku duduk di paling tepi
dan kerlip lampu juga sengau jukung
seperti ingin menarikku
“mari berdekapan, mendekaplah: aku musi
yang pernah kau kata. akulah musi
yang telah terpatri oleh tangan soekarno! ”
kata jukung lalu benteng besak
ingin membujukku: masuk ke halamanku,
bergambar atau tancapkan ikrar
“aku ingin mengecupmu lagi,
sebab aku sudah meminum cukamu…”
pedas di lidah hangat di tubuh
“inilah nusantara, kujaga hingga mati
marwahnya…” ucapku menghadap
benteng besak: aku bawa ingatan itu
ke peraduan ini malam…

plmbng, 15/07/11



Berkalung Purnama-dzafirah
adeliaputri isbedy

engkau bangunkan pohon
engkau datangkan gerimis
selepas adzan jumat yang paling semangat,
menyambut tiap yang datang
bersama puluhan tangisan setelah itu kau akan
tersenyum bahkan terhadap cobaan
obormu dari minyak kasihku
demi menjaga marwahmu
demi jumat paling hormat
kau kais waktu yang melesat
ingin kau dekap lekat sebagai perempuan
yang tiba di siang yang cahaya
sebelum hadir gerimis
sesudah tangismu melaju di depan berpalu
kekuatan berkalung purnama…

1 Juli 2011

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…